Saturday, March 8, 2014



Perlengkapan Discourse (Text dan Context) Menuju Meaning
            Untuk mendapatkan cita rasa yang lezat dari sebuah makanan, diperlukan bahan serta bumbu yang jika dikombinasikan akan menghasilkan masakan yang enak. Tidak lupa, cara mengolahnya pun sangat berpengaruh.
            Pembahasan kelas seminggu lalu, memberikan bahan-bahan discourse yang terdiri dari text, context, dan artikel Howard Zinn. Untuk mengolahnya menjadi sebuah disk yang enak di lidah, itu cukup sulit. Sehingga Master Chef Lala Bumela M.Pd dalam hal ini memberikan rujukan resep dari Lehtonen (2000) dan Hyland (2009) yang membahas tentang discourse.
            Text dan context yang ada di dalam discourse, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mereka seperti sebuah resep atau perlengkapan perang untuk mencapai meaning (tujuan pembaca dan penulis). Text terbagi dalam dua bentuk, yaitu physical beings (fisik) dan semiotic beings (simbol). Keduanya menjadi satu paket karena text hanya akan menjadi simbol jika dia mempunyai bentuk fisiknya. Dengan kata lain, text juga berfungsi sebagai alat komunikasi atau sesuatu yang diproduksi manusia. Sehingga, text dapat di tulis di berbagai benda, mulai dari kayu, batu, besi, dan lainnya (Lehtonen, 2000:72).
            Berdasarkan pengertian text sebagai bentuk fisik dan simbol, dia dapat dijadikan sebgai catatan dan sejarah dari penulis, atau sesuatu yang ingin penulis bagikan. Dalam kasus kontroversial penemu Benua Amerika, salah satu situs di Internet menunjukan bukti berupa artefak (abad ke-7). Artefak tersebut berupa batu yang terukukir aksara Sequoyah yang mirip dengan Bahasa Arab (bertuliskan Muhammad). Hal tersebut memberikan meaning, bahwa sebelum Colombus datang (1492) pemeluk agama Islam sudah lebih dahulu datang kesana(Source: Indocropcircles.wordpress.com). aksara tersebut sebagai bentuk fisik dari teks, dan ia juga menjadi simbol dari bahasa Arab dan salah satu suku di Amerika.
            Teks sebagai bentuk simbol yang jika disatukan sesama jenis mereka, akan membentuk simbol lain. Lehtonen(2000:73) membaginya ke dalam 3 karakteristik, yaitu Matearility (physical), formal relationship between the sign contained in the text, dan meaningfulness (semantic meaning).
            Text bersifat matearility karena mereka memiliki materi yang selalu dapat di tulis, atau di diproduksi selama kita berbicara. Dengan kata lain, ia dihasilkan oleh tangan dan suara manusia yang berbentuk ujaran. Teks juga bersifat formal relationship yang terdiri atas simbol-simbol (unit/huruf), yang diletakkan secara tersusun dan bertahap. Mereka terorganisir dengan baik, sehingga dapat membentuk tingakatan yang berbeda, antara lain letter, words, sentences, dan keseluruhan dari teks tersebut. Disisi lain, teks bersifat meaningfulness karena ia mengarah pada makna yang mereka miliki. Sehingga, mereka dapat berupa fenomena, budaya, atau non-textual tergantung pada penulis yang merangkainya (Lehtonen2000:73).
            Teks disebut juga sebagai objek yang dapat di analisis dan di artikan secara bebas berdasarkan pada context, writer, dan reader. Dia memiliki struktur yang tersusun atas kata, klausa, dan kalimat yang terikat oleh grammatical. Berdasarkan teks sebagai objek, yang kemudian mempelajari komposisinya sebagai bahasa. Penulis menggunakannya sebagai bentuk dari penunjukkan kesadaran terhadap sistem atau peraturan untuk menciptakan teks (Hyland, 2009:8-9). Dengan kata lain, melalui teks penulis dapat meluapkan dan membagikan apa yang ia tahu. Sehingga teks tersebut menjadi objek dari bahasa si penulis.
            Disisi lain, teks tentu berperan dalam discourse karena ia merupakan cara yang digunakan bahasa untuk berkomunikasi, dan mendapatkan tujuan (meaning) dalam situasi (konteks) tertentu. Dalam hal ini, discourse mengarah pada language in action dan pada tujuan serta fungsi linguistik yang disajikan  dalam bentuk komunikasi. Disini penulis haur mempunyai tujuan yang pasti, hubungan yang baik dengan pembacanya, serta informasi yang akurat untuk menyampaikannya, dengan menggunakan referensi untuk memproduksi tulisannya. Faktor-faktor tersebut membuat analisis tentang teks ke dalam persfektif yang lebih luas. sehingga teks ditempatkan pada tujuan dunia komunikasi dan social action yang mengidentifikasi cara teks dalam bekerja sebagai ‘alat komunikasi’ (Hyland, 2009:12). Dapat dikatakan, bahwa teks merupakan alat komunikasi yang digunakan oelh penulis untuk membagikan informasi yang ada disekitarnya. Informasi tersebut ditunjang dengan referensi pendukung agar pembaca tidak ‘sangsi’. Benar saja jika hal tersebut mmbuat dunia teks merambah kepada persfektif yang semakin luas. Bagaimana tidak?  Teks yang biasanya kita anggap hanya sebatas ‘bacaan’, ternyata mampu menjadi alat komunikasi yang sangat diperhitungkan.
