Saturday, March 8, 2014

11:21 PM

5th Class Review


Tanpa terasa Mata Kuliah Writing and Composition 4 telah melewati bulan pertama, maka materi yang kita dapatkan pun akan semakin jauh, tak terlepas dari hal itu Mr. Lala Bumela akan terus-menerus mengontrol mahasiswanya untuk menulis. Namun jika kita melihat perkembangan tulisan-tulisan kita, seakan memang banyak sekali kekurangannya. Hal tersebut terkait dengan penuturan beliau dalam power pointnya The biggest weakness of your first critical review, diantaranya yaitu terjebak dalam hal-hal sepele, tidak akrab dengan kata kunci classroom discourse, menceritakan fakta-fakta tentang konflik agama tanpa menunjukkan titik perusahaan pandang, struktur generik tidak dibangun dengan baik, dan pola referensi yang hilang. Semua kelemahan tersebut terdapat pada critical review yang pertama, dan mungkin kelemahan dalam critical review yang kedua juga hampir sama. Namun beliau juga mengatakan ada banyak ruang untuk perbaikan.
Pada critical review kedua kemarin ternyata mengaitkan antara sejarah dengan literasi, karena dikatakan bahwa sejarah itu selalu terkait dengan praktik literasi dan hanya orang-orang yang berliterasi yang mampu membuat sejarah. Namun dalam hal tersebut sekali lagi kita telah gagal menyinggung ke arah literasi, kebanyakan yang disinggung hanyalah sejarahnya saja. Maka tak heran jika Mr. Lala Bumela pun mengatakan “discourse bukan hanya menyuguhkan teks, tetapi juga menyuguhkan konteks”. Memang kita selalu kesulitan dalam area konteks, dan beliau pun menuturkan bahwa penulis pemula selalu gagal pada area konteks tesebut. Padahal pencangkupan konteks itu luas, ia bisa saja merujuk pada sudut pandang histori, politik, religious, ataupun yang lainnya. Hal tersebut seperti contoh dalam artikel Speaking Truth to Power with Books karya Howard Zinn yang mengaitkan sejarah dengan perspektif antropologi, namun bisa saja itu juga merupakan perspektif politik yang dibuat oleh Howard Zinn.
Dalam buku Lehtonen, konteks mencangkup semua hal yang penulis dan pembaca bawa ke dalam proses pembentukan makna. Dibawah ini merupakan 8 parameter konteks:
1.      Subtance (pokok)
Materi fisik yang membawa atau relay teks
2.      Music and picture
3.      Paralanguage
Perilaku yang berarti bahasa yang menyertainya, seperti kualitas suara, gerak tubuh, ekspresi wajah dan sentuhan (dalam kecepatan), dan pilihan dari jenis huruf dan ukuran huruf (secara tertulis).
4.      Situation
Sifat dan hubungan objek dan orang-orang disekitarnya teks, seperti yang dirasakan oleh para peserta.
5.      Co-text
Teks yang mendahului atau mengikuti yang di bawah analisis, dan yang peserta menilai milik wacana yang sama.
6.      Intertext
Teks yang peserta anggap sebagai milik wacana lain, tetapi yang mereka persekutukan dengan teks di bawah pertimbangan dan yang mempengaruhi interpretasi mereka.
7.      Participant
Niat dan interpretasi mereka, pengetahuan dan keyakinan, sikap interpersonal, afiliasi dan perasaan.
8.      Function
Apa teks dimaksudkan untuk melakukan oleh pengirim dan addressers, atau dianggap dilakukan oleh penerima dan addressers.
Cutting (2002: 3) menyebutkan 3 aspek utama dalam penafsiran konteks, yakni sebagai berikut:
a.       The situational context: what people ‘know about what they can see around them’;
b.      The background knowledge context: what people ‘know about the world, what they know about aspects of life, and what they know about each other’;
