Saturday, March 1, 2014

10:48 PM
1
Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia. Pepatah-pepatah itu tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang menurut saya, tak pernah usang oleh waktu. Dan ini saya yakini dengan sepenuh hati. Tentu saja, karena buku harus menjadi sahabat dalam hidup kita. Buku juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dengan buku kita bisa melihat sisi lain dari dunia kita ini yang ternyata sangat bermacam-macam bentuknya. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Beberapa sifat buku yang menurut saya patut menjadi alasan untuk kita mencintainya adalah pertama, karena buku selalu up to date. Walaupun buku telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun, tapi buku selalu menyimpan informasi yang akurat sebagai media untuk mengetahui data peradaban yang ada saat itu. Kedua, karena buku selalu kaya dengan imajnasi. Membayangkan apa yang tertulis di buku membuat kita seperti membangun imajinasi versi pikiran kita sendiri. Mengajak diri kita untuk berkreasi dengan menenggelamkan diri dalam alur atau setting yang terdapat dalam buku. Itu menjadikan kita belajar untuk mengerti dunia lain yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh kita. Dan ketiga, dengan membaca buku dapat membuat kita tergerak untuk menulis. Mendeskripsikan sesuatu hal menurut kacamata kita sendiri. Menulis membuat kita bebas menciptakan dunia yang ingin kita bangun. Kita bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan. Dan menulis adalah sarana yang paling efektif dalam mengungkapkan perasaan. Juga bisa menawarkan pemikiran baru pada orang lain.
Buya Hamka, seorang penulis dan ulama besar Indonesia pernah berkata kepada muridnya : “Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta siapkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.”
Membaca adalah salah satu modal kita untuk semakin bisa mencintai ilmu.
Imam Ali berkata : “Tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan : sehat, sakit, mati, hidup tidur, dan bangun. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya adalah akibat ketiadaan ilmu. Sehatnya hati adalah berkata keyakinan, sakitnya adalah keraguan. Tidurnya hati adalah kelalaian, dan bangunnya hati berasal dari dzikir yang dilakukan.”

Membaca tidak mengenal usia dan waktu. Tidak ada istilah berhanti untuk menggali ilmu. Seandainyapun kita diberitahukan bahwa besok akan mati, maka kita harus tetap terus belajar.
Kunci agar kita selalu mau belajar adalah jangan pernah menganggap diri kita selalu pintar. Anggaplah diri kita selalu kurang. Sehingga, kita akan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Ingatlah, bahwa setiap hari ilmu di dunia akan selalu bertambah dan berubah mengikuti perkembangan jaman. “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq : 6-7). Dengan banyak belajar, maka kita bisa membedakan mana yang baik untuk kita ikuti dan mana yang tidak semestinya kita jalani.
Dan bukankah Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat? Maka tak ada alasan lagi bagi kita sebagai umat muslim untuk terus menerus berusaha mencari ilmu yang bermanfaat dengan sebanyak-banyaknya. “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keungggulan bukanlah suatu perbuatan melainkan sebuah kebiasaan. (Aristoteles).
Dari Mua’adz bin Jabal r.a, ia berkata : “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengerjakannya kepada orang yang belum mengerti adalah sedekah, mengingatkannya kepada orang yang sudah mengerti adalah taqqarub. Ilmu adalah teman di waktu sepi, kawan dalam pengasingan, penunjuk jalan kesenangan, penolong dalam kesulitan, hiasan di tengah-tengah kawan, dan senjata dalam menghadapi musuh. Ilmu dapat menghidupkan hati dari kebodohan, pelita dari kegelapan, kekuatan dari segala kelemahan, sarana untuk mencapai derajat orang-orang yang baik sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat. Ilmu merupakan pemimpin dan amal adalah pengikutnya.”
Maka, teruslah menjalin persahabatan yang erat dengan buku. Rasakan kehadiran mereka sebagai jendela untuk kita melihat masa depan di hadapan. Jadikan keberadaan mereka sebagai jembatan untuk kita berusaha menjadi makhluk Allah yang mencintai ilmu. 

