Thursday, March 6, 2014

12:30 AM

Melirik Classroom Discourse

Pada pertemuan ke empat ini, pembahasan mengenai evaluasi critical review atas sebuah artikel yang berjudul "Classroom Discourse to Foster Religious Harmony". Salah masuk gerbang, yah itulah yang terjadi ketika saya membuat critical review atas artikel tersebut. Pembahasan yang dimuat mengenai multikultural, sehingga keterkaitan classroom discourse dan religious harmony tidak nampak. Makna classroom discourse itu sendiri pun tidak tercantum.
Manusia membutuhkan orang lain dalam kehidupan sosial. Manusia mempunyai naluri untuk melakukan interaksi dengan orang lain. Dalam hidup manusia atau antara manusia dengan kelompok terjadi hubungan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui itu manusia ingin menyampaikan maksud, tujuan dan keinginannya. Keinginan yang dimaksud diwujudkan melalui hubungan timbal balik yang disebut dengan interaksi. Interaksi bisa terjadi apabila individu melakukan tindakan dan perilaku yang dapat menimbulkan reaksi dari individu-individu yang lain.

Interaksi pun terjadi di dalam kelas. Sehingga, dalam classroom discourse terdapat suatu interaksi. Interaksi di sini yaitu interaksi antara teacher dan student, juga antara student dan student.
Interaksi merupakan sarana atau alat dalam kehidupan sosial, juga dapat dikatakan sebagai hubungan yang dinamis antar individu dengan individu, antar individu dengan kelompok, dan antar kelompok dengan kelompok. Interaksi tersebut dapat terlihat ddalam bentuk kerjasama, persaingan dan pertikaian atau konflik.
Interaksi terkadang tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Terkadang masalah muncul di dalam interaksi. Masalah tidak mungkin datang begitu saja. Sehingga, terdapat beberapa hal yang menjadi faktor munculnya masalah dalam interaksi. Pertama, yaitu background different. Latar belakang disini mencakup banyak hal. Baik itu ekonomi, sosial, politik, agama dan lain-lain.
Kedua, yaitu communication strategy. Strategi lomunikasi yaitu suatu cara untuk mengatur pelaksanaan proses komunikasi sejak dari perencanaam, pelaksanaan sampai dengan evaluasi, untuk mencapai suatu tujuan. Strategi komunikasi bertujuan agar pesan mudah dipahami secara benar, penerima pesan dapat dibina dengan baik, kegiatan dapat bermotivasi untuk dilakukan. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyusunan strategi kpmunikasi, yaitu:
  1. Mengenali sasaran
pada kegiatan ini, komunikator perlu mengenali terlebih dahulu siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi. Dalam pengenalan sasaran, komunikator harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
a.       Pesan yang disampaikan disesuaikan dengan pengalaman, pendidikan, status sosial, pola hidup, ideologi dan keinginan sasaran.
b.      Situasi dan kondisi disekeliling sasaran pada saat pesan akan disampaikan dapat mempengaruhi penerimaan pesan. Misalbya suasana sedih, sakit, dan situasi lingkungan yang tidak mendukung.
  1. Pemilihan media
  2. Pengkajian tujuan pesan
Ketiga, yaitu goal-driven. Goal-driben memiliki tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif yaitu yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk ranah kognitif. Kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk didalamnya kegiatan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengsistensis dan kemampuan mengevaluasi. Terdapat 5 aspek dalam proses berfikir, yaitu:
1.      Pengetahuan : menyebutkan, menunjukkan, menyatakan
2.      Pemahaman : menjelaskan, menguraikan, merumuskan
3.      Penerapan : mendemonstrasikan, menghitung
4.      Analisis : memisahkan, memilih, membandingkan
5.      Evaluasi : menyimpulkan, mengkritisi, menafsirkan
6.      Kreasi : mengkombinasikan, mengarang, menciptakan
Afektif yaitu yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam 5 jenjang, yaitu:
1.      Receiving : menanyakan, memilih, mengikuti, menjawab
2.      Responding : melaksanakan, membantu, menyambut
3.      Valuing: melaksanakan, mengambil prakarsa, mengusulkan
4.      Organization : mengintegrasikan, mengubah, mempertahankan
5.      Charateristic by values : bertindak, menyatakan
Psikomotor yaitu yang berhubungan dengan aktifitas fisik. Misalnya, lari, melompat, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956), yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk skill dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan perilaku).
