Thursday, March 13, 2014

11:12 AM


Begitu kuatnya pengaruh literasi dalam pembentukan sejarah bahkan pemutar balikan sejarah memang sangat terasa ketika saya pertama kali memperdalam kisah tentang columbus. Seperti juga contohnya pendapat dari Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul “Saga America”, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California. Terus yang menjadi pertanyaan besar disini, kenapa sejarah itu seakan tertutup dengan catatan pelayaran columbus? Apa lagi kalo bukan kekuatan dari literasi itu sendiri untuk menciptakan suatu sejarah. Dalam paragraf selanjutnya saya akan menjelaskan lebih lanjut tentang sejarah dan literasi.
Sajarah dan literasi
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu “ Syajarotun” yanga artinya pohon. Sejarah diumpamakan sebagai perkembanagn sebuah pohon yang terus berkembang dari akar sampai ranting yang paling kecil yang kemudian bisa diartikan sebagi silsilah. Syajaroh dalam arti silsilah berkaitan dengan babad, tarikh, mitos dan legenda. Dalam bahasa Inggris, kata sejarah (History) berarti masa lampau umat manusia, dalam bahasa Jerman, kata sejarah (geschichte) berarti sesuatu yang pernah terjadi.
Sejarah adalah ilmu tentang manusia, yaitu yang mempelajari tentang manusia dalam sebuah peristiwa bukan cerita masa lalu secara keseluruha. Sejarah juga merupakan ilmu tentang waktu, sejarah juga ilmu tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial, juga ilmu tentang sesuatu yang terperinci dan tertentu. Pada dasarnya sejarah mempunyai ilmu bantu dalam berbagai aspek kehidupan. Lantas bagaimana hubungan sejarah dengan litersai? Sejarah dan literasi tidak dpat dipisahkan karena saling membutuhkan. Tapi disini sejarah lebih cenderung membutuhkan bantuan tehadap literasi untuk mengungkapkan atau menyelesaikan masalah.
Keterkaitan dengan sastra pun membuka mata kita bahwa sejarah tidak tercipta dengan begitu saja, terdapat input subjektif dari seorang penulis yang dimasukan dalam karanagn sejarh yang mereka tulis. Perbedaan kontekslah yang menciptakan karangan sejarah seseorang dengan orang alin akan berbeda. Karen pada intinya, mereka menulis sejarah, berdasarkan konteks mereka masing-masing.
Mengingat diawal ada banyak pertanyaan mengenai hal yang sudah dipersiapkan oleh kami, maka saya akan menjawab sedikit tentang “mencari fakta tentang Columbus” saya akan menuliskan beberpa fakat tentang Columbus :
·  Lukisan tentang Columbus yang ada berbeda-beda. Tidak ada gambar asli mengenai Columbus
·  Marcopolo adalah salah satu tokoh motivasi bagi Columbus
·  Columbus bukan manusia pertama yang melakukan pelayaran ke Benua Amerika, tapi bangsa Viking lebih dulu tiga abad menginjakan kaki di Benua Amerika pada abad 2
·  Kepulawan bahama yang didaratinya (Elsavador) yaitu daratan yang diduga Columbus sebagai India sepanjang hidupnya dan lain-lain.
Untuk mengakhiri class review ini, saya tarik kesimpulan bahwa pada dasranya class review ini masih kental kaitannya dengan kesalahan besar kami dalam menulis khususnya critical review pada minggu lalu, dan kesalahan terpatal kami ada di konteks. Kaitan konteks dengan sejarah yaitu bahwa perbedaan kontekslah yang emnciptakan karangan sejarah seseorang akan berbeda dengan orang lain. Kemudian sejarah dan literasi itu hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling membutukan. Contohnya sejarah membutuhkan bantuan terhadap literasi guna mengungkapkan suatu masalah.
Sejarah sebagai ilmu atau wawasan susunan pengetahuan tentang peristiwa dan ceritera yang terjadi dalam masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan metodolotis berdasarkan asas-asas, prosedur, dan metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh pakar sejarah. Orang yang pandai menulis pasti akan menguasai sejarah, jika sejarah yang belum diketahui oleh manusia itu diangkat dalam tulisan, maka akan punya pengaruh yang sangat besar. Bagi penulis, seorang Howard Zinn itu punya ambisi untuk mengungkap kekeliruan yang ada di Amerika. Sosoknya yang ambisius membuat  catatan yang ditulisnya menggemparkan warga Amerika dan umat sedunia.
Pengaruh positivisme dalam sejarah tidak bisa dihindarkan. Salah satu tokoh pencetus aliran modern dalam sejarah adalah Leopold Von Ranke (1795-1886). Ranke menulis sebuah buku yang berjudul “A Critique of Modern Historical Writers”, dalam bukunya ini beliau menjelaskan kritiknya dalam sejarah dan penulis pada saat sekarang. Ranke dianggap sebagai penumbuh histografi modern yang menganjurkan sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi atau wie es eigentlich gewesen ist (Supardan, 2008) yang dikenal dengan sejarah kritis.
Tak diragukan lagi bahwa history yang ada pada zaman dahulu mempunyai banyak aspek. Sejarah di satu sisi berperan sebagai humaniora, perlu adanya kemampuan dalam berbahasa. Retorika yang digunakan oleh para penulis mendekatkan sejarah dengan sastra sejarawan akan menggunakan imajnasi bukan fantasi dalam merekonstruksi masa lalu.
