Sunday, March 2, 2014

12:05 AM
1

Nama : Maftuhah Rizqiyah
Kelas : PBI-B
NIM : 14121310315
CRITICAL REVIEW 2

MENUMBUH KEMBANGKAN MINAT BACA



Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya cakrawala dunia.
Minat baca masyarakat Indonesia termasuk siswa-siswi kita masih rendah. Masyarakat kita lebih senang budaya lisan atau tutur. Kita belum menjadi society book reader. Kondisi ini berbeda dengan Negara-negara di sekitar kita yang telah menjadikan membaca sebagai aktivitas rutin setiap hari. Kondisi ini tentu memicu rendahnya kemampuan membaca masyarakat kita.
Sekolah termasuk dalam masyarakat ilmiah, seharusnya didesain untuk menumbuhkembangkan kegemaran membaca. Siswa sebagai kaum terpelajar dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan informasi terkini, oleh karena itu sangat dibutuhkan pembiasaan membaca yang memadai. Tetapi, kenyataannya tidak demikian. Dalam sebuah penelitian terungkap bahwa kebanyakan siswa lebih mementingkan membeli pulsa HP daripada membeli buku. Banyak ditemui, siswa lebih suka menikmati komunikasi dengan HP daripada membaca dan menambah koleksi bukunya. Banyak bukti lagi yang menunjukkan bahwa di kalangan siswa belum terbentuk budaya atau kegemaran membaca. Banyak siswa yang hanya membaca atau mencari buku jika ada tugas dari guru. Tidak banyak siswa yang secara sadar dan mandiri melakukan kegiatan membaca untuk memperluas pengetahuan mereka. Ini menunjukkan betapa masih rendahnya minat baca mereka. Belum terbentuknya kebiasaan atau kegemaran membaca di kalangan siswa, diduga tentu ini berimplikasi pada kemampuan mereka dalam membaca. Kemampuan membaca merupakan saah satu ciri masyarakat literat. Secara sederhana, masyarakat literat adalah masyarakat  yang memiliki kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Hal ini sejalan dengan  pendapat Grabe & Kaplan (1992) dan Graff (2006) yang mengartikan  literacy  sebagai mampu untuk membaca dan menulis  (able to read and write), sedangkan orang yang mampu keduanya disebut literat.
Kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar dalam belajar karena hampir semua kemampuan untuk memperoleh informasi dalam belajar bergantung pada kemampuan tersebut. Melalui membaca, seseorang dapat menggali informasi, mempelajari pengetahuan, memperkaya pengalaman, mengembangkan wawasan, dan mempelajari segala sesuatu. Oleh karena itu, rendahnya minat baca dan rendahnya kemampuan membaca oleh para generasi muda akan berdampak buruk terhadap pengembangan diri dan kinerja mereka yang selanjutnya akan berdampak buruk terhadap pembangunan bangsa. Sejarah belum mencatat ada orang pintar dan hebat yang tidak banyak membaca.
Berkaitan dengan ulasan tersebut, berikut ini akan dikaji secara khusus tentang :
1) gambaran kemampuan membaca siswa Indonesia,
(2) penyebab rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa,
(3) solusi menumbuhkembangkan minat dan kemampuan membaca siswa.


Gambaran Kemampuan Membaca Siswa Indonesia
Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievermen) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia. Kajian PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yg disponsori oleh IEA ini menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia. Kajian PIRLS ini menempatkan siswa Indonesia kelas IV Sekolah Dasar pada tingkat terendah di kawasan Asia. Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, yaitu 30 persen saja dari materi bacaan karena mereka mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal bacaan yang memerlukan pemahaman dan penalaran.

