Saturday, March 1, 2014

11:17 PM
1



Kekuatan Buku Dapat Menggemparkan Dunia

Dalam buku yang berjudul “Anthropology off the shelf Anthropologists on writing”, tepatnya pada artikel yang berjudul “Speaking truth to power with books” yang ditulis oleh Howard Zinn. Terdapat beberapa tanggapan mengenai misteri tentang kebenaran Christopher Colombus, yang dianggap oleh para kaum Indian sebagai penjahat kemanusiaan. Menurut Howard Zinn bahwa realitanya Christopher Colombus itu bukanlah pahlawan, dan orang yang berfaham komunis, juga bukan penemu benua amerika. Colombus adalah penjahat, orang yang serakah, pembunuh, penindas kelompok ras hitam yang ada di benua amerika. Tetapi, dalam dunia eropa nama Christopher Colombus disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali menemukan benua amerika serikat. Berdasarkan kedua tanggapan atau argument tersebut, yang menjadi tolak ukur speaking truth to power adalah siapa itu colombus sebenarnya.
The truth that makes men free is for the most part
the truth which men prefer not to hear.
--Herbert Agar, A Time for Greatness (1942)
Membahas Speaking truth to power mungkin yang tertua dan, tentu saja, salah satu yang paling sulit dari tantangan etika dan kesadaran karena untuk melakukannya diperlukan personal danger’. Dari hari manusia diturunkan sampai hari yang sangat baru-baru ini, para pemimpin suku, presiden, dan raja adalah orang-orang yang memerintah dengan kekuatan. Sebuah frase yang diciptakan oleh Quaker selama di pertengahan 1950-an. Dulu istilah “speaking truth to power” merupakan sebuah seruan bagi Amerika Serikat untuk berdiri teguh melawan fasisme dan bentuk lain dari totalitarianisme, yang merupakan frase yang rujukannnya membuat bingung pihak politik. Dengan alasan para pendiri Amerika Serikat mempertaruhkan nyawa mereka untuk bersumpah, dan itu dianggap berani, meskipun lebih sering dicemooh pada zaman sekarang ini.
Ungkapan "Speaking truth to power" sebenarnya berasal dalam konteks di mana artinya jauh lebih bermasalah. Slogan itu dikembangkan Quaker selama pertengahan abad ke-20. Speaking truth to power adalah perubahan mendasar dalam cara orang berpikir tentang kekerasan dan bagaimana untuk menolaknya. Speaking truth to power adalah sebuah komitmen untuk perdamaian yang harus memanfaatkan dirinya dalam segala sesuatu yang orang lakukan. Meskipun demikian, makna ungkapan speaking truth to power telah bermetamorfosis. Ungkapan "Speaking truth to Power" sekarang ini telah menjadi sesuatu yang klise bagi orang-orang. Tersirat dalam kalimat itu beranggapan bahwa gagasan kebenaran adalah jelas wajar bagi siapa saja untuk mengetahuinya. Dulu pengaplikasian “speaking truth to power” dilakukan hanya dengan melalui pembicaraan atau sumpah secara langsung.
Pada sekarang ini, pengaplikasian suatu “speaking truth to power” akan hilang jika dilakukan hanya dengan berbicara langsung saja. Tetapi jika berbicara suatu kebenaran melalui buku dapat dijadikan sebagai bukti yang dipertanggung jawabkan keabsahannya atau sah ( referensi yang jelas ). Oleh karena itu, ketika suatu kebenaran hanya dilakukan dengan berbicara maka akan langsung hilang pada saat itu juga. Hal tersebut bisa diimplikasikan pada Sejarah. Sejarah jika hanya direpresentasikan melalui mulut ke mulut tanpa ditulis, sejarah tersebut akan hilang. Seperti diibaratkan orang yang sedang menuntut ilmu, bahwasanya “Ilmu pun jika tidak diikat dengan tulisan akan hilang, tulisan merupakan suatu media untuk mengikat pengetahuan yang diperoleh baik melalui komunikasi verbal ( Lisan ) maupun dokumental ( tulisan ). Mayoritas orang lebih cenderung membenarkan apa yang hanya mereka dengar dari kyai, pendeta atau petinggi ( pemerintah), padahal realitanya untuk membuktikan fakta tersebut kita juga harus membaca. Tidak hanya langsung melahap mentah-mentah konsep pembicaraan yang sudah terbangun tersebut, kita harus mengkonsep ulang dengan cara mengkritisi serta harus mencari referensi lain ( fakta dan bukti ) mengenai hal yang sedang dibicarakan tersebut.