Sebuah transkripsi yang disajikan dalam sebuah buku yang berjudul ”Anthropology off the Shelf” Speaking Truth to Power with Books. Dalam artikelnya ini Howard zinn membuka tulisannya dengan untuk apa orang-orang menulis? Apakah hanya sebatas keprofesionalan semata atau hanya untuk bukunya terbit? Membuat pembaca penasaran dengan apa yang ada di dalam buku tersebut.  Orang-orangpun bertanya apa yang membuamu seperti ini? Dia menjawab bahwa bukulah yang membuatnya seperti ini. Dengan kesadaran sosial yang tinggi. Bukulah yang membuatnya berbeda. Dengan membaca buku bisa merubah paradigma seseorang, merubah pemikirian,  bisa mengetahui hal yang tidak tahu menjadi tahu. Bahkan bisa merubah sejarah. Semuanya bisa dirubah melalui buku.
Arti dari Speaking Truth adalah  berbicara tentang kebenaran suatu keadaan yang sebenar-benarnya tanpa ada pembelokan cerita atau penyembunyian cerita dalam suatu naskah. Apalagi di latarbelakangi oleh suatu kepentingan birokrasi. Speaking Truth to Power adalah sebuah frasa yang diciptakan oleh Quaker selama di pertengahan 1950-an. Ini adalah panggilan bagi Amerika Serikat untuk berdiri teguh melawan fasisme dan bentuk lain dari totalitarianisme, yang merupakan frase yang tampaknya membuat bingung hak politik.