Sebagian besar siswa kita masih memiliki kemampuan membaca pada taraf ‘belajar membaca’. Siswa pada tingkat literasi-1 hanya mampu untuk membaca teks yang paling sederhana, seperti menemukan informasi yang ada di dalam bacaan sederhana, mengidentifikasi tema utama suatu teks atau menghubungkan informasi sederhana dengan pengetahuan sehari-hari. Sedikit dari siswa kita yang memiliki kemampuan membaca yang canggih, seperti menemukan informasi yang rumit dalam teks yang tidak dikenal sebelumnya, mempertunjukkan pemahaman yang terperinci, menarik kesimpulan dari informasi yang ada di dalam teks, dan mengevaluasi dengan kritis, membangun hipotesis, serta mengemukakan konsep yang mungkin bertentangan dengan harapannya sendiri..
Hasil survey lembaga underbouw Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), UNESCO (United Nation Education Society and Cultural Organization), juga menemukan fakta: minat baca masyarakat Indonesia betul-betul rendah, bahkan paling rendah di Asia. Berdasarkan data tersebut, minat baca masyarakat Indonesia khususnya di kawasan Asia Tenggara saja menduduki peringkat keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura (http://www.cybermq.com).
Bukti-bukti di atas telah menunjukkan bahwa minat baca di kalangan masyarakat termasuk siswa-siswi kita memang masih rendah. Apakah budaya membaca, sebagai wujud komitmen terhadap proses pendidikan sudah sedemikian dipandang tidak penting oleh sebagian besar masyarakat kita? Padahal, minat membaca yang tinggi sangat penting. Kesuksesan pendidikan anak sangat bergantung pada kemampuan membaca. Minat baca yang rendah mempengaruhi kemampuan anak dan secara tidak langsung berakibat pada rendahnya daya saing mereka dalam percaturan nasional dan internasional. Sejarah belum mencatat ada orang pintar dan hebat yang tidak banyak membaca.
Pertanyaannya sekarang adalah mengapa sampai terjadi demikian? Berikuti ini hasil suatu analisis mengapa minat dan kemampuan membaca masyarakat khususnya siswa-siswi kita rendah.

Penyebab Rendahnya Minat dan Kemampuan Membaca Siswa 
penyebab rendahnya minat baca adalah sebagai berikut :
·         lingkungan keluarga dan sekitar yang kurang mendukung kebiasaan membaca.
·         rendahnya minat baca disebabkan oleh rendahnya daya beli buku masyarakat berkaitan dengan rendahnya tingkat ekonomi dan rendahnya kesadaran pentingnya buku. Tuntutan hidup di zaman sekarang ini cukup tinggi.
·         rendahnya minat baca masyarakat termasuk siswa-siswi kita disebabkan oleh minimnya jumlah perpustakaan yang kondisinya memadai. Menurut data Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) dari sekitar 300.000 SD hingga SLTA, baru 5% yang memiliki perpustakaan layak.
·         penyebab rendahnya minat baca adalah dampak negatif perkembangan media elektronik. Acara televisi dan radio sekarang ini dibuat sedemikian menarik dan beragam sehingga masyarakat dari berbagai latar belakang dan usia dimanjakan oleh acara-acara yang mereka tonton/dengar. Hal ini didukung oleh data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 yang menunjukkan, bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).
·         penyebab rendahnya minat membaca siswa Indonesia adalah karena model pembelajaran secara umum belum membuat siswa harus membaca.  Tidak banyak model pembelajaran yang menugaskan siswa untuk membaca buku, mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan dari berbagai sumber, mengapresiasi karya-karya ilmiah seperti artikel, karya-karya sastra, dan sebagainya.
·                     penyebab rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa adalah karena sistem pembelajaran membaca yang belum tepat. Dalam Kompas 29 Oktober 2009 disebutkan, “Kemampuan membaca siswa sekolah di tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI) saat ini memiliki kecenderungan rendah. Lemahnya kemampuan membaca siswa SD/MI patut diduga karena lemahnya pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran membaca”.

Solusi Mengatasi Rendahnya Minat dan Kemampuan Membaca :