Seperti contohnya perdebatan mengenai penemu benua Amerika yang sebenarnya. Orang-orang mungkin sudah mengetahui cerita kisah tersebut lewat pembicaraan dari mulut ke mulut atau mungkin murid-murid sudah mengetahui dari cerita gurunya mengenai fakta sejarah mengenai Christopher Columbus, tokoh yang selalu disebut-sebut sebagai penemu benua Amerika pada waktu pelajaran di sekolah. Padahal, dibalik itu semua ada banyak kebohongan yang sangat mencengangkan ketika para penulis dan peneliti sejarah menguak sejarah Christopher Columbus. Rasa penasaran ini berdasar pada kenyataan, bahwa setiap tahun ada satu hari khusus yang disebut “Columbus Day” sebagai peringatan atas jasanya sebagai penemu Benua Amerika.
Di Indonesia memang tidak secara langsung terkena dampaknya, namun pemahaman yang diterima dalam dunia pendidikan formal tentang betapa hebatnya Columbus, tentu akan menghapuskan kebenaran. Semoga guru-guru dan murid-murid di sekolah, tidak menelan mentah-mentah isi buku maupun teks pelajaran sejarah tentang Christopher Columbus ini.
Christopher Columbus dikenal sebagai penemu benua Amerika dan dipandang sebagai pahlawan abad pertengahan oleh banyak sejarawan masa kini. Pada tahun 1496, orang spanyol ini melakukan sebuah perjalanan ke Amerika yang kemudian mendarat untuk pertama kalinya disebuah pulau di sekitar Bahama. Columbus melakukan perjalanan bersama armada tiga kapal yang bernama Nina, Pinta, dan Santa Maria yang saat ini dikenal sebagai Discovery of America atau Discovery of the Americas.
Dimata suku asli Indian Amerika, Christopher Columbus adalah penjahat kemanusiaan. Puluhan juta suku asli Indian musnah olehnya. Berdasarkan dua peneliti dari Universitas California, Sherburne dan Woodrow, tahun 1496 Christopher Columbus datang ke benua Amerika. Kemudian tahun 1498, dunia internasional menganggap Columbus sebagai penemu benua amerika akibat pelayarannya ke benua Amerika. Penemuan itu menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan bagi bangsa Eropa yang saat itu berkeinginan untuk kolonisasi bangsa Eropa di masa yang akan datang. Setelah pengakuan dunia internasional tersebut, Christopher Columbus melakukan pembantaian terhadap warga pribumi di tahun 1508-1518, dari 8 juta jiwa arawak hanya tinggal tersisa 100.000 orang Arawak. Bahkan di tahun 1514, orang Arawak dewasa tinggal 22.000 jiwa. Padahal, di tahun 1492 jumlah orang Arawak 8 juta jiwa.
Peneliti lain, Cook dan Borah menulis angka 27.800 (1514). “Dalam jangka waktu 20 tahun, Columbus telah membantai 90% bangsa Arawak, yang pada awalnya berjumlah 8 juta jadi tinggal 28.000-an orang.”(!)
Selama kurang seabad Columbus di benua baru, sekitar 95 juta orang telah dibunuh secara kejam. Saat Columbus tiba di Amerika, ada 30 juta orang penduduk pribumi. Namun beberapa tahun kemudian jumlahnya menyusut tinggal 2 juta. Dalam buku berjudul “The conquest of Paradise: Christopher Colombus and the Columbian Legacy” (1991). Kirk Patrick Sale menyatakan, “Ini lebih dari suatu pembantaian biasa, ini satu pembunuhan besar-besaran, yang menghabisi lebih dari 99% penduduk, pemusnahan satu generasi.”