Howard Zinn (24 Agustus 1922 - 27 Januari 2010) adalah seorang sejarawan Amerika, penulis, dan aktivis sosial. Dia adalah seorang profesor ilmu politik di Boston University selama 24 tahun dan mengajar sejarah di Spelman College selama 7 tahun. Zinn menulis lebih dari 20 buku, termasuk karya terbaik dan terlaris yaitu A People's History of the United States. Dia menulis secara ekstensif tentang hak-hak sipil dan gerakan anti-perang, dan sejarah ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Artikel tentang Speaking Truth to Power with Books awalnya menceritakan pengalaman penulis yang pertama kalinya ia mendapatkan buku di jalan, kemudian buku tersebut ia baca dan akhirnya buku tersebut bisa mempengaruhi hidupnya dan bisa merubah pemikirannya. Ada satu kalimat yang membuat saya tercengang adalah seseorang yang menguasai teks akan bisa mengubah sejarah atau memutar balikan fakta. Inilah yang dilakukan Howard Zinn dalam tulisannya bahwa penemu benua amerika sebenarnya bukan christopher columbus. Ia berani mengungkap sejarah yang sudah diyakini oleh warga amerika tersebut bahwa columbus adalah penemu benua amerika.
Awal mula Christoper Columbus melakukan perjalanan laut adalah dia dituduh memperkosa putri salah satu bangsawan Spanyol yang masih berusia 13 tahun. Pengadilan tidak bisa memutuskan ia harus di hukum mati. Terjadi pada tahun 1491 dan seorang Pastor bernama Pastor Perez menengahi atas nama Columbus dan memohon dengan Ratu Isabella untuk mendanai Columbus.  Jika ia berhasil akan mampu untuk mengkonversi penduduk asli Kristen, sehingga akhirnya Ratu Isabella mengirimnya dalam misi mencari benua baru (saat itu tujuan utama adalah mencari India) dan dengan harapan, Columbus tidak akan bisa pulang kembali.
Saat akhirnya Columbus mendarat pertama kali di Benua Biru Amerika,  ia masih mengira inilah tanah India. Saat itu para penduduk asli menyambut Columbus dengan gembira. Namun, sebaliknya apa yang ditulis Columbus dalam jurnalnya?
“Mereka membawakam kami burung beo, bola kapas dan tombak dan banyak hal lainnya sebagai hadiah.  Mereka rela memperdagangkan segala yang mereka miliki … Mereka tidak memanggul senjata, padahal saya menunjukkan pedang. Mereka tidak memiliki besi. Tombak mereka terbuat dari tebu … Mereka akan dengan mudah kami taklukan menjadi budak…. Dengan lima puluh orang saja, kita bisa menundukkan mereka semua dan membuat mereka melakukan apapun yang kita inginkan.”
Columbus juga menulis, “Saya percaya, bahwa mereka akan dengan mudah menjadi orang Kristen buatan, karena sepertinya mereka tidak beragama.”
Dalam catatan hariannya, Columbus mengakui, bahwa saat ia tiba di Hindia (ia saat itu masih percaya telah menemukan India, bukan Amerika), ia menyiksa penduduk pribumi, menggantung, mencambuknya, hanya demi satu informasi penting : “Dimana ada Emas?“Helen Ellerbe, dalam “The Dark Side of Christian History” (hal. 86-88), menggambarkan keberingasan Columbus. Selain menyiksa, ia juga sering memperkosa perempuan-perempuan pribumi, lalu mencambuk mereka demi kesenangan belaka.
Bukti bahwa muslim adalah penemu benua amerika. Pertama, dalam bukunya Saga America (New York, 1980), Dr. Barry Fell, arkeolog dan ahli bahasa berkebangsaan Selandia Baru jebolan Harvard University menunjukan bukti-bukti detail bahwa berabad-abad sebelum Colombus, telah bermukim kaum Muslimin dari Afrika Utara dan Barat di beua Amerika. Tak heran jika bahasa masyarakat Indian Pima dan Algonquain memiliki beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Arab.
Di negara bagian Inyo dan California, Dr. Barry menemukan beberapa kaligrafi Islam yang ditulis dalam bahasa Arab salah satunya bertuliskan ”Yesus bin Maria” yang artinya ”Isa anak Maria”. Kaligrafi ini dapat dipastikan datang dari ajaran Islam yang hanya mengakui nabi Isa sebagai anak manusia dan bukan anak Tuhan. Dr. Barry menyatakan bahwa usia kaligrafi ini beberapa abad lebih tua dari usia Negara Amerika Serikat. Bahkan lebih lanjut, Dr. Barry menemukan reruntuhan, sisa-sisa peralatan, tulisan, digram, dan beberapa ilustrasi pada bebatuan untuk keperluan pendidikan di Sekolah Islam. Tulisan, diagram dan ilustrasi ini merupakan mata p[elajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi dan navigasi laut. Semuanya ditulis dalam tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Penemuan sisa-sisa sekolah Islam ini ditemukan dibeberapa lokasi seperti di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon Washoe, Hickison Summit Pas (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico) dan Tipper Canoe (Indiana). Sekolah-sekolah Islam ini diperkirakan berfungsi pada tahun 700-800 M. Keterangan yang sama juga ditulis olh Donald Cyr dalam bukunya yang berjudul Exploring Rock Art (Satna barbara, 1989).
