Saturday, March 8, 2014




Mencari jarum di tumpukkan jerami tak semudah membalikkan telapk tangan. Hanya saja dengan keuletan dan kesungguhanlah yang akan yang akan membawa diri seseorang untuk lebih mudah meraih apa yang diharapkan. Begitu pula dengan apa yang akan dibahas di sini yaitu “Classroom Discourse to Foster Religious Harmony” yang di tulis oleh Prof. Chaedar Al-Wasilah.

Nampaknya tak perlu panjang lebar apa yang akan dikembangkan di sini. Perlu kita ketahui bahwa proses belajar-mengajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak lepas pula dari peran dunia pendidikan. Dalam sitem belajar-mengajar tentunya banyak sekali usaha atau upaya yang beragam yang dilakukan guru agar apa yang beliau ajarkan mudah diterima oleh peserta didiknya.

Masih sama penjelasan sebelumnya bahwa pendidikan yang baik merupakan karena baiknya hubungan atau interaksi belajar-mengajar di dalamnya. Ada dua hal yang akan dibahas di sini yaitu mengenai classroom discourse dan religious harmony. Classroom discourse merupakan suatu proses interaksi belajar-mengajar yang di dalamnya terkandung guru dan murid dan terdapat proses teaching dan learning.
Interaction : Teacher and student à talk
o        Background
o        Communication strategies
o        Goal-driver : kognitif, afektif, dan psikomotorik
o        Madming-making practice

Dari gambaran table singkat di atas membuktikan bahwa banyaknya proses interaksi yang terjalin dibidang pendidikan. Terdapat suatu pernyataan mengenai classroom discourse menurut Yogni Zhang, that :

“Student learning closely linked to the quality of classroom talk.”

Argument di atas menegaskan bahwa suatu system pendidikan yang di dalamnya memiliki kualitas yang utuh adalah bagaimana diri siswa untuk dapat berinteraksi dengan temannya hingga gurunya. Classroom di sini lebih mengembangkan ke aspek system teaching-learning.

Banyak cara yang dapat digunakan oleh seorang guru dalam menciptajan suatu kerukunan dengan peserta didiknya. Untuk anak seusia SD masih tidak labil dan masih terlalu mempercayai budaya lisan dan memang bahwa siswa lebih suka dengan kondisi lingkungan sekitar yang sedang ia jalani sekarang.

Beralih ke religious harmony, yang merupakan suatu upaya untuk menyatukan suatu dalam perbedaan khusunya perbedaan agama. Untuk mencapai pendidikan dengan kualitas terbaikmerupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru. Banyaknya latar belakang yang beragam, hal ini menjadi perhatian penting bagi para pendidik untuk lebih giat lagi membimbing para siswanya agar tetap dapat mempelajari dari segala sesuatu perbedaan.


Dari dahulu hingga sekarang, literasi Indonesia masih menempati urutan terendah tingkat ASEAN bahkan dunia. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi warga Negara yang baik ialah cukup dengan listening-oriented dan speaking-oriented. Perbedaan dan beragaman hanyalah masing-masing unit sebagai pelengkap dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.

Classroom discourse to nfoster religious harmony tidak akan pernah terpisahkan dari komponen-komponen yang terkandung di dalamnya dan terdapat nilai-nilai yang tercantum dalam siladari pancasila sebagai dasar Negara. Selain itu, komponen-komponen yang mempengaruhi perbedaan dalam system teaching and learning, yaitu:
·                        --> Background
Bacjground merupakan latar belakang dari tiap siswa yang beragam. Seperti halnya dengan asal daerah, status, ekonomi dan lain sebagainya. Dari latar belakang yang berbeda, siswa diharuskan untuk memahami satu sama lain dan diajarkan bagaimana caranya dapat saling toleransi satu sama lain.
·                        --> Communication Strategies
Communication strategies di sini merupakan upaya yang dilakukan seorang guru untuk memancing muridnya agar menjadi siswa yang aktif dan tidak enggan untuk berkomunikasi satu sama lain.
·                        --> Goal-Driver
Goal-driver merupakan suatu tujuan yang  diharapkan pendidik akan perkembangan siswanya. Semua itu tidak lepas dari tiga komponen keci yangsaling mempengaruhi yaitu kognitif, afektif, dan psokomotorik.

Kita sangatlah berbeda, begitu pula dengan mereka yang bersifat beragam. Akan tetapi apakah dengan keberagaman tersebut mereka dapat menciptakan suatu kerukunan dan toleransi antar teman lainnya? Hal ini seharusnya dijadikan perhatian khusus bagi para pendidik, terutama upaya membangun literasi anak bangsa. Literasi berawal dari rasa toleran terlebih dahulu terhadap sesuatu, dan toleransi juga aspek yang penting dalam mendukung suatu kerukunan, ketertiban bahkan terjalinnya kesatuan dibalik keberagaman individu.


Di dalam kelas dengan system teaching-learning harus diupayakan oleh pendidik perihal meluangkan atau memberikan waktu seluas mungkin kepada siswa untuk berlatih mencari dan mendengarkan (listening and speaking (talking)). Ini merupakan cara yang tepat untuk menciptakan suatu interaksi di kelas. Nystrand memeparkan sesuatu mengenai classroom discourse :

“indicates that talk is necessary for the building of the brain itself as a physical organism and thereby expanding its power.” Moreover, there quality of classroom discourse is of great importance because it sets suitable climate for learning and transmitting teachers ‘expactations for their pupils’ thinking” (Nystrand, 1997 28 )

Bukan hanya itu, classroom discourse memiliki dua system yang berbeda di dalamnya, yaitu :
a)     Tradisional lessons : Teacher initation, student response, and teacher evaluation
b)    Non-tradisioanl lessons

Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam suatu kelas antara guru dan siswa harus selalu berkomunikasi melalui talking-teaching. Guru harus mengajarkan kepada peserta didik akan pentingnay bertoleransi antara sesame yang dimiliki perbedaan latar belakang baik itu social, budaya, agama, etnis dan sebagainya. Hal tersebut diupayakan agar siswa enggan untuk melakukan suatu hal yang tidak diharapkan.

0 comments:

Post a Comment