Saturday, March 8, 2014



Nama   : Resa Novianti
Class    : PBI_B
NIM     :14121310343

Menjamurnya Budaya Literasi Di Berbagai Negara

Budaya literasi merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki manusia dalam memajukan peradaban hidup. Menjamurnya  budaya literasi akan membuat masyarakat  menjadi tuan rumah di negeri sendiri atau yang terbiasa berpikir kritis dan melakukan kajian  ulang atas segala hal yang ada di sekitarnya.  Berbicara mengenai bahasa, tentunya tidak lepas dari pembicaraan mengenai budaya karena bahasa itu sendiri merupakan bagian dari budaya. Sehingga, pendefinisian istilah literasi tentunya harus mencakup unsur yang melingkupi bahasa itu sendiri, yakni unsur sosial budaya. Diskursus Asia-Afrika yang menjadi poros kekuatan yang pernah dibayangkan Presiden  Soekarno bisa menjadi kekuatan baru (new forces) untuk menghalau dominasi dua blok di dunia. Asia-afrika adalah inisiatif jenius politik Soekarno yang melihat sisi persatuan Asia-Afrika sebagai sebuah kekuatan progresif, bukan hanya bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan tawaran posisi politik, tapi juga kemakmuran  dalam bidang kebudayaan yang disebut juga dalam berdaulat dibidang politik, berdikari di ekonomi maupun berkepribadian bidang kebudayaan. Peristiwa Konperensi Asia-Afrika (KAA) yang dilangsungkan di Bandung pada 18 April 1955 itu kemudian menjadi sumber mata air inspirasi bagi penyelenggaraan serupa di beberapa bidang kebudayaan dan pers seperti Konperensi wartawan Asia-Afrika, Konperensi Pengarang Asia-Afrika, Festival Film Asia-Afrika,kemudian Konperensi Sastrawan Asia-Afrika yang digalang terus-menerus dan menjadi momentum bagi berlangsungnya kontak kesetiakawanan dan membangun relasi dunia untuk yang lebih spesifik. Salah satunya termasuk dalam dunia sastra yang mengikrarkan bersama melawan kolonialisme dibidang budaya untuk memajukan perdamaian dunia.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa masyarakat kita masih belum terbiasa dengan budaya literasi. Malah, kini ada budaya lisan baru yang bersifat audio visual, yang ditampilkan oleh telivisi, yang nyatanya lebih disukai dibanding budaya mengolah informasi dari sumber bacaan tertulis. Menurut Van Peursen (1989:141) manusia dapat belajar, lebih banyak daripada makhluk hidup lain, dan hasil pelajaran itu dapat dititipkan kepada bahasa, sehingga generasi yang akan datang dapat menampung hasil pelajaran itu, kalau perlu dapat menghafalkannya, sehingga tak ada sesuatu pun yang hilang. Dengan demikian apa yang dipelajari setiap generasi dapat menambah kekayaan  pengetahuan dari generasi terdahulu, sehingga pengetahuan dan pengertian akan semakin menggunung.

Sementara itu perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transformasi menyebabkan interaksi manusia yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang sosio-kultural yang beraneka ragam itu semakin tinggi. Kemampuan beradaptasi secara cepat dengan berbagai situasi budaya yang ada merupakan persyaratan mutlak untuk keberhasilan menjalin hubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang sosial budaya.