Kedua, dalam bukunya Africa and the Discovery of America (1920), pakar sejarah dari Harvard University, Loe Weiner, menulis bahwa Colombus sendiri sebenarnya juga mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang tersebar di Karibia, Amerika Utara, Tengah dan Selatan, termasuk Canada. Tapi tak seperti Colombus yang ingin menguasai dan memperbudak penduduk asli Amerika, umat Islam datang untuk berdagang, berasimilasi dan melakukan perkawinan dengan orang-orang India suku Iroquis dan Algonquin. Colombus juga mengakui, dalam pelayaran antara gibara dan Pantai Kuba, 21 Oktober 1492, ia melihat masjid berdiri diatas bukit dengan indahnya. Saat ini, reruntuhan masjid-masjid itu telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.
Ketiga, John Boyd Thacher dalam, bukunya Christopher Colombus yang terbit di New York, 1950, menunjukkan bahwa Colombus telah menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika sedang berlayar di dekat Cibara, bahagian tenggara pantai Cuba, ia menyaksikan mesjid di atas puncak bukit yang indah. Sementara itu , dalam rangkaian penelitian antropologis, para antropolog dan arkeolog memang menemukan reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta ayat-ayat al-Qur’an di Cuba, Mexico, Texas dan Nevada.
Keempat, Clyde Ahmad Winters dalam bukunya Islam in Early North and South America, yang diterbitkan penerbit Al-Ittihad, Juli 1977, halaman 60 menyebutkan, para antropo0log yang melakukan penelitian telah menemukan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Psasasti itu menerangkan bahwa imigran Muslim pertama tersebut juga membawa gajah dari Afrika.
Sedangkan Ivan Van Sertima, yang dikenal karena karyanya They Came Before Colombus, menemukan kemiripan arsitrektur bangunan penduduk asli Amerika dengan kaum Muslim Afrika. Sedang dalam bukunya yang lain African Presence in Early America, juga menegaskan tentang telah adanya pemukiman Muslim Africa sebelum kehadiran Colombus di Amerika.
Kelima, ahli sejarah Jerman, Alexander Von Wuthenan juga memberikan bukti bahwa orang-orang Islam sudah berada di Amerika tahun 300-900 M. Artinya, umat Islam sudah ada di Amertika, paling tidak setengah abad sebelum Colombus lahir. Bukti berupa ukiran kayu berbentuk kepala manusia yang mirip dengan orang Arab diperkirakan dipahat tahun 300 dan 900 M. Beberapa ukiran kayu lainnya diambil gambarnya dan diteliti, ternyata memiliki kemiripan dengan orang Mesir.
Keenam, salah satu buku karya Gavin Menzies, seorang bekas pelaut yang menerbitkan hasil penelusurannya, menemukan peta empat pulau di Karibia yang dibuat pada tahun 1424 dan ditandatangani oleh Zuanne Pissigano, kartografer dari Venezia, yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Peta ini berarti dibuat 68 tahun sebelum Colombus mendarat di Amerika. Dua pulau pada peta ini kemudian diidentifikasi sebagai Puertorico dan Guadalupe.
Henry Ford dalam bukunya The Complete International Jew, terdapat cuplikan yang menjelaskan bagaimana kondisi riil Umat Islam pada akhir kekuasaan Islam di Spanyol, yang mengalami penyiksaan yang sangat luar biasa, dan bagaimana dari penyiksaan tersebut akhirnya ada yang melarikan diri bersama rombongan Colombus ke Amerika. Dalam buku tersebut dapat disarikan sebagai berikut : Perjalanan Colombus dimulai 3 Agustus 1492, sehari setelah jatuhnya Granada, benteng terakhir umat Islam di Spanyol. Dalam pertarungan hidup-mati itu, 300 ribu orang Yahudi diusir dari Spanyol oleh raja Ferdinand yang Kristen. Selanjutnya, dalam buku tersebut dikisahkan bagaimana perjuangan penggalanagan dana oleh kaum Yaahudi untuk mendukung perjalanan Colombus dan pada hakekatnya juga pelayaran bagi pelarian Yahudi Spanyol ke Amerika. Tapi ada bahagian informasi yang sengaja tidak dipublikasikan, yakni bahwa Colombus membawa dua kapal, yakni kapal Pinta dan Nina. Kedua kapal ini dibantu oleh nakhoda Muslim bersaudara. Martin Alonso Pinzon menakhodai kapal Pinta, dan Vicente Yanex Pinzon menakhodai kapal Nina. Keduanya menggunakan Spanyol namun keduanya sebenarnya masih keluarga Sultan Maroko Abu Zayan Muhammad III (1362-1366) yang menguasai kekhalifahan Marinid (1196-1465). Informasi tersebut juga ditemukan dalam buku karya John Boyd Thacher, Christopher Colombus, New York, 1950.
