Thursday, March 20, 2014


Ngomongin Ideologi


6th meeting of writing and composition. Pada class review kali ini akan membahas mengenai Writing is a matter of lightening ourselves, permasalahan makna idelogi, dan arti literasi menurut miko lehtonen. Untuk pembahasan yang pertama mengenai literasi dalam perspektif Lehtonen (2000).

Dalam sejarah umat manusia, bagi orang barat kegiatan membaca dan menulis menjadi hal yang umum dalam kehidupan sehari-hari. Membaca dan menulis dipertimbangkan sebagai skill khusus yang benar-benar tergantung pada pelatihan yang disengaja dan belajar sadar. Skill khusus tersebut khusus diperoleh hanya melalui kerja keras yang serius. Fakta yang bagus untuk meningkatkan bakat khusus tersebut adalah praktek literasi. Ada berbagai macam kegiatan dalam praktek literasi, misalnya saja objek membaca, diibaratkan dapat mencakup barometer pada daun teh atau ekspresi wajah. Dalam hubungan ini, ada juga berbagai jenis keterampilan membaca. Seseorang dengan kemampuan membaca fasih dapat memiliki keterampilan memadai dalam setiap membaca.
Menurut Lehtonen (2000), Literasi adalah kegiatan sosial dengan karakter. Hal ini dapat digambarkan sebagai praktek dimana orang yang membaca dapat menarik situasi yang berbeda. orang-orang memiliki berbagai jenis keterampilan membaca, orang memanfaatkan hasil pemikirannya dari cara yang berbeda dan dari berbagai bidang kehidupan. Namun, segala bentuk literasi mencakup kemampuan untuk mengontrol sistem yang berbeda dari simbol-simbol di mana realitas diwakili oleh pembaca.
Sebagai individu , kita semua telah mengembangkan literasi melalui berbagai tahapan dan pengalaman. Kemampuan untuk memahami teks ilmiah. Misalnya, membutuhkan pelatihan yang berbeda-bedadalam membaca teks sastra, dan itu harus belajar secara terpisah. Jika orang yang memiliki literasi, berarti sedang mentransfer pemikirannya dari satu dunia kedunia lain. Dalam keterampilan membaca dan menulis, caranya lebih metodis dalam interaksi linguistik informal, dan interaksi formal interaksi yang muncul dibandingkan dengan interaksi spontan. Aturan bahasa memperoleh lebih penting dari sebelumnya , dan sekaligus transfer dari pribadi ke wilayah publik membutuhkan suatu tepat atau waktu.
Menurut Lehtonen (2000), sudut pandang sejarah penyebaran literasi juga dapat diperkirakan telah berdampak pada konsepsi perubahan manusia. Dalam budaya lisan, diri belum tentu dipahami suatu entitas, seperti dalam budaya sastra. Kemudian kebiasaan seperti membaca oleh diri sendiri dan menulis catatan harian telah signifikan dalam penciptaan gagasan tentang diri yang solid. Mengubah diri menjadi teks juga berarti bahwa diri dapat diserahkan kepada pemeriksaan dan dapat dialami sebagai permanen kesatuan. Oleh karena itu, lahirnya modernisasi dapat dianggap tidak hanya terikat dalam pengembangan ranah diri pribadi, tetapi juga untuk penciptaan kurang lebih bahasa umum yang berlaku, untuk itu seperti dalam buku harian dan autobiographies.
Selanjutnya pembahasan mengenai Writing is a matter of lightening ourselves, menulis merupakan tindakan yang dapat mencerahkan diri manusia. Sebagai seorang yang berilmu, orang tidak akan bisa membawa perubahan terhadap orang lain, jika diri pribadi belum mampu tercerahkan. Seseorang tidak akan bisa menulis sebelum orang tersebut meniru (emulate) terlebih dahulu, karena meniru merupakan bagian terpenting dari menemukan, dan kemudian menciptakan.
Emulating => Discovering => Creating.
Kemudian mengenai ideology, dalam penulisan sejarah selalu berkaitan dengan pemenuhan ideologi (sense of belief). Penulisan sejarah bisa bersifat dari yang ada menjadi tidak ada, dan yang dari tidak ada hingga diada-ada seperti permainan sulap. Pemahaman mengenai sejarah dan literasi merupakan pemahaman yang value atau makna dari peristiwa sejarah tersebut. Jadi pada setiap teks, seharusnya akan selalu berbau ideologi.
Tulisan selalu memiliki pengaruh yang besar dalam cara berfikir dan cara bertindak seseorang. Pemahaman dan pemaknaan mengenai teks, memiliki keanekaragaman dengan berbagai style dan background pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing pembaca. Seorang pembaca bisa menjadi radikal-fundamental (konservatif-konvensional), dan bisa juga menjadi liberal-plural dalam memaknai sebuah teks. Tergantung pada pemikiran-pemikiran pembaca. Mengapa dalam tulisan atau teks selalu melibatkan pemenuhan ideologi penulis atau pembacanya, karena di dalamnya selalu melibatkan kepentingan penulis atau pembaca, baik kepentingan sosial, politik, ekonomi, agama dan lain-lain. Bahasa tulis merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan kepentingan penulis dan pembaca. Terkadang apa yang ditulis oleh penulis tidak selalu selaras dengan pembaca, hal itu disebabkan oleh pemenuhan ideologis sang penulis dan pembaca berbeda, ideologi merupakan pandangan tentang individu atau kelompok.
Menurut Fowler (1996: 12) mengatakan bahwa “Ideology is of course both a medium and an instrument of historical processes. Ideologi itu merupakan media dan juga intrumen dari proses sejarah tersebut. Media direalisasikan sebagai perantara, dan instrumen direalisasikan  sebagai sikap penulis dalam menulis. Kemudian menurut Fowler (1996), Ideologi itu selalu ada dalam setiap teks, baik dalam bentuk lisan, tulisan, audio, visual atau kombinasi. Sedangkan menurut Lehtonen (2000), dan Fairclough (1989; 1992; 1995; 2000), menjelaskan bahwa produksi teks itu tidak pernah netral. Terlebih lagi Prof. Chaedar Al-wasilah, juga mengatakan bahwa literasi itu tidak pernah netral, tetapi selalu memiliki cita rasa yang berbeda.
Kemudian statementWriting in college often takes the form of persuasion—convincing others that you have an interesting, logical point of view on the subject you are studying”, menulis dalam kampus merupakan suatu bentuk ajakan imtik meyakinkan orang lain dalam menarik minat yang sedang dipelajari. Ajakan tersebut dipraktekkan pada kebiasaan seseorang dalam aktifitas kehidupannya. Such as, in college, course assignments often ask us to make a persuasive case in writing.
Biasanya sebuah hanya memenuhi kepentingan ideologi penulis saja. Terlihat dalam tulisan howard zinn mengenai penceriteraan columbus. Pemenuhan ideologis atau kepentingannya, yaitu hanya menyorot kebengisan columbus saja, tanpa melihat sisi yang lainnya.

0 comments:

Post a Comment