Thursday, March 20, 2014



Penulis + Ideologi Bagaikan Dua Sisi Mata Uang
            Bukan sekedar menorehkan tinta pada secarik kertas, bukan sekedar goresan tanpa makna pada ukiran kayu atau pahatan batu. Semua itu selalu memiliki semiotic tertentu. Dia tidak hadir dengan sendirinya maupun tanpa makna. Melainkan selalu mempunyai, membawa, dan memberikan pesan atau informasi dari si penulis untuk si pembaca. Penulis tidak dengan semena-mena membuatnya, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyatukan ide, penelitian, dan bukti dari karyanya. Iamemberikan separuh jiwanya dalam karya tersebut. Sehingga tidak heran, jika karyanya mampu menggambarkan ide dan kepribadiannya. Itulah mengapa karya yang dihasilkan seseorang tidak pernah bersifat netral (Lehtonen: 2000). Pengaruh ideologi si penulis sangat kental dan mendominasi. Ia selalu membawa apa yang ia yakini dan mengajak si pembaca untuk mempercayai dan melakukan apa yang ia yakini.
            Melalui karya si penulis, juga akan tercipta model interaksi sosial (melibatkan penulis dan pembaca). Mereka mampu menciptakan meaning melalui konfigurasi dan interaksi yang khas dari keduanya yang mereka bawa dalam teks (Nystrand et al, 1993:299).
            Pun literasi dinggap sebagai pendidikan budaya (Al Wasilah: 2012). Kenapa? Dalam berbudaya berkaitan dengan sikap dan pandangan seseorang. Oleh karenanya, orang yang tidak berliterat dikatakan sebagai orang yang tidak berbudaya. Jelaslah, bila literasi tidak pernah bersifat netral (Al Wasilah: 2012) walaupun orang-orang literasi memiliki tujuan yang sama (misal memperoduksi karya tulis). Namun, mereka menyajikannya dengan cara yang berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh ide dan sikap seseorang dalam mengekspresikan apa yang ia yakini. Apapun karya yang dihasilkan, baik berupa spoken, written, audio, visual, maupun gabungan dari keseluruhan (Fowler, 1996). Mereka tidak akan pernah lepas dari ideologi seseorang yang memproduksi mereka. Ideologi seseorang dipengaruhi atau semakin meningkat, seiring dengfan kegiatan membaca (mencari informasi) dan menulis (merepresentasikan informasi) yang semakin banyak ia lakukan.
            Ideologi merupakan penghantar dan alat dari proses sejarah (Fowler, 1996:12). Kenapa? Masih menurut Fowler (1996: 10), ideologi sangat erat kaitannya dalam understunding values tentang sosial, ekonomi, politik, dan sejarah. Dimana nilai itu selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Oleh karenanya, ideologi sebagai alat yang mampu menjembatani seseorang untuk selalu mengerti apa yang ada dilingkungannya dan memilah nilai mana yang akan ia yakini. Sehingga, ideologi disebut juga sebagai keseluruhan dari apa yang kita percayai itu (sets of beliefs).
            Ideologi sangat umum dan mudah dijumpai pada karya tulis penulis. Seperti Hyland dan Lehtonen yang dalam buku mereka berisi pembahasan tentang teks dan konteks. Namun demikian, pendapat dan penjelasan mereka mengenai keduanya sangatlah berbeda. Kenapa? Ideologi atau cara berfikir seseorang berbeda satu dengan yang lainnya. begitu pula dalam menghasilkan teks atau karya tulis. Mereka (penulis) selalu membawa faham (ideologi) mereka ke dalam karya tersebut. Dengan demikian, mereka akan mampu mengajak pembaca mengikuti dan menyetujui tujuan atau faham si penulis. Seolah-olah karya tersebut berhasil menghipnotis para pembaca.
            Penulis harus mampu menarik perhatian pembaca atau membuat mereka jatuh cinta pada karya mereka. Hal ini dapat mempengaruhi minat membaca mereka terhadap apa yang si penulis inginkan (tujuan) dari karyanya. Peranan tersebut sangat cocok untuk thesis statement yang tentu berisi ideologi si penulis. Dia adalah bentuk dari tindakan si penulis untuk mengajak dan membuat si pembaca tertarik pada teks tersebut. Dia juga biasa disebut sebagai point of view (academic argument). Dia akan muncul tentang pembahasan secara singkat tentang introduction of topic. Selain itu, ia harus mampu menyajikan summary dari argumen yang ada dalam teks. Dengan kata lain, bukanlah hal yang mudah. Walaupun panjang kalimatnya hanya beberapa kata, tapi ia harus mampu menjadi focus of arguments. Apalagi di dalam essay ia berstatus crucial thing karena berperan sebagai writer’s topic dan writer’s opinion of topic. Serumit apapun thesis statement, ia akan selalu berisikan ideologi si penulis (walaupun secara eksplisit). Ideologi si penulis memang tidak mudah untuk di mengerti, namun tidak menutup kemungkinan ideologi tersebut mampu mempengaruhi pembaca.
            Kerumitan thesis statement sebanding dengan fungsinya, yaitu to focus the essay’s subject dan presence of a good thesis statement aids reader understunding. Untuk memfokuskan subjek yang ada dalam teks memang tidak mudah. Walaupun sudah jelas tujuan dan apa yang akan dibahas, terkadang meluas ke area lain yang mudah tercampur dengan pembahasan si penulis. Seperti pembahasan tentang teks, erat kaitannya dengan konteks. Bila tidak dibatasi, maka pembatasan dua tema tersebut akan mudah terkombinasi. Selain itu, benar adanya jika thesis membantu reader untuk mengerti suatu teks. Kenapa? Reader akan mampu memprediksi dan mengerti tujuan si penulis, dan informasi apa saja yang ia terima. Itu akan terjadi jika ia berkompisisi sebagaimana mestinya. Namun jika tidak, pembaca akan bingung bahkan tidak mau membaca teks si penulis.
            Terdapat beberapa pengertian tentang thesis statement yang semakin erat kaitannya dengan ideologi si penulis, dalam mempengaruhi dan mengajak si pembaca. Antara lain:
1.      Tells the reader how you will interpret the significance of the subject matter under discussion.
2.      Is a read map for the paper, in others words, it tells the reader what to expect from the rest of the paper.
3.      Directly answers the question asked of you. A thesis is an interpretation of the question of subject, not the subject itself. The subject, or topic, of an essay might be World War II or Moby Dick; A thesis must then offer a way to understund the war or the novel.
4.      Makes a claim that others might dispute.
5.      Is usually single sentences somewhere in your first paragraph that present your argument to the reader.
Dari pengertian di atas, dapat di katakan bahwa thesis statement adalah kalimat yang mampu menarik perhatian si pembaca. Sehingga ia harus diletakkan pada paragraf pertama. Bisa dibayangkan jika ia di simpan pada pargraf kedua atau seterusnya., reader akan bingung dengan apa yang akan si penulis berikan.
Walaupun thesis statement merupakan ideologi si penulis, namun ia merupakan hasil dari proses berfikir yang cukup lama. Kenapa? Menentukannya, harus melakukan beberapa rutual terlebih dahulu. Seperti mencari dan mengunpulkan bukti-bukti atau references untuk mendukung argument si penulis. Kemudian, carilah kemungkinan hubungan antara fakta-fakta yang sudah diketahui dan belum diketahui (persamaan dan perbedaan). Terakhir, berfikir secara significant tentang hubungan-hubungan tersebut..
Jadi, dalam karya si penulis (teks atau essay) selalu memiliki ideologi yang awal kemunculannya ada pada thesis statement. Sehingga mereka tidak dapat dipisahkan. Itulah sebabnya, literasi dan kegiatan lainnya tidak akan pernah bersifat netral. Bagaimana tidak? Setiap manusia memiliki ideologi yang berbeda. Walaupun mereka memiliki background agama, budaya, dan sosial yang sama. Namun, faham dan pemikiran mereka berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya kegiatan membaca (mencari informasi) dan menulis (merepresentasikan informasi) yang mereka lakukan. Hal ini karena ideologi seseorang berpengaruh pada pengetahuan yang ia dapat miliki.

0 comments:

Post a Comment