Sunday, March 9, 2014

11:47 PM


4th Class Review
Gerbang: Inklusivisme Ceramah Kelas
Salah gerbang. Hampir semua teman-teman di kelas tidak membahas classroom discourse dalam chapter reviewnya. Teman-teman terkecoh dengan banyak membahas tentang multikultur bangsa, sebab-sebab keberagaman, mungkin karena pembahasan tentang multikultur itu sangat menarik, sehingga teman-teman terlena dengan pembahasan masalah-masalah keberagaman saja tidak membahas tentang pendidikan kelas yang menjadi dasarnya multikultur bangsa.
Kuliah, sekolah, di dalamnya terdapat proses belajar-mengajar, dalam kelas yang terjadi adalah interaksi antar dosen dengan mahasiswanya, antar guru dengan siswanya, antar siswa satu dengan siswa yang lain, dan antar siswa dengan lingkungan. Dalam kelas siswa maupun guru mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, keberbedaan itu yang menyebabkan multikultur bangsa, kemudian terjadi interaksi, dan saling mempengaruhi, ketika ada yang mendominasi dalam perbedaan, yang mendominasi itu akan melakukan tindakan-tindakan diskriminasi terhadap minoritas. Ini yang akan menjadi konflik yang menyebabkan kemunduran bangsa.
Classroom discourse adalah tempat yang kompleks dalam menganalisis keberagaman karena di kelas banyak objek kajian yang berkaitan dengan keberagaman, seperti background siswa yang mempengaruhi cara berpikir, berperilaku serta berkomunikasi. Strategi komunikasi setiap siswa berbeda-beda, karena pemahaman mereka pun berbeda-beda, inilah yang menimbulkan perspektif-perspektif, untuk itu perspektif bersifat subjektif.
Perspektif bersifat subjektif karena timbul dari pandangan-pandangan, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam berpikir sehingga muncul perspektif-perspektif. Karena dari semua pandangan tersebut berbeda-beda maka kebenarannya bersifat subjektif, walaupun banyak bukti yang menguatkan, tetapi tidak bisa merubah sifatnya. Perspektif sangat dekat dengan kekuasaan, karena ketika orang itu berkuasa akan menguasai kebenaran, memegang kebenarannya dan dari situ akan muncul orang yang mendominasi karena kekuatannya. Bersikap semena-mena, mendiskriminasi, yang menjadikannya konflik dan menyebabkan perpecahan. Maka dari itu perlu adanya sikap toleran yang dipegang agar tidak ada konflik yang ditimbulkan.
Dalam kelas kegiatan yang sering dilakukan adalah diskusi, kajian, sharing, dan debat, tujuan kegiatan tersebut adalah untuk mendapatkan kesimpulan topik yang dikaji atau mendapatkan meaning. Keadaankelas yang beraneka ragam, sulit untuk mendapatkan meaning. Untuk itu, perlu adanya penyatuan suaraatau pendapat agar bisa mendapatkan meaning dari tujuan berkomunikasi.
Keberagaman yang menimbulkan konflik itu karena sikap intoleran terhadap perbedaan, seperti konflik antar agama, antar etnis, antar suku. Jika sikap toleran terdapat pada diri kita, ditanamkan untuk kebersamaan, tidak akan menimbulkan konflik. Sikap egosentrisme kita juga bisa menyebabkan konflik, suatu kata bisa membuat konflik, kata itu yang paling mendasar dan membuat pengaruh yang sangat besar terhadap meaning, contohnya kata “aku adalah aku, aku bukan kamu, aku bukan dia, aku bukan mereka” ini adalah pernyataan egois terhadap diri sendiri dan orang lain, karena jika kita sudah menyatakan sendiri, melupakan yang lain, bagaimana kita bisa merasakan seperti yang lain, dan kerukunan tidak bisa tercipta dari keadaan yang seperti itu.
Jika mengatakan “aku adalah kamu, aku adalah dia, aku adalah mereka” pernyataan ini adalah bentuk dari pluralis dan toleran, karena jika sudah mengatakan ‘aku adalah kamu’, dia akan menganggap ‘kamu’ adalah dirinya, sehingga dia akan memperlakukan ‘kamu’ seperti dirinya, menyayangi ‘kamu’ seperti menyayangi dirinya, tidak rela menyakiti ‘kamu’ karena sama saja dengan menyakiti dirinya. Pernyataan ini sangat bagus dalam menerapkan sikap pluralis dan toleran terhadap umat manusia.
Gerbang inklusivisme adalah pintu masuk ke persamaan, persamaan di sini adalah berkaitan dengan ceramah di kelas karena ceramah kelas menjadi wilayah kajiannya sedangkan objeknya adalah yang berada dalam ceramah kelas. Salah satu contohnya adalah interaksi, interaksi adalah proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih sehingga mendapatkan sebuah meaning atau yang menjadi tujuan dari interaksi tersebut.
Jadi saya menyimpulkan bahwa untuk menulis sebuah criticak review itu tidak mudah, karena pembahasan yang diambil dan dikritik itu sangat penting dan harus tepat, seperti yang sudah dikerjakan pada tugas minggu kemarin bahwa teman-teman dan juga saya salah memasuki gerbang penjelasan dalam critical review.

0 comments:

Post a Comment