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Menurut Kimbey (1975: 662) kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya unsur paksaan. Kebiasaan bukanlah sesuatu yang alamiah dalam diri manusia tetapi merupakan hasil proses belajar dan pengaruh pengalaman dan keadaan lingkungan sekitar. Karena itu kebiasaan dapat dibina dan ditumbuh kembangkan. Sedangkan membaca (Wijono 1981, 44 dan Nurhadi 1978: 24) merupakan suatu proses komunikasi ide antara pengarang dengan pembaca, di mana dalam proses ini pembaca berusaha menginterpretasikan makna dari lambang-lambang atau bahasa pengarang untuk menangkap dan memahami ide pengarang. Sehingga kebiasaan membaca adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa ada unsur paksaan. Kebiasaan membaca mencakup waktu untuk membaca, jenis bahan bacaan, cara mendapatkan bahan bacaan, dan banyaknya buku/bahan bacaan yang dibaca.
            Kemampuan membaca merupakan dasar bagi terciptanya kebiasaan membaca. Namun demikian kemampuan membaca padadiri seseorang bukan jaminan bagi terciptanya kebiasaaan membaca karena kebiasaan membaca juga dipengaruhi oleh faktor lainnya (Winoto, 1994: 151), seperti ketersediaan bahan bacaan. Sedangkan, Gould (1991: 27) menyatakan bahwa dalam setiap proses belajar, kemampuan mendapatkan ketrampilan-ketrampilan baru tergantung dari dua faktor, yaitu faktor internal dalam hal ini kematangan individudan ekternal seperti stimulasi dari lingkungan. Zurkowski, orang pertama yang menggunakan konsep literasi informasi menyatakan bahwa orang yang terlatih untuk menggunakan sumber-sumber informasi dalam menyelesaikan tugas mereka disebut orang yang melek informasi (information literate). Mereka telah mempelajari teknik dan kemampuan menggunakan alat-alat dan sumber utama informasi dalam pemecahan masalah mereka (Behrens, 1994 : 310).
            Menurut Chomsky (1957) pendekatan kognitif dan transformatif sebagai implikasi dari teori-teori syntactic structure,berfokus pada pembangkitan (generating) potensi berbahasa siswa sesuai dengan potensi dan kebutuhan lingkungannya. Materi yang diajarkan kepada siswa berorientasi ke sintaksis. Communicative competence yang tokoh-tokohnya antara lain Hymes(1976) dan widdowson(1978) menyatakan bahwa tujuan bahasa adalah mampu berkominikasi dalam bahasa target, mulai dari komunikasi terbatas sampai dengan komunikasi spontan dan alami. Dalam komunikasi manusia tidak sekedar memproduksi  ungkapan yang komunikatif dan bernalar. Komunikasi tulis (mengisi formulir) bukan kegiatan netral, melainkan keputusan politk ekonomi. Pendekatan komunikatif juga dianggap kurang eksplisit dalam upaya menjelaskan bentuk dan fungsi sehingga lahir tata bahasa fungsional atau Systemic Functional Grammar (SFG) yang di kembangkan oleh Halliday(1985); Martin (2000).
            literasi melalui pendekatan genre di samping sebagai implikasi dari studi wacana ,tujuan pembelajarannya  adalah menjadikan siswa mampu menghasikan wacana yang sesuai dengan tuntutan konteks komunikasi yang sangat menonjol dalam pendekatan ini adalah pengenalan berbagai genre wacana lisan maupun tulisan untuk di kuasai oleh siswa.
Menurut The National lyteracy di Amerika Serikat, 1991. Kemampuan individu untuk membaca, menulis dan berbicara dalam bahasa inggris dan memperhitungkan dan mengatasi masalah pada level keahlian penting untuk fungsi dalam pekerjaan dan lingkungan sosial, untuk mencapai satu tujuan dan untuk mengambangkan pengetahuan dan potensial. Menurut A.chaedar literasi tetap berurusan dengan penggunaan bahasa dan kini merupakan kajian lintas disiplin yang memiliki 7 dimensi yang saling terkait yaitu : Dimensi Bidang (Pendidikan, komunikasi,administrasihiburan, militer dsb), DimensiGeografis (lokal, nasinal, regionnal, internasional), Dimensi Fungsi (problem solving, job, improve knowledge,improve skills), Dimensi Media (teks, cetak, visual, digital), Dimensi jumlah (satu, dua, beberapa), Dimensi Keterampilan (membaca, menulis, Dimensi Bahasa (etnis lokal, nasional, regional,internasional).
Selanjutnya literasi merupakan  cerminan kemajuan bangsa . Para Antropolog bahasa, seperti Lucian Levy-Bruhl, Claude Levi-Strauss, Walter Ong, dan Jack Goody memandang literasi (bahasa) sebagai titik pangkal pembeda masyarakat primitif dari masyarakat “beradab” (Ma’mur, 4:2010). Dengan demikian, untuk membuat pembaruan dalam negeri, para intelektual muda—yang dalam hal ini adalah mahasiswa—dituntut untuk aktif menjadi opinion leader melalui publikasi tulisan dan kemampuan berbahas asing.  