Pemusnahan suku Indian di Amerika ini bukan hanya dilakukan dengan pengejaran dan pembantaian, tapi juga dengan ‘senjata biologi’ bernama virus cacar. Sejumlah selimut bekas pasien cacar yang tentu saja telah terpapar virusnya, dibawa Columbus dan dipakai untuk menyelimuti orang-orang Indian yang sakit. Bukannya sembuh, banyak orang Indian yang mati dan wabah cacar dengan cepat membunuh puluhan ribu orang-orang Indian lainnya. Hal yang sama dilakukan Hernando Cortez tatkala merebut Meksiko yang saat pertama menjejakkan kaki di negeri itu pada Februari 1519, jumlah penduduk aslinya ada sekitar 25 juta jiwa, tetapi pada 1605 jumlah itu tinggal 1 juta jiwa saja.
Kemudian berdasarkan kisah Hatuey, kepala suku Indian Arawak, tidak mau tunduk pada Columbus. Hatuey lari ke hutan beserta rakyatnya. Namun tertangkap, Hatuey dan pengikutnya dihukum bakar hidup-hidup. Ketika Hatuey diikat ke kayu, seorang Pastor Fransiscan mendesaknya untuk mengakui Yesus sebagai tuhan agar jiwanya dapat pergi ke “Sorga” daripada keneraka. Hatuey menjawab dengan penuh harga diri, bahwa jika sorga itu adalah tempat bagi orang-orang Kristen maka dia lebih memilih pergi ke neraka.
“Orang-orang Spanyol itu menggantungkan 13 orang secara serentak. Angka 13 ini menyimbolkan Sang Kristus sendiri dengan 12 muridnya. Mereka pun dibakar hidup-hidup,” demikian catatan para saksi mata. Ada juga yang menulis, “Orang-orang Spanyol itu memotong tangan salah satu orang, pinggul atau kaki atau yang lain, dan juga memotong beberapa kepala dalam sekali tebas, seperti penjagal yang memotong daging sapi dan domba di pasar. Vasco de Balboa memerintahkan empat puluh orang di antara mereka yang telah koyak berkeping-keping diberikan kepada anjing yang terlihat kelaparan.”(rz)
Dibalik pembataian yang tidak manusiawi tersebut, entah kenapa sampai tahun 2002, dunia internasional saat itu masih percaya bahwa Columbus adalah penemu benua Amerika. Namun ketika sebuah buku karangan Gavin Menzies yang berjudul “1421: the year china discovered America” muncul, semua menjadi misteri. Dengan yakin, menzies menyatakan bahwa penemu benua Amerika melainkan adalah Laksamana Cheng Ho, bukan Christopher Columbus seperti yang diketahui selama ini. Hal ini tentu saja membuat gempar, terutama di kalangan ahli sejarah. Dunia internasional pun mulai bertanya-tanya tentang sosok Laksamana Cheng Ho yang disebut-sebut sebagai pelaut ulung dari China tersebut.
Laksamana Cheng Ho merupakan salah satu kaum minoritas Tionghoa dari generasi bangsa Hiu, dan berasal dari provinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Cheng Ho lahir di lingkungan keluarga muslim Tionghoa yang taat dan tumbuh menjadi pemuda pemberani dan cerdas. Saat dinasti Ming menguasai Yunnan dari dinasti Yuan ( bangsa Mongol ), banyak pemuda yang ditangkap yang kemudian dijadikan kasim di Nanjing. Cheng Ho yang saat itu berumur 11 tahun pun diabdikan ke Raja Zhu.Pada tahun 1405, saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diutus untuk memimpin armada laut dan melakukan ekspedisi pertama ke laut selatan. Sampai tahun 1433, Laksamana ini telah memimpin tujuh ekspedisi dengan armada yang besar. Beberapa catatan menyebutkan bahwa armada yang dipimpinnya terdiri dari 300-an kapal laut dari berbagai ukuran awak kapal yang bias mencapai sekitar 27.000 orang.
Selama kurang lebih 28 tahun penjelajahannya, Laksamana Cheng Ho telah berkonstribusi bagi 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Pencapaian armada Cheng Ho mencakup beberapa wilayah di Asia (termasuk Indonesia), Teluk Persia, Jazirah Arab, dan Afrika. Beberapa literature bahkan meyakini bahwa Laksamana Cheng Ho dan armadanya telah mencapai benua Amerika. Apa yang dikemukakan oleh Menzies dalam bukunya tersebut menghasilkan sebuah pertanyaan besar karena dunia internasional selama ini terlanjur mengetahui bahwa Columbus adalah penemu benua Amerika.
