Monday, March 10, 2014

10:55 PM

Classroom Discourse: Kunci Membentuk
“Religious Harmony”
            Hari terasa tak karuan ketika ingin melihat comment yang telah Pak Lala berikan kepada hasil critical review pertama menngenai “Classroom Discourse to Foster Religious Harmony”. Ternyata, ketika saya melihat comment yang Pak Lala (dosen Writing 4) mengenai hasil critical essay saya di blog, hati saya merasa campur aduk dibuatnya. Comment Pak Lala terhadap critical essay saya di blog berbunyi:
“Enak juga masakan kamu. Keterhubungan antara Pancasila, pendidikan multicultural, classroom discourse, dan religious harmony nampaknya  belum berbentuk dengan ajeg.”
            Comment yang Pk Lala berikan kepada saya tidak menjadikan saya terlena atas itu. Justru membuat saya lebih terpacu lagi untuk melakukan yang lebih baik. Tapi, apa yang beliau katakana benar bahwa keterhubungan antara Pancasila, pendidikn multikutural classroom discourse, dan religious harmony belum terbangun atau berdiri secara kooh. Saya akui itu, bahwa critical review pertama saya masih jauh dari apa yang Pak Lala harapkan. Pak Lala mengatakan saya sebagai kritikus tidak boleh terlalu condong kepada salah satu pihak saja. Contohnya, saya lebih membahas mengenai hal negative dari Liberalisme, sedangkan hal positif dari Liberalisme tidak saya bahas. Jadi harus adanya keseimbangan dari setiap statement atau critical review yang saya sajikan sebagai kritikus.
            Sebenarnya Pak Lala sedang “menjebak” kita dengan classroom discourse. Alhasil kita terperangkap dan gagal membahas classroom discourse. Kita cenderung seperti bola billiard yang lari ke berbagai arah. Ada yang lebih membahas multicultural, pendidikan, kerukunan beragama, dan lain-lain.
            Untuk lebih dalam menelisik mengenai classroom discourse, kita harus berangkat dari pemahaman classroom discourse terlebih dahulu. Dalam bahasa Indonesia, classroom discourse yaitu satuan bahasa terlengkap, dalam hirarki grammatical yang menjadi satuan tertinggi atau terbesar (Kridalaksana 2011). Menurut Louis Marianne (2002), wacana merupakan proses bagaimana seseorang berbicara dan mengerti apa yang dibicarakan dan didengarnya yang mencakup aspek kata yang diucapkan. Sedangkan menurut Abdul Chaer (2004), wacana merupakan gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam situasi tertentu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa wacana adalah proses dimana seseorang menyampaikan ujaran untuk dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak terlepas dari system dan kaidah bahasa yang berlaku.
            Selanjutnya, kita membahas mengenai kelas, kelas dapat dibagi ke dalam 2 perspektif, yaitu :
1.      Dalam arti sempit yaitu ruangan yang dibatasin oleh empat dinding (persegi), tempat dimana sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran.
2.      Dalam arti luas yaitu suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah sebagai satu kesatuan diorganisasi yang menjadi unit kerja yang dinamis, menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan.
            Classroom discourse pada umumnya selalu mengacu pada penelitian, analisis, dan merujuk pada bahasa yang guru dan siswa gunakan untuk berkomunikasi. Menurut penjelasan Pak Lala, dapat saya simpulkan bahwa classroom discourse adalah sebuah analisis yang berat, yang mana di dalamnya terdapat interaksi. Imnteraksi yang terjadi di sebuah kelas terdidri dari interaksi murid dan guru. Tidak hanya guru dan murid saja tetapi harus ada interaksi antara murid dengan murid. Interaksi ini yaitu berupa “talk” atau pembicaraan.interaksi dibagi ke dalam empat unsure, yaitu background, communication strategis, goal-driver, dan meaning making practices.Meaning making practices ini akan merajuk kea rah religious harmoni. Selain itu, values dan ideologies yang ada di kelas juga akan merujuk pada religious harmoni. Akhirnya, religious harmoni akan menghasilkan mutual understanding dan terakhir akan melahirkan sebuah toleransi.
            Berikut merupakan “classroom discourse” menurut Betsy Rymes. Besty Rymes mengatakan bahwa pada saat di kelas, guru, dan siswa bergiliran pada saat berbicara, memperkenalkan topik, menggunakan beberapa bahasa, bercerita dengan cara yang berbeda dan mengatasi berbagai permasalahan yang ada di kelas. Ini cara yang berbeda untuk mempengaruhi praktik sehari-hari.
Manfaat classroom discourse
1.      Untuk memahami secara umum perbedaan komunikasi antara kelompok-kelompok sosial
2.      Belajar bagaimana melakukan analisis wacana kelas (bukan hanya analisiswacana membaca)
3.      Bila guru memahami berbagai bentuk pembicaraan di kelas, prestasi sekolah akan meningkat
4.      Bagi sang guu, dapat meningkatkan pengalaman keseluruhan mengajar dan membuat guru terlibat secara intrinsic dalam kegiatan professional (sebagai guru)
           
            Analisis wacana adalah studi tetang bagaimana bahasa digunakan dan dipengaruhi oleh konteksnya. Di dalam kelas, konteks dapat berkisar dari pembicaraan dalam pelajaran, ceramah analisis kelas menjadi wacana kritis ketika para peneliti mengambil efek dari konteks variable tersebut menjadi pertimbangan dalam analisis mereka.
            Harus kita bergantung kepada konteksnyaui bahwa sebuah kata yang semestinya dilontarkanbergantung pada konteksnya. Dalam buku Betsy Rymes yang jelas “classroom discourse” adalah konteks utama dan paling jelas untuk sebuah wacana. Namun, konteks untuk analisis wacana kelas juga meluas diluar kelas dan dan dalam komponen yang berbeda dari pembicaraan di kelas. Konteks dapat dibatasi oleh batas-batas yang sesuai bahasa yang digunakan di rumah dan yang digunakan di sekolah.
            Dari p interaksi enjelasa diatas mengenai classroom discourse dapat disimpulkan bahwa classroom discourse itu menyangkut berbagai macam aspek, seperti interaksi di kelas. Harus adanya interaksi yang baik antara guru dengan murid, karena interaksi itu dipengaruhi oleh empat unsur, yaitu background, communication strategies, goal-driver, dan meaning making practice.
            Meaning-making practice, value, dan ideologies akan mengarah kepada kerukunan umat beragama. Intinya, untuk menciptakan kata “toleransi”, dapat dimulai dengan melalui classroom discourse. dapat dikatakan bahwa classroom discourse merupakan salah satu kunci dari kerukunan umat beragam atau religious harmoni.

0 comments:

Post a Comment