Bahasa merupakan cermin identitas sebuah bangsa. Bahasa meretas batas-batas geografis dengan keanekaragaman budayanya. Tanpa bahasa, tak ada wacana yang bisa diangkat, didiskusikan, dan dibumikan secara nyata. Di era globalisasi seperti saat ini, sebuah bangsa dapat menjangkau peradaban dunia melalui gerbang bahasa, yaitu kemampuan membaca dan menulis (budaya literasi).
Menurut Besnier (dikutip dalam Duranti, 2001; Ma’mur, 2010) dalam Key Concepts in Language and Culture sebagai “communication though visually decoded inscriptions, rather than though auditory and gestured channels”, literasi adalah komunikasi melalui inskripsi yang terbaca secara visual, bukan melalui saluran pendengaran dan isyarat. Inskripsi visual di sini termasuk di dalamnya adalah bahasa tulisan yang dimediasi dengan alfabet (aksara).
Salah satu tantangan terbesar dalam pemberdayaan bangsa ini adalah meninggalkan tradisi lisan (orality) untuk memasuki tradisi baca tulis (literacy) (Suroso, 11:2007). Bagaimanapun, era informasi telah menciptakan ruang yang luas terhadap tumbuh kembangnya media tulis. Data dari Association For the Educational Achievement (IAEA), misalnya, mencatat bahwa pada 1992 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Sementara itu, dari 30 negara, Indonesia masuk pada peringkat dua dari bawah. Perbandingannya dengan saat ini barangkali tidak berbeda jauh jika melihat indikator yang ada.
Selain itu, dalam menjawab tantangan global, transfer IPTEK dapat berhasil jika masyarakat menguasai kemampuan membaca dan menulis. Diperlukan kemampuan yang profesional untuk mengasah daya kritis serta mengadopsi nilai-nilai positif dari bangsa maju. Belajar dari sejarah peradaban besar, menggiatkan budaya literasi dapat mendorong tumbuhnya inovasi baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Socrates, misalnya, para siswa di Yunani (kota lahirnya para filosof), diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Begitu juga di zaman peradaban Islam, budaya literasi semakin berkembang ketika Khalifah al-Ma’mun membangun akademi terbesar di dunia bernama Bayt al-Hikmah, yaitu pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai pusat studi, perpustakaan yang lengkap dengan kegiatan keilmuan lainnya (Zarkasyi, 94:2009). Sehingga, banyak penemuan baru dalam perkembangan sains dan disiplin ilmu lainnya.
Melihat dari sejarah, dalam konteks perguruan tinggi, budaya literasi merupakan hal yang sangat penting digiatkan. Semuninterestedness (ketanpapamrihan), tidak berdasarkan tendensi politik sesaat, serta memberikan ruang terbuka untuk menguji objektifitas kebenarannya. Oleh karena sifatnya yang masih idealis, respon intelektual yang diciptakannya bersifat wajar dan murni (Berly, 69: 2000)
akin zaman berkembang, tentu saja tantangan yang ada semakin menuntut mahasiswa untuk bisa menjembatani jurang realitas. Para intelektual muda diharapkan mampu memberikan gagasan yang segar untuk perubahan bangsa. Bagaimanapun, sebagai intelektual muda di perguruan tinggi, mahasiswa mendasari gerakannya dengan karakterisitik keilmuan yang memiliki berbagai sifat, antara lain; Pertama, universalisme (berlaku universal, tidak di satu tempat), menyentuh dasar-dasar hati nurani dan akal sehat; Kedua,
Lebih jauh, Botomore menjelaskan bahwa intelektual adalah kelompok kecil yang secara langsung memberikan kontribusi kepada pengembangan, transmisi, dan kritik gagasan-gagasan (Azra, 33: 1998). Dengan demikian, tugas seorang mahasiswa sejatinya adalah menyampaikan gagasan kritis tersebut dan menuangkannya menjadi sebuah tulisan. Kemampuan menulis tentu saja harus didukung dengan budaya membaca. Jika budaya literasi dapat digiatkan secara optimal, bukan tidak mungkin para mahasiswa mampu menjadi opinion leader, baik di tingkat lokal, maupun tingkat global.
Seperti fakta sejarah Amerika yang diungkapkan oleh Howard Zinn, seorang sejarawan, penulis, serta aktifis sosial  asal Amerika yang mampu mengubah fokus karya sejarah.   Dalam bukunya berjudul A People's History of the United States yang ditulis dalam artikelnya Speaking Truth to Power with Books, yang mengagetkan seluruh warga dunia tentang bias sejarah yang terjadi dalam sejarah benua Amerika. Keberanian Zinn mengungkap sisi gelap benua Amerika, yang tak sedikit menuai protes tidak hanya dari rakyat Amerika namun seluruh dunia. Tak tanggung-tanggung yang menjadi sasaran tembaknya adalah Christoper Columbus. Ia mematahkan segala pemikiran orang-orang yang beranggapan bahwa Christoper Columbus adalah seorang discover, bahkan seorang pahlawan. Zinn mengungkap Columbus yang selama ini diagung-agungkan sebagai penemu benua Amerika bahkan ada peringatan tentang hari Columbus sedunia yang mereka (Bangsa Amerika) sebut sebagai Columbus Day.  Bangsa Amerika berpandangan bahwa Columbus adalah seorang yang sangat berjasa yang telah merevolusi kehidupannya ke arah yang lebih baik, Columbus adalah seorang pahlawan bagi mereka, penemu besar, dan seorang yang taat beragama.  Namun di balik itu semua, Zinn mengungkapkan bahwa Columbus tidak semulia yang mereka ketahui.  Columbus adalah sosok yang arogan, pembunuh, penyiksa, penculik, tamak terhadap harta khususnya emas, memutilasi dan menggantung penduduk pribumi ketika ia sampai di benua Amerika demi mencari dan mendapatkan emas Columbus membunuh penduduk pribumi benua tersebut.