c.       The co-textual context: what people ‘know about what they have been saying’.
These aspects of interpretation have come to be rolled into the idea of community.
Halliday developed an analysis of context based on the idea that any text is the result of the writer’s language choices in a particular context of situation (Malinowski, 1949). That is, language varies according to the situation in which it is used, so that if we examine a text we can make guesses about the situation, or if we are in a particular situation we make certain linguistic choices based on that situation. The context of situation, or register, is the immediate situation in which language use occurs and language varies in such contexts varies with the configuration of field, tenor and mode.
Halliday’s dimensions of context:
·         Field: menunjuk pada subjek topik dan peristiwa atau aktifitas.
·         Tenor: merujuk pada orang yang terlibat (partisipan), jarak, status dan hubungan partisipan.
·         Mode: merujuk pada kode bahasa baik lisan maupun tulisan, saluran komunikasi.
Key Issues in Writing Research and Teaching (Hyland  2002; 2009)
Ø  Kontext
Dalam membangun suatu makna diciptakan dari konteks dalam interaksi antara penulis dan pembaca, karena tentu mereka akan memahami teks tersebut dengan cara yang berbeda, masing-masing berusaha menebak niat lainnya. Akibatnya, analisis dan guru sekarang mencoba untuk memperhitungkan faktor-faktor personal, institusional, dan sosial yang mempengaruhi tindakan menulis. Hal tersebut juga akan menimbulkan negosiasi makna antara penulis dan pembaca.
Ø  Literacy
Menulis dan membaca adalah tindakan literasi. Bagaimana kita benar-benar menggunakan bahasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Konsep literasi modern mendorong kita untuk melihat tulisan sebagai praktik sosial, bukan sebagai keterampilan abstrak, dipisahkan dari orang-orang dan tempat-tempat dimana mereka menggunakan teks. Sekolah tradisional menganggap literasi sebagai kemampuan belajar yang memfasilitasi pemikiran logis, akses informasi, dan pertisipasi dalam masyarakat modern.
Ø  Culture
Budaya secara umum dipahami sebagai jaringan historis yang ditransmisikan dan makna sistematis yang memungkinkan kita untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan pengetahuan dan keyakinan kita tentang dunia (Lantolf, 1999). Akibatnya, bahasa dan pembelajaran terikat dengan budaya (Kramsch, 1993). Hal ini sebagian karena nilai-nilai budaya kita tercermin dalam dan dilakukan melalui bahasa.
Ø  Technology
Untuk menjadi orang yang berliterasi, dalam era modern ini kita dituntut untuk memiliki pengetahuan atas berbagai media cetak dan elektronik. Teknologi elektronik, pada kenyataannya mempercepat preferensi yang berkembang untuk gambar di atas teks dalam banyak domain dan bahkan menghasilkan teks multimodal sebagai praktik literasi di pendidikan ilmiah, bisnis, media, dan setting lainnya. Banyak tulisan-tulisan yang tersaji dalam bentuk media elektronik, seperti artikel, e-book, dan lain sebagainya.
Ø  Genre
Genre merupakan salah satu materi yang paling penting dari konsep pembelajaran bahasa. Genre dikenal dengan tipe aksi percakapan yang berpartisipasi dalam peristiwa sosial.
Ø  Identity
Penelitian terbaru telah menekankan hubungan dekat antara menulis dan identitas seorang penulis. Dalam arti luas, identitas mengacu pada “cara-cara orang menampilkan siapa mereka satu sama lain”. Dalam hal ini menulis pada dasarnya sedang membangun sebuah identitas jati diri seseorang.