1.      Membiasakan Anak Membaca Sejak Dini
Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi.  Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca.
2. Menyediakan Buku yang Menarik
Upaya merangsang masyarakat untuk mau membaca dapat dilkukan dengan penyediaan bahan-bahan bacaan yang menarik, sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masing-masing kelompok umur. Dengan kata lain, ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa masyarakat kita akan semakin mencintai bahan bacaan. Implikasinya, taraf masyarakat akan kian meningkat.
2000 saja sebanyak 110.155 judul buku. Posisi kedua ditempati Jerman dengan jumlah judul buku yang diterbitkan pada tahun 2000 mencapai 80.779 judul, Jepang sebanyak 65.430 judul buku. Sementara itu, Amerika Serikat menempati urutan keempat. Indonesia pada tahun 1997 pernah menghasilkan lima ribuan judul buku. Tetapi, tahun 2002 tercatat hanya 2.700-an judul. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia. Bila dibandingkan dengan tetangga kita, Malaysia, dalam hal minat baca dan oplah buku, kita sangat jauh tertinggal. Data statistik menyebutkan, dalam 10 tahun terakhir Indonesia baru menerbitkan 2500 judul buku per tahun. Sementara, di Malaysia yang berpenduduk sepersepuluh dari negara kita sudah memproduksi 9.600 judul buku per tahun.
Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Kebiasaan Membaca
Rendahnya daya beli buku dan minat baca kadang-kadang berkaitan erat dengan budaya bukan melulu soal ekonomi. Jadi, cara menyelesaikannya juga dengan pendekatan budaya. Karena ini mengubah budaya, maka tidak bisa terjadi dengan cepat. Meski perubahan lambat, namun harus tetap diusahakan terus demi memperoleh kebiasaan sepanjang hayat. Salah satu cara menciptakan lingkungan tersebut adalah kebiasaan membaca dalam keluarga dan lingkungan sekitar
3.Memperbaiki Kembali Penampilan Perpustakaan agar Menarik
Apabila yang menjadi alasan adalah rendahnya daya beli buku, maka dengan adanya perpustakaan yang nyaman, fasilitas yang memadai, serta pustaka yang relatif lengkap dan baru  akan membuat kita menjadi gemar membaca. Meskipun hampir semua sekolah sudah memiliki perpustakaan (apa pun bentuknya), tidak semuanya memiliki koleksi buku yang memadai atau dikelola dan dimanfaatkan secara profesional. Dengan meningkatkan layanan dan fasilitas di perpustakaan, maka diharapkan minat baca masyarakat menjadi meningkat. Dengan cara ini, upaya meningkatkan minat baca akan sangat terbantu.
4. Mengembangkan Model Pembelajaran Membaca yang Menyenangkan, Bervariasi, dan Mendidik
Sistem pendidikan perlu direformasi agar mampu mengembangkan kemampuan membaca siswa. Pembelajaran di sekolah harus lebih diarahkan pada pengembangan kreativitas dan daya berpikir kritis mereka. Siswa harus dibiasakan dengan tugas membaca dan membuat jurnal atau laporan bacaan. Dengan jurnal mereka memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pendapat tentang buku yang mereka baca. Hal ini akan meningkatkan daya nalar dan kritis siswa yang merupakan awal lahirnya generasi yang literat.
Model Pembelajaran Membaca untuk Kelas Awal ( Permulaan)
Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambargambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Di samping itu, pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi’ie, 1999: 7).
Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan/kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut.
Secara umum, pengajaran membaca permulaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu induktif dan deduktif. Dalam model induktif, anak diperkenalkan unit bahasa terkecil terlebih dahulu baru kemudian mengenalkan kalimat dan wacana. Jadi, siswa diperkenalkan dulu bunyi-bunyi bahasa atau huruf huruf, baru diperkenalkan suku kata. Untuk menimbulkan kegemaran anak pada dunia baca, metode pembelajaran yang digunakan di kelas awal haruslah yang menyenangkan dan mendidik. Pembelajaran membaca tidak selalu dalam bentuk menghadap sebuah buku dan anak harus berusaha dapat membaca dengan usaha yang sangat keras. Cara seperti inilah yang membuat anak tidak senang dengan pembelajaran membaca. Oleh karena itu, pembelajaran membaca permulaan harus dikemas dalam suatu model misalnya melalui permainan yang menyenangkan.
Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. Unsur dalam permainan antara lain pengulangan. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain boneka diumpamakan sebagai adik yang sesungguhnya.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran membaca permulaan model permainan adalah metode scrambel. Pada prinsipnya metode permaianan ini menghendaki siswa untuk melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya dengan sengaja telah dikacaukan. Dalam pembelajaran membaca, anak diajak untuk berlatih menyusun suatu organisasi tulisan yang sengaja dikacaukan selanjutnya anak disuruh untuk menata ulang susunan tulisan yang kacau tersebut untuk menjadi suatu tulisan yang bermakna. Hal ini anak diajak untuk lebih berkreasi dengan susunan yang baru yang mungkin akan lebih baik dari susunan yang lama. Oleh karena itu teknik ini akan memungkinkan siswa belajar lebih santai dan tidak membuat stress, mereka akan melakukan dengan senang hati karena mereka mengira ini hanya permainan semata.

