Sunday, March 23, 2014

Berliterasi atau mati
            Pada pertemuan kali ini, pembahasan diawali dengan berbicara mengenai paragraf pertama. Seperti yang telah dibahas pada semester 2, bahwa paragraf pertama itu merupakan segalanya. Paragraf pertama akan membawa kesan pertama pada seorang pembaca, begitu pun dengan judul. Sehingga, prinsip seorang penulis yaitu judul merupakan segala-galanya dan paragraf pertama pun merupakan segala-galanya. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memberikan judul dan menulis paragraf pertama.

            Berliterasi itu berarti mencintai pengetahuan. Bukan hanya itu saja, tetapi juga kaum literat merupakan orang yang tercerahkan. Katanya, tugas mereka yang tercerahkan/kaum literat adalah menelaah sesuatu yang baru yaitu tempat pengetahuan dan keterampilan yang mereka pungut, kumpulkan dan kuasai dalam perjalanan hidupnya sebagai bagian dari cinta mereka pada pengetahuan dan pemberi pengetahuan. Kemudian, mereka baru pada fase awal; peniru.
            Meniru adalah bagian penting dari menemukan lalu menciptakan, dari memahami affordance dan meaning potential tanda-tanda yang terserak, yang dibaca dengan teori ini dan itu. Affordance berarti sanggup mengubah dan mencerahkan. Meaning potential yaitu what to say/ apa yang dikatakan. Kata lain peniru yaitu emulate-discover-create. Maka kita pun disebut emulator.
Writing is a matter of enlightening ourselves. Sehingga, kenapa kita harus banyak menulis dan membaca (literasi)? Agar tercerahkan. Menulis itu dipelajari, dipahami dan dimaknai. Aspek membaca merupakan aspek yang spiritual. Orang literat harus kemana-mana, sehingga grammar dan pronounciation saja tidak cukup. Menurut Pak Haidar pun, literasi itu merupakan modal hidup kita.
Membaca dan menulis (literasi) yaitu kemampuan dasar manusia untuk bisa memahami sesuatu dengan baik, mengembangkan persepsi tersendiri dari yang ia pahami tersebut, menyampaikannya (menulis) dan kemudian mewujudkannya dalam sebuah tindakan nyata. Kira-kira mirip dengan tahapan era informasi: data-information-knowledge-action, dimana data/informasi seperti buku. Bila digambarkan makanan, informasi dikunyah dengan baik. Dari sana bisa didapatkan pemahaman (knowledge) dan pengkhayatan kemudian menjadi dasar tindakan (action) seorang manusia. Saat ini kita harus memiliki semboyan "berliterasi atau mati". Hal ini karena merupakan jalan untuk kita bisa bertahan sebagai bangsa bila kita memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh dengan membaca (berliterasi).
Orang yang telah mempunyai kemampuan membaca dengan baik, memiliki kemampuan menyerap makna tersurat dan tersirat, bisa memahami struktur sebuah sistem yang baik, akan mempunyai keterampilan berpikir yang terstruktur pula dalam menyampaikan pendapatnya. kemampuan membaca dan menulis tersebut, menhadi kelengkapan dari kemampuan literasi dari seorang manusia. Masyarakat yang memiliki budaya literasi yang baik, ajkan menjadi masyarakat yang maju.
Kemudian, penegasan bahwa histori memang selalu berkaitan dengan literasi. Membuat histori itu dengan literasi. Literasi itu tidak netral dan teks pun sama tidak netralnya. Menurut Fowler (1996:10), seperti sejarawan, linguis kritis bertujuan untuk memahami nilai-nilai yang mendukung sosial, ekonomi, formasi politik, dan diakronis, perubahan nilai dan perubahan dalam formasi. Sehingga, yang perlu digaris bawahi yaitu memahami nilai.