1.      Persepsi : membedakan, menunjukkan, memilih
2.      Kesiapan : mengawali, bereaksi, mempersiapkan
3.      Gerakan terbimbing : mempraktikan, mengikuti
4.      Gerakan terbiasa : mengoperasikan, memasang
5.      Gerakan kompleks : mendemonstrasikan, mengerjakan
6.      Penyesuaian pola gerak bervariasi dan kreatif : mengubah, mendaftasikan, membuat variasi, merancang
Ke empat, yaitu meaning-making practise. Praktek pembuatan makna antara student dan teacher terkadang berbeda. Begitu pun antara student dan student yang lain. Sehingga, pembuatan makna ini terkadang memunculkan masalah juga dalam berinteraksi.
Apabila berbicara mengenai classroom discourse, maka akan berbicara mengenai classroom discourse analysis. Analysis disini yaitu mengenai "talk. Discourse terbagi menjadi 2 yaitu teks dan konteks. Di kelas dikelilingi oleh values dan ideologi, dan ujung-ujungnya ke religious harmony.
Dalam buku ”Classroom Discourse Analysis”, terdapat alasan pentingnya analize talk di kelas, yaitu:
1.            Wawasan yang diperoleh dari analisis wacana kelas dapat meningkatkan saling pemahaman antara guru dan siswa.
2.            Dengan menganalisis wacana kelas sendiri, guru telah mampu memahami perbedaan lokan di kelas.
3.            Ketika guru menganalisis wacana kelas di kelas mereka, prestasi akademik meningkat.
4.            Proses melakukan analisis wacana kelas sendiri, dapat menumbuhkan intrinsik dan cinta seumur hidup untuk praktek mengajar dan potensi meneguhkan hidupnya.
Talk ini dapat mengungkapkan pola umum perbedaan komunikasi antara kelompok orang yang berbeda. Pola bagaimana guru dan siswa bergiliran dalam berbicara, mengenalkan topik, menggunakan beberapa bahasa, bercerita dengan cara yamg berbeda dan lain-lain. Semua itu dapat menggambarkan kesalahpahaman antara kelompok sosial yang berbeda di dalam kelas.
Sehingga, manfaat pertama untuk mempelajari classroom discourse analisis yaitu pertama, untuk memahami. Kedua, belajar bagaimana melakukan classroom discourse analysis disertai metode. Ketiga, waktu yang dihabiskan dalam mempelajari classroom discourse analysis. Bila guru dapat memahami berbagai bentuk pembicaraan di kelas, maka prestasi sekolah akan meningkat.
Untuk menjadi nasionally board certified, seorang guru harus mampu untuk "berpikir secara sistematis tentang praktek mereka dan belajar dari pengalaman" (core propsisi#4, Badan Nasional Standar Pengajaran Profesional, www. nbpts. Org). Ke empat, yaitu untuk mempelajari teknik wacana kelas adalah bahwa berlatih wacana kelas dapat meningkatkan pengalaman keseluruhan mengajar, dan membuat kita terlibat secara intrinsik dengan kegiatan profesional sebagai guru.
Discourse merupakan "language in use". Sedangkan, discourse analisis yaitu belajar tentang bagaimana bahasa digunakan yang mana dipengaruhi oleh konteks yang digunakan. Beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa fitur bahasa mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk mende-contextualized. Contohnya pohon. Tidak perlu ada pohon disekitar untuk dipahami.
The classroom adalah konteks utama dan paling jelas untuk wacana yang akan diperiksa. Namun, konteks untuk analisis wacana jg meluas di luar kelas, dan dalam komponen yang berbeda dalam classroom talk, untuk mencakup konteks yang mempengaruhi apa yang dikatakan dan bagaimana hal itu ditafsirkan di dalam kelas. Penelitian kelas diberbagai situasi telah menunjukkan bahwa interaksi kelas secara dramatis terhadap jenus bahasa dan peristiwa lliterasi yang didorong atau dibiarkan (Mc Groarty, 1996). Sedangkan wacana diluar konteks kelas memiliki berbagau kemungkinan yang lebih luas dapat diterima dan produktif.
Jadi, classroom discourse itu akan berkaitan dengan classroom discourse analysis. Analysis disini yaitu mengenai talk. Sehingga, classroom discourse akan memunculkan interaksi. Akan tetapi, tidak semua interaksi akan berjalan dengan baik, sehingga akan muncul masalah. Terdapat beberapa faktor terjadinya masalah, yaitu background different, communication strategy, goal-driven, dan meaning-making practise. Discourse merupakan language in use, yang mana terbagia menjadi teks dan konteks. Sehingga, manfaat classroom discourse yaitu untuk memunculkan mutual understanding, belajar bagaimana melakukan classroom discourse anaysis, waktu dalam melakukan itu dan untuk mempelajari teknik classroom discourse.




0 comments:

Post a Comment