Meskipun menimbulkan kontroversi yang luas, teori Menzies tersebut tidak dapat langsung dikatakan mengada-ada. Sejumlah bukti sejarah yang tersisa dari penjelajahan Cheng Ho ( pada zaman pemerintahan kaisar Zhu Zhanji, sebagian besar dokumentasi perjalanan Laksamana Cheng Ho telah dimusnahkan ) yang berupa peta perjalanan armada tersebut lengkap dengan gambar benua Amerika dan sebuah peta astronomi milik Laksamana Cheng Ho yang disodorkannya sebagai bukti ilmiah. Peta yang tentunya dibuat sebelum masa Columbus memulai ekspedisinya. Menzies menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu. Sesuatu yang tentunya amat wajar, bagaimana mungkin bisa membuat peta pada masa itu tanpa mendatangi objeknya? Bukti-bukti kuat tersebut tentang perjalanan Laksaman Cheng Ho ini mulai dibuka ke public pada Januari 2006 dan menjadi menjadi semakin heboh setelah pemerintah China ikut ambil bagian dalam mempublikasikan buku tersebut.
Wikipedia, sebagai situs ensiklopedia dunia maya juga menyatakan secara tersirat bahwa Columbus bukanlah penemu benua Amerika. Hal ini dapat dilihat pada kalimat “Although Columbus was not the first explorer to reach the Americas from Europe ( being preceded by the Norse led by Leif Ericson [5] ), the voyages of Columbus molded the future of European colonization and encouraged European exploration of foreign lans for centuries to come. [Citation needed]”
Leif Ericson ( 970 – 1020 ) disebut-sebut sebagai seorang penjelajah Norwegia yang dianggap pertama kali mendarat di Amerika Utara ( termasuk Greenland ), hampir 500 tahun sebelum Christopher Columbus. Berdasarkan cerita di Islandia, Leif Ericson mendirikan sebuah pemukiman Norse di Vinland, yang secara sementara telah diidentifikasi sebagai situs L’Anse aux Meadows Norse di ujung utara pulau Newfoundland dan Labrador, Kanada.
Teori ini dikemukakan berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 1950-an dab 1960-an oleh penjelajah Helge Ingstaddan istrinya. Arkeolog Anne Stine Ingstad yang mengidentifikasi pemukiman Norwegia yang terletak di ujung utara Newfoundland yang disebut-sebut sebagai L’Anse aux Meadows yang telah diyakini sebagai Leifsbúðir. Peneliti Norwegia Johannes Kr Tomo malah menunjuk Teluk Waquoit di Massachusetts sebagai tempat tinggal Leif Ericson, karena daerah tersebut lebih cocok bagi sebuah pemukiman di ujung tanah genting atau semenanjung yang menghadap ke sebuah teluk.
Pada tahun 1964, Kongres AS meminta presiden untuk menyatakan 9 Oktober setiap tahunnya sebagai “Hari Leif Ericson”. Tanggal ini dipilih bukan untuk memperingati apa yang dilakukan oleh Leif Ericson, tetapi dalam kaitannya dengan imigrasi terorganisir pertama dari Norwegia ke Amerika Serikat ( kapal Restorasi dari Stavanger ) Norwegia, yang tiba di pelabuhan New York pada tanggal 9 Oktober 1825.
Jika penjelajahan Leif Ericson ke Amerika dianggap begitu penting, kenapa tanggal 9 oktober tidak diperingati sebagai hari penemuan benua Amerika oleh masyarakat tersebut? Kenapa masih Columbus yang dianggap sebagai penemunya? Dan kenapa juga guru-guru di Indonesia tidak pernah menceritakan kisah tentang Leif Ericson ketika pelajaran di sekolah?.
Berdasarkan dari beberapa kisah cerita tersebut, dapat diketahui bahwa orang yang menguasai teks (penulis) dapat memanipulasi atau memutar-balikkan sejarah ( dunia ) dalam sebuah buku. Melalui buku juga bisa dilakukan penelitian untuk menguak kebenaran dan kebohongan yang ditulis, seperti contoh kisah Christopher Columbus. Buku dapat dioperasikan dalam banyak cara untuk mengubah kesadaran seseorang. Jika hanya dengan mengetahui sebuah cerita berdasarkan dari omongan dari mulut ke mulut, hal itu kurang memberikan fakta yang kongkrit tentang kejelasan dari sesuatu, cerita atau berita yang diomongkan.