            Dalam artikel yang berjudul Speaking Truth to Power with Books karya Howard Zinn ini menyebutkan bahwa ia menggunakan konteks antropologi, yang mana di dalamnya melibatkan sejarah, sosial, politik, agama, dan lain sebagainya. Zinn menuliskan artikel tersebut untuk mendukung kaum yang kalah, karena ada sebuah ujaran yang menyatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Howard Zinn mencoba untuk patahkan. Ia menuliskan bahwa Christopher Columbus itu bukanlah seorang pahlawan. Dia adalah orang yang berfaham komunis. Dia juga bukan penemu benua Amerika. Dia adalah penjahat, orang yang serakah, pembunuh, dan penindas kelompok ras hitam yang ada di benua Amerika. Pernyataan Zinn dalam memandang Christopher Columbus itu hanyalah dari sudut pandang negatifnya saja, Zinn malah mengabaikan jejak heroik Columbus sebagai pahlawan.
            Seperti yang telah dituliskan di awal paragraf bahwa hanya orang-orang yang berliterasi yang mampu membuat sejarah dan memutar balikkan sejarah, maka dalam hal tersebut sangat cocok jika kita kaitkan dengan seorang aktifis yang berasal dari negara Amerika Serikat, yakni Howard Zinn. Howard Zinn ini adalah seorang aktifis dan sejarawan asal Amerika, tetapi kenapa ia malah menyerang negaranya sendiri dengan mengubah sejarah penemu benua Amerika. Artinya dalam hal ini Zinn sangat paham akan situasi dan kondisi bahkan fakta-fakta yang ada dalam sejarah negerinya. Zinn telah mampu mengubah kesadaran satu generasi melalui tulisannya.
            Dalam sebuah buku legendarisnya yang ia tulis berjudul A people’s History of the United States telah mampu membius perspektif segenap pembacanya. Yang menarik dari buku Zinn tentu saja adalah keberaniannya untuk mengungkap sisi gelap sejarah benua baru. Sasaran tembaknya tak tanggung-tanggung yakni Christopher Columbus dan para sejarawan yang menulis versi lugu dari kedatangan para kolonis. Di dalamnya termasuk sejarawan Harvard, Samuel Elliot Morison.
            Meskipun Howard Zinn telah berhasil menguak kebohongan seorang Columbus, bahwa dia bukanlah penemu benua Amerika, melainkan ia adalah seorang yang suka melakukan genocide. Namun perlu diingat juga bahwa Zinn mempunyai kelemahan dalam sebuah artikelnya, Zinn lupa atau bahkan sengaja menutup-nutupi sejarah penemu benua Amerika itu sendiri. Zinn tidak menyebutkan sedikitpun siapa sebenarnya penemu pertama kali benua Amerika.
Terlepas dari pro dan kontra pengkajian sejarah menggunakan teori-teori ilmu sosial, namun patut direnungkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini hampir sudah sulit dibedakan antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Pendekatan interdisipliner kini sangat dominan mewarnai wacana perkembangan ilmu pengetahuan. Sejarah sebagai salah satu bidang ilmu tidak seharusnya menarik diri dari fenomena itu, melainkan harus mampu bermain ditengahnya, sehingga tidak dianggap himpunan pengetahuan masa lalu semata, tanpa bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan kehidupan manusia, sebagaimana visi sebuah ilmu pengetahuan.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa lierasi sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Berbagai fenomena-fenomena sejarah yang kini banyak yang dimanipulasi, maka menuntut kita agar lebih jeli dalam memandang sejarah tersebut dengan cara memperluas pengetahuan. Bahkan sampai sekarang pun saya belum menemukan kejelasan dari siapa yang sesungguhnya merupakan penemu benua Ameriaka tersebut.
Dari pernyataan di atas kita dapat menyimpulkan betapa rumitnya kajian sejarah jika kita ambil dari berbagai perspektif. Namun dalam hal ini pula literasi tidak akan pernah ketinggalan dalam mewarnai perspektif-perspektif yang ada. Literasi selalu menjadi dominan dan mengikuti semua kajian ilmu, karena literasi yang ada pada saat sekarang ini adalah literasi yang mencangkup semua bidang pengetahuan. Berliterasi dapat memutar balikkan sejarah, berliterasi juga dapat meneliti sejarah, dan masih banyak lagi manfaat dari literasi bagi kehidupan kita dan bangsa.

Referensi
*      Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka
*      Ken Hyland (2009). Teaching and Researching Writing, second edition.
*      Miko Lehtonen (2000). The Cultural Analysis of Text.

0 comments:

Post a Comment