Model Pembelajaran Membaca Lanjut
Tujuan membaca lanjut adalah agar siswa dapat memahami bahasa orang lain yang tertulis serta menambah pengetahuan dan mengembangkan emosi anak. Dalam membaca lanjut dikenal metode membaca teknik, membaca dalam hati termasuk di dalamnya membaca cepat, membaca pemahaman, dan sebagainya.
Pada membaca lanjut, berdasarkan kekomplekan kognitif dalam memahami bacaan dibedakan antara membaca literal dan membaca tingkat tinggi. Hal ini dikemukakan oleh Burn dkk (1996) dan Syafi’ie (1993), yang mengatakan bahwa ada dua tingkatan pemahaman membaca, yaitu pemahaman literal dan pemahaman tingkat tinggi. Pemahaman tingkat tinggi mencakup pemahaman interpretatif, pemahaman kritis, dan pemahaman kreatif. Pemahaman kritis dan kratif dapat digolongkan ke dalam pemahaman evaluatif. Pengelompokan tingkatan membaca selengkapnya dari Burn dkk (1996):
1)   Literal comprehension (pemahaman literal)
2)   Interpretative coprehension (pemahaman interpretatif)
3)   Critical comprehension (pemahaman kritis)
4)   Creative comprehension (pemahaman kreatif).
Metode pembelajaran membaca lanjut juga harus tepat. Ada beberapa metode yang biasa digunakan dalam pembelajaran membaca yang dapat dimodifikasi sesuai dengan pokok bahasan yang ada, diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, metode Kegiatan Membaca Langsung (KML) atau Direct Reading Activities (DRA). Penggunaan Metode KML adalah untuk mengembangkan kemampuan membaca secara komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan pengalaman siswa berdasarkan bentuk dan isi bacaan secara ekstensif. Kedua, metode SQ3R (Survey, Questions, Read, Recite, Review). Tujuan penggunaan metode ini untuk membentuk kebiasaan siswa berkonsentrasi dalam membaca, melatih kemampuan membaca cepat, melatih daya peramalan berkenaan dengan isi bacaan, dan mengembangkan kemampuan membaca kritis dan komprehansif. Ketiga, metode Membaca-Tanya Jawab (MTJ) atau Request (Reading-Question).
Tujuan penggunaan metode ini, adalah untuk melatih siswa untuk berkonsentrasi dan “berpikir keras” guna memahami isi bacaan secara serius. Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyusun dan memahami bagan, mengelompokkan, memetakan isi bacaan, misalnya bacaan cerita dan memetakan isi bacaan secara umum Melalui metode ini pembaca diminta untuk dapat memahami wacana yang tidak lengkap (karena bagian-bagian tertentu dalam wacana ini dengan sengaja dilesapkan) dengan pemahaman sempurna.
 Dengan adanya motivasi yang baik, siswa akan lebih mudah dan senang belajar. Motivasi dalam pembelajaran adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga seseorang terdorong untuk belajar lebih baik, dan mempengaruhi siswa sehingga pada diri siswa timbul dorongan untuk belajar, sehingga diperoleh pengertian, pengetahuan, sikap dan penguasaan kecakapan, agar lebih dapat mengatasi kesulitan-kesulitan.

Dapat disimpulkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia termasuk siswa-siswi kita masih rendah. Rendahnya kemampuan membaca siswa-siswi kita antara lain tergambar dalam hasil riset PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), PISA (Programme for International Student Assessment), dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, dan hasil survey lembaga underbouw Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Penyebab rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa antara lain karena (1) lingkungan keluarga dan sekitar yang tidak mendukung kebiasaan membaca, (2) daya beli buku masyarakat yang rendah, (3) minimnya jumlah perpustakaan yang kondisinya memadai, (4) dampak negatif perkembangan media elektronik, (5) model pembelajaran yang secara umum belum membuat siswa harus membaca, dan (6) sistem pembelajaran membaca yang belum tepat.
Solusi untuk mengatasi rendahnya minat dan kemampuan membaca adalah sebagai berikut (1) membiasakan anak membaca sejak dini, (2) menyediakan buku/bahan bacaan yang menarik, (3) menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca, (4) memperbaiki kembali penampilan perpustakaan agar menarik, (5) mengembangkan model pembelajaran membaca yang menyenangkan, bervariasi, dan mendidik.
Usaha-usaha ini harus ditingkatkan terus, agar kita menjadi anggota masyarakat yang literat yang terbuka cakrawala keilmuannya. Kita yang hidup di era informasi dan teknologi ini dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan, oleh karena itu dibutuhkan aktivitas membaca yang banyak untuk menguasainya. Marilah kita gapai pintu ilmu pengetahuan kita melalui kegiatan membaca, karena membaca merupakan jalan yang akan mengangantarkan kita untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna.
                                                                                 

DAFTAR PUSTAKA

Burn, P.C., Roe, B.D., dan Ross, E.P. 1996. Teaching Reading in Today’s Elementary School. Boston: Houghton Mifflin Company.
Cochran, Y. 1993. Everything You Need to Know to be a Succesfull whole Language Teacher: Plans Strategies, Technigues a More. Neshvill: Incentive Publications, Inc.
Grabe, W. & Kaplan R. (Eds.) 1992. Introduction to Applied Linguistics. New York: Addison-Wesley Publishing Company.
Graff, Harvey J. 2006 Literacy. Microsoft® Encarta®  [DVD]. Redmond, WA: MicrosoftCorporation 2005.              
Hafni. 1981. Pemilihan dan Pengembangan Buku Pengajaran Membaca. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


1 comments:

  1. Thesis statement-nya ko ngelantur, sehingga bagi saya tulisan ini ujungnya ngelantur alias ga fokus

    ReplyDelete