            Dalam kasus Hward Zinn (on article Speaking Truth To Power With Books), terlihat jelas ia memposisikan teks sebagai sesuatu yang sangat diistimewakan. Kenapa? Hal itu terbukti dari bebrapa ungkapannya, seperti "…books can change consciousness." Selain itu, secara eksplisit iamenganggap bahwa buku dapat merubah dunia seseorang melalui pola fikirnya. Melalui teks (buku), orang –orang akan menemukan fakta baru bagi apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Hal ini membuktikan prinsip dari Hyland (2009:12) tentang teks sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan pandangan si penulis yang di dukung dengan bukti guna meyakinkan si pembaca. Selain itu, tujuan dan informasi yang dia berikan tersirat jelas. Sehingga, ia dapat menjalin hubungan baik dengan pembacanya. Walaupun tidak semua pembaca menyetujuinya. Namun, respon pembaca itulah yang menjadikan artikel Zinn mengacu pada teks menurut Hyland. Hal ini karena kebebasan berfikir dan menganalisis teks menjadikan buku Zinn mengubah kesadaran para pembacanya.
            Komponen lain dalam discourse adalah context. Setiap teks pasti memiliki konteks yang berada disekelilingnya dan mampu menembusnya, baik secara waktu maupun tempat (mereka selalu menjadi satu kesatuan). Sehingga, sangat mustahil bila penelitian tentang meaning dari teks terlepas dari konteks. Apa lagi sejak teks di tetapkan sebagai semiotic beings, dia tidak akan ada tanpa reader, intertext, situation, dan fungsi yang setiap waktunya mereka saling terhubung. Context juga disebut sebagai pemisah ‘backgrounds’ dari teks (di luar teks) yang membantu menambahkan informasi untuk mencapai meaning. Oleh karenya, pembaca harus memiliki pengetahuan (contextual knowledge) untuk memunculkannya. Konteks memiliki beberapa faktor yang penulis dan pembaca masukkan ke dalam proses informasi menuju meaning (Lehtonen, 2000:110 dan 114). Dengan kata lain, konteks terpisah ari teks dan bersifat sebagai penunjang informasi. Namun, keberadaannya sangatlah penting dan sulit. Kenapa? Konteks dapat disebut sebagai solusi yang diciptakan writer dan reader untuk mencapai meaning. Menciptakannya diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang cukup memadai, agar apa yang ditulis mampu menyampaikan informasi yang dikehendaki.
            Versi lain tentang konteks menyebutkan, bahwa konteks merupakan rangkaian di sekeliling bahasa yang digunakan, sehingga ia bersifat konstitusi sosial. Bahkan, pendekatan linguistik melihat konteks dari pengeetian yang berbeda. Dia berasal dari teks dan jika dilihat dari situasi sosial, secara sistematis dikodekan (bagian) dalam discourse. Pendapat tersebut juga meyakini pendapat Halliday (1985) tentang context of culture, yaitu field, tenor, dan mode (Hyland, 2009:45-46). Menurutnya tidak seperti konteks situasi, pengaruh konteks budaya pada penggunaan bahasa lebih tersebar secara langsung dalam perjalanan ke arah level yang lebih abstrak (Hyland, 2009:47). Sehingga, konteks bukan saja ada di sekeliling teks, tapi di sekeliling bahasa juga. Hal ini karena di dalam teks juga tedapat bahasa, mereka juga sama-sama berperan sebagai alat komunikasi.
            Sedangkan konteks yang digunakan oleh Haward Zinn dalam artikelnya, sangat kental dengan berbagai situasi dan kondisi, yang ia rasakan dan tuangkan ke dalam bukunya. Hal tersebut seoerti konteks sosial, individual, agama, dan politik. Dalam hal ini, ia mengacu pada konteks yang dimaksudkan oleh Lehtonen (2000). Kenapa? Zinn banyak memasukkan faktor-faktor yang menjadikan proses informasi menuju meaning semakin kaya dan bahkan mampu menimbulkan pro-kontra. Artinya, ia telah berhasil membangunkan kesadaran pembaca dengan respon pemberontakan dari pembaca. Itu merupakan bantuan atau informasi tambahan yang dihasilkan konteks (situasi) yang penulis dan pembaca masukkan dalam teks tersebut. Memang dalam mengungkapkan konteks, Lehtonen dan Hyland merujuk pada ‘situasi’ di luar teks. Namun, tetap ada perbedaan di antara keduanya.
            Dapat disimpulkan, bahwa Lehtonen mendeskripsikan discourse lebih mengacu pada Semantic (arti kata) meaning, sedangkan Hyland lebih kepada Linguitic (bahasa). Keduanya memang mengarah pada satu tujuan tentang teks (human produce) dan konteks (situation arround of text). Pada dasarnya teks dan konteks merupakan satu kesatuan yang tak terpeisahkan. Kenapa? Dalam teks selalu terdapat konteks yang dalam pembuatannya (teks) penulis sudah menuangkan konteks di dalamnya, kemudian di tambah lagi ketika reader membacanya. Mereka sangat menentukan meaning melalui proses informasi yang mereka miliki.

0 comments:

Post a Comment