Pada dasarnya seseorang mengetahui segala sesuatu itu tidak hanya dari mendengar saja, melainkan harus mencari fakta yang jelas tentang segala sesuatunya, yakni dengan cara membaca teks atau buku dari segala referensi. Dengan membaca buku, seseorang dapat mengetahui bahkan menemukan realita atau fenomena kehidupan yang terjadi saat ini, karena membaca dan menulis merupakan suatu media yang dapat membuat perspektif atau pandagan seseorang terbuka pada zaman sekarang ini.
Power full yang dimiliki oleh buku itu cukup besar, buku juga dapat mengubah pola pikir seseorang dan juga mengubah dunia. Untuk itu sebagai seorang reader itu harus memiliki pemahaman yang kritis dalam setiap membaca buku dari berbagai referensi mana pun. Peran konsep critical reader inilah yang harus digunakan oleh reader untuk tidak menelan secara mentah-mentah tentang buku apa yang dibacanya. Tidak mudah percaya dengan anggapan-anggapan yang tertuag dalam buku, dengan mencari dari berbagai referensi lain yang jelas dan bukti yang kongkrit mengenai sebuah peristiwa atau suatu pembahasan, seperti dalam buku cerita Christopher Columbus tersebut. Gunanya konsep critical redears untuk mengetahui bahkan menemukan realita atau fenomena kehidupan suatu peristiwa.
Sebuah informasi biasanya dalam bentuk buku, artikel, jurnal atau yang lain sebagainya, terkadang informasi yang diberikan kepada pembaca belum tentu benar 100% akan sebuah fakta. Informasi yang ditulis oleh penulis, memungkinkan menambahkan informasi atau bahkan mengurangi informasi. Terkadang demi menyelamatkan kebudayaan adat, sebuah sejarah dan mementingkan kepentingan individu.
Sebagai pembaca, janganlah mudah percaya dengan fakta-fakta yang ada dalam buku sebelum mencari dari berbagai referensi lainnya. Mengingat ada ungkapan bahwa “seseorang yang menguasai teks adalah orang yang bisa memutar balikkan sejarah”,  untuk bisa mengetahui suatu hal secara lebih riil harus banyak membaca buku.
Konsep critical readers sangatlah penting bagi pembaca, karena harus membaca lebih kritis untuk mengetahui sudut pandang penulis dari berbagai sudut. Biasanya argument atau pendapat dari penulis terkadang dilebih-lebihkan atau mungkin dikurangkan untuk lebih menarik perhatian para pembaca. Dengan demikian, basa jad suatu fakta yang dtulis oleh penulis bias dikatakan sesuai dengan fakta maupun tidak, untuk menguaknya diperlukan berbagai referensi lain agar bisa menemukan fakta yang sebenarnya. Kebenaran memang harus diungkap, orang tidak boleh mempercayai sejarah hanya melalui oral atau pendapat seseorang melainkan harus dibuktikan dengan membaca buku, sebab sejarah bisa saja berubah dari zaman ke zaman apabila tidak dituliskan dalam sebuah buku.
Content of Critical Review:
Introduction
Summary
Main Body
Conclusion

Keterangan:
Quaker adalah sebuah organisasi yang cinta kedamaian dan anti kekerasan dalam pemerintahan.



Daftar Pustaka

http://en.wikipedia.org/wiki/Voyages_of_Christopher_Columbus  diunduh 1 maret 2014 pada tanggal pukul  20.50 WIB
http://www.zonapetualang.com diunduh pada tanggal 1 maret 2014 pukul 22.32 WIB
http://www.scu.edu/ethics/practicing/focusareas/business/truth-to-power.html diunduh pada tanggal 28 februari 2014 pukul 20.57 WIB
http://citizentom.com/2013/06/09/what-is-speaking-truth-to-power/ diunduh pada tanggal 28 februari 2014 pukul 20.55 WIB
http://bibliotecariodebabel.com/curiosidades