Kelemahan Zinn dalam artikel tersebut dapat menguak tentang kebenaran sejarah Columbus yaitu kurangnya bukti-bukti yang berkaitan dengan bantahannya terhadap Columbus.  Melalui literasi, Zinn memang berhasil menguak fakta-fakta tentang Columbus bahwasanya Columbus bukanlah seorang yang patut diteladani. Dituliskan dalam artikel tersebut Zinn mengungkapkan bahwa melalui teks sejarah terbongkar bahwa Columbus adalah seorang yang berwatak keras, pembunuh, penyiksa, penculik, mutilator, munafik, orang yang tamak terhadap harta, dan sebagainya.
            Untuk beberapa abad, Christopher Columbus diyakini sebagai penemu benua Amerika. Tapi itu kemudian terbantahkan. Bahkan Columbus sempat terkejut, dia menemukan masjid di benua itu. Columbus lahir pada 30 Oktober 1451 dan meninggal 20 Mei 1506 pada usia 54 tahun. Dia seorang penjelajah dan pedagang yang menyeberangi Samudra Atlantik dan sampai ke benua Amerika pada tanggal 12 Oktober 1492 di bawah bendera Castilian Spanyol.
Menurut catatan Wikipedia, Colombus mengira pulau tersebut masih perawan, belum berpenghuni sama sekali. Mereka berorintasi menjadikan pulau tersebut sebagai perluasan wilayah Spanyol. Tetapi setelah menerobos masuk, Columbus ternyata kaget menemukan bangunan yang persis pernah ia lihat sebelumnya ketika mendarat di Afrika.
Bangunan megah itu adalah Masjid yang dipakai oleh Orang-orang Islam untuk beribadah. Semula Columbus disambut dengan ramah oleh suku Indian, tetapi setelah ketahuan niat buruknya datang di pulau itu, Colombus banyak mendapat resistensi dari penduduk setempat. Beberapa armada kapal milik rombongan Colombus ditenggelamkan oleh suku Indian sebab mereka merasa terganggu dan terancam oleh kedatangan Colombus.
Namun menurut Gavin Menzies pememu pertama Benua Amerika adalah Laksamana Zheng He (kita mengenalnya dengan Ceng Ho). Tampil penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina. Bersama bukti-bukti yang ditemukan dari catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa pelaut serta navigator ulung dari masa dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus.
Bahkan menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’ Columbus dengan rentang waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat kehebohan lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa Columbus-lah si penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Pernyataan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah. Adalah sebuah peta buatan masa sebelum Columbus memulai ekspedisinya lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Zheng He yang dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu.
”Laksamana inilah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai penemu pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern seperti melalui program software Starry Night.
"Kisah tradisional bahwa Columbus menemukan 'dunia baru' adalah fantasi belaka," kata dia seperti dimuat Daily Mail, 8 Oktober 2013.
Ia bahkan yakin, Columbus memiliki salinan peta Cheng Ho saat mengarungi samudera menuju Amerika.
Menzies juga mengatakan, armada megah kapal China yang dipimpin Cheng Ho berlayar di sekitar daratan Amerika Selatan, 100 tahun sebelum Ferdinand Megellan -- orang pertama yang berlayar dari Eropa ke Asia, orang Eropa pertama yang melayari Samudra Pasifik, dan orang pertama yang memimpin ekspedisi yang bertujuan mengelilingi bola dunia.
Lebih jauh lagi, Menzies mengklaim, pemukim pertama Belahan Bumi Barat tidak berasal dari 'Jembatan Selat Bering', tapi pelaut China yang pertama melintasi Samudera Pasifik sekitar 40 ribu tahun lalu.
Ia juga menulis, penanda DNA membuktikan Indian Amerika dan pribumi lainnya adalah keturunan para pemukim dari Asia.
Jadi bisa di tarik bahwa Begitu hebatnya kekuatan dari buku itu sehingga buku merupakan instrumen yang berdaya kuat, mencengkeram erat, menggetarkan dan berkuasa mengubah arah peristiwa-peristiwa yang lalu, sekarang ataupun yang akan terjadi dan yang bisa diarahkan untuk kebaikan maupun keburukan bagi kemaslahatan suatu bangsa dan Negara.




Reverensi :
Howard, Zinn. (1980). A People’s History of The United States. United States: Harper & Row; HarperCollins















0 comments:

Post a Comment