Contoh diatas telah dikuatkan dengan artikel-artikel yang telah saya baca. Telah membuktikan bahwa apa yang dikemukakan  oleh Howard zinn itu adalah benar. Bahwa sesungguhnya bukanlah Christopher Columbus yang menemukan benua amerika. Mengungkap tabir yang tersembunyi dalam sebuah buku memang sulit. Sepatutnya kita jangan terlalu percaya pada satu buku. Tidak seharusnya langsung melahap mentah-mentah konsep pembicaraan yang sudah terbangun tersebut. Kita harus mengkonsep ulang dengan cara mengkritisi serta harus mencari referensi lain ( fakta dan bukti ) mengenai hal yang sedang dibicarakan tersebut. Bahwa apa yang telah kita pahami itu adalah benar. Pertanyaannya adalah mengapa penulis sengaja menyembunyikan fakta sejarah. Apakah faktor dari penulis sehingga ia menyembunyikan fakta yang sangat crucial. Sampai sekarang pun belum terpecahkan mengapa hal tersebut terjadi. Karena yang kita ketahui bahwa kehebatan lain dari penulis itu bisa memutar balikkan fakta atau sejarah.
Kita ketahui bahwa bangsa Amerika sangat menghormati sejarah. Apalagi sejarah tersebut diikat oleh sebuah buku. Buku yang merupakan gudang ilmu yang ilmunya tetap abadi tersimpan dalam sebuah buku. Contohnya saja sejarah tentang Columbus ini. Sejak dahulu kala warga Amerika telah mengetahui bahwa penemu benua Amerika adalah Columbus. Merekapun sudah sangat mempercayainya karena itu sudah menjadi bagian dari sejarah dan sudah tersimpan dalam buku. Ketika ada seseorang yang berani mengungkapkan bahwa penemu benua amerika bukanlah columbus. Sontak warga amerikapun merasa kaget dan tidak terima dengan statement atau buku tersebut. Walaupun yang telah mengungkap kebenaran itu adalah warga amerika sendiri. Howard zinn adalah orang yang kontra dengan sejarah tersebut.
Sampai saat ini pun ketika saya membaca artikel-artikel di internet masih banyak yang mengatakan bahwa penemu benua amerika adalah Columbus. Bahkan sampai saat ini di setiap buku pelajaran di sekolah. Kehebatan Howard zinn yang telah mengungkapkan fakta yang sebenarnya patut di hargai. Walaupun beliau ini merupakan warga non muslim. Tetapi beliau telah menunjukkan fakta yang sebenarnya bahwa penemu benua amerika adalah orang islam.
Maka dari itu kita sebagai warga muslim seharusnya berbangga hati bahwa memang benar, sejarah-sejarah terdahulu yang telah menemukan atau melahirkan suatu penemuan hebat seperti dalam bidang kedokteran, astronot, ahli matetamika adalah orang muslim. Ini membuktikan bahwa orang muslim lebih hebat dibandingkan  orang barat.
Sebagai warga muslim yang baik kita sepatutnya harus banyak membaca seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq “ Iqro’ bismi robbikal-ladzi kholaqo “ yang artinya bacalah dengan nama robb (Tuhan) kamu (yakni Allah) yang menciptakan.  Di dalam alqur’an pun kita telah di wajibkan membaca. Sebagai pembaca yang kritis kita tidak seharusnya percaya pada tulisan atau satu buku saja. Tetapi kita harus mencari referensi buku lain untuk menguatkan isi buku benar atau tidak.” Berbicara kebenaran berarti berbicara sejarah. Tetapi pada kenyataannya sejarah mengandung kepalsuan yang disebabkan oleh faktor kekuasaan ataupun faktor lainnya.  Sejarahpun harus tetap kita jaga, harus tetap kita kenang karena Bung Karno mengatakan bahwa "Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah."
Referensi


http://m.kompasiana.com/post/read/616281/3  

 

1 comments:

  1. Beberapa pargaraf pertama terasa 'menjauhkan' pembahasan tentang artikel ZInn. jangan terjebak pada lautan fakta dan data sejarah. Saya hanya mau liat posisi kamu sebagai kritikus lho

    ReplyDelete