Menurut Hayden White dan Munslow (Sjamsuddin, 2007) menjelaskan pada salah satu poin bahasannya tentang adanya sejarah. Historis mempunyai nilai-nilai yang meliputi keseluruhan, totalitasm atau latar belakang, atau masa lalu itu sendiri. Konteks dari sejarah tersebut berfungsi untuk membuat masa lalu itu menjadi masuk akal, berari, signifikan, dan berarti. Dengan begitu sejarah akan dapat diterima kebenarannya.
Pemikiran Howard Zinn untuk mengupas Amerika lewat tulisan ini memang sudah benar. Hal ini didukung oleh White (Shuterland: 2008, 48) yang mengatakan bahwa sejarah itu sebuah narasi yang dikuasai oleh konvensi-konvensi estetika dan lebih dekat kepada sastra daripada ke ilmu pengetahuan. Jadi, untuk mengungkap sebuah cerita masa lalu lebih jelas ditulis oleh orang sastra karena cara berfikirnya yang kritis.
Sosok Columbus dalam tulisan dan literatur yang ada di Amerika itu banyak hal yang ditutupi, penuh dengan kiasan-kiasan dan bumbu-bumbu pentedap dalam penulisannya. Seperti yang dikatakan White (Sjamsuddin, 2007) bahwa “Sejarah disebut metahistory karena sejarah tidak bisa menolak masuknya kiasan-kiasan dalam penulisan sejarah”. Metahistory merupakan karya-karya sejarah yang tujuannya bukan untuk membuat informasi yang ada, mendiskusikan interpretasi yang sudah adam dan kemungkinan mengomentari asumsi-asumsi yang telah membuat interpretasi.
Tulisan-tulisan yang dihasilkan seperti Howard Zinn ini merupakan salah satu sastra. Hal ini telah membuktikan bahwa tulisan sebagai ilmu yang bukan hanya berbicara persoalan kreativitas dan rentetan imajinasi, tetapi dapat pula berfungsi sebagai dokumen sejarah (Susur, 2008). Zainuddin Fannanie berpendapat, dengan keluarnnya sastra dari krativitas imajiner ke wilayah sejarah, maka sastra secara  tidak langsung bisa diletakkan sebagia dokumen sejarah atau dokumen social yang kaya dengan visi dan tata nilai mayarakat.
Diteropong dari linguistik turn bahasa dalam bentuk budaya dan intelektual merupakan media pertukaran bagi hubungan antar kekuatan dan konstitutor terakhir dari kebenaran dalam penulisan dan pemahaman masa lalu (Purwanto, 2006: 3). Sejarawan akan lebih setuju terhadap pendapat yang menyatakan bahwa linguistik membedakan struktur masyarakat dan perbedaan sosial menstrukturkan bahasa sebagai salah satu fakta dalam sejarah umat manusia daripada pendapat yang menyatakan bahwa realitas sejarah tidak pernah ada, dan yang ada hanya bahasa yang berbentuk naratif sebagai representasi masa lalu.
Pengungkapan sejarah yang terbilang apresiatif melalui data empiris dan tulisan (narasi) tidak berbeda jauh dari pengungkapan karya sastra. Hanya saja dikhawatirkan jika sejarah terlalu dekat dengan seni maka sejarah akan kehilangan keakuratan dan keobjektivitasnya (Surur, 2008). Seperti yang terjadi pada saat ini nilai-nilai yang terkandung dan mempunyai historis sedikit berkurang karena sudah tercampur dengan unsur-unsur lain.
Seorang sejarawan seperti Howard Zinn dan penulis mempunyai cara pandang tentang tulisan sejarah dan tujuan yang berbedam akan tetapi keduanya setuju bahwa dalam menulis sejarah tidak boleh mengaburkan dan memanipulasi fakta sejarah untuk membuat tulisannya lebih menyenangkan dan laku terjual.
Menulis sebauh karya nampaknya perlu memperhatikan berbagai aspek. Howard Zinn sukses mendulang masa keemasan di bukunya ini karena paham tentang menulis. Paa bukunya Hyland dijelaskan bahwa key issues dalam memahami writing itu ada enam, yaitu context, literacy, culture, technology, genre, dan identity.
Hal yang akan dikupas pertama ialah Writing and Context. Context akan selalu diperhatikan oleh seorang penulis dalam memulai perjuangannya, arti yang ada dalam teks dibagian dalam interaksi antara seorang penulis dan pembaca untuk membangun perasaan yang berbeda-beda. Faktor kontekstual sangat luas dalam melihat sebagai objektif variabel statis yang mengepung penggunaan bahasa, kita harus melihat context tulisan yang ditujukan untuk siapa. Ada 3 aspek dari context sendiri, yaitu:
1.    Situasional Context: Sesuatu yang diketahui oleh semua orang tentang apa yang mereka lihat di sekitarnya.
2.    The Background Knowledge Context: orang-orang tahu mengenai dunia, apa yang mereka tahu tentang aspek dan yang lainnya.
3.    The Co-textual Context: orang-orang tahu apa yang sudah mereka katakan.
Penawaran prinsip sebagai salah satu jalan untuk memahami bagaimana arti itu diproduksi dalam sebuah interaksi. Hal ini bisa dilihat dari waktu dan tempat yang umum seperti konteksnya di rumah, sekolah, tempat kerja, ataupun universitas. Secara linguistkik orientasi dari konteks ini berbeda dan memulainya dengan texts, dan gambaran umum dari systematic discourse.
Banyak manusia yang belajar dari sejarah. Belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan. Pengalaman tidak hanya terbatas pada pengalaman yang dialaminya sendiri, melainkan juga dari generasi sebelumnya. Dengan belajar sejarah seseorang akan senantiasa berdialog anatara masa kini dan masa lampau sehingga bisa memperoleh nilai-nilai penting yang berguna bagi kehidupannya. Nilai-nilai itu dapat berupa ide-ide maupun konsep kreatif sebagai sumber motivasi bagi pemecahan masalah kini dan selanjutnya untuk merealisasikan harapan masa yang akan datang.

0 comments:

Post a Comment