Teks itu dimotifkan karena ideologi. Yang mana, menurut Fowler (1996:12), ideologi merupakan media dan instrumen dalam proses sejarah. Ideologi ada dalam setiap teks. Sehingga, teks itu bukanlah sesuatu yang netral, tetapi mengandung misrepresentasi dan ideologi tertentu.
Van Leuuwen (dikutip dalam buku analisis wacana hal.348 oleh Eriyanto) juga memandang teks sebagai  wujud dari ideologi. Bedanya dengan model yang dipakai oleh Fowler, Van Leeuwen meletakkan analisisnya bukan pada kosakata, sintaksis, atau tata bahasa yang dipakai dalam teks. Van Leeuwen secara lebih luas melihat teks itu sebagai suatu strategi wacana, bagaimana penafsiran atas realitas, penggambaran seseorang, atau kelompok dalam masyarakat itu bukan hanya terjadi pada pemakaian kosa kata atau kalimat tetapi juga pada elemen wacana lain.
Kalau Fowler dan Van Leeuwen memandang ideologi tercermin dalam teks, agak sedikit berbeda dengan model yang diperkenalkan oleh Van Dijk dan Fairclough. Dikutip dalam buku Analisis Wacana oleh Eriyanto (hal.348), Van Dijk dan Fairclough lebih meletakkan perhatian pada bagaimana ideologi itu tersebar di antara anggota kelompok, dan ideologi yang tersebar itulah yang menentukan bagaimana teks itu dibuat. Jadi hubungan antara teks dan ideologi bukanlah bersifat langsung, tetapi di mediasi lewat praktek sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Menulis dalam perguruan seringkali mengambil bentuk keyakinan persuasi orang lain bahwa kamu itu menarik, sudut pandang logika dalam pelajaran yang dipelajari. Persuasi merupakan keterampilan berlatih secara teratur dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk persuasi sering disebut dengan argumen akademis, mengikuti pola prediksi secara tertulis. Setelah pengenalan topik, kemudian menyatakan sudut pandang pada topik secara langsung dalam satu kalimat. Kalimat ini adalah pernyataan tesis, dan berfungsi sebagai ringkasan argumen.
Tesis dalam essay merupakan ide pertamanya. Pernyataan tesis mengidentifikasi topik penulis dan pendapat penulis sekitar suatu topik. Fungsi tesis statenent yaitu:
1. Untuk fokus pada essaynya
2. Membantu pemahaman pembaca
Tesis statement itu pertama, menceritakan kepada pembaca penafsiran mengenai pentingnya hal yang dibahas itu. Kedua, sebagai peta untuk memberitahu pembaca mengenai pembahasan selanjutnya. Ketiga, secara langsung menjawab pertanyaan yang diminta dari kita. Keempat, membuat klaim bahwa orang lain membantah. Kelima, menyajikan argumen kepada pembaca.
Tesis merupakan hasil dari proses yang panjang. Sebelum mengembangkan argumen, kita harus mengumpulkan dan mengatur bukti, mencari kemungkinan hubungan antara fakta yang diketahui (seperti kontras mengejutkan atau kesamaan), dan berpikir tentang pentingnya hubungan ini.
Jadi, paragraf pertama itu segala-galanya. Di sana harus tertera tesis statement agar kita dapat fokus pada essay kita dan juga membantu pemahaman pembaca. Kaum yang literat merupakan kaum yang tercerahkan. Bahkan, literasi itu merupakan modal hidup kita. Kita harus memiliki semboyan berliterasi atau mati. Hal ini karena merupakan jalan untuk kita bisa bertahan sebagai bangaa bila kita memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri kita dapatkan dari berliterasi. Apa jadinya seseorang tanpa berliterat. Kemudian, histori itu selalu berkaitan dengan literasi, karena orang-orang yg berliterasilah yang dapat membuat histori. Media dan instrumen dalam proses sejarah yaitu ideologi. Ideologi selalu ada dalam teks. Sehingga, teks itu bukanlah sesuatu yang netral, tetapi mengandung misrepresentasi dan ideologi tersebut.

0 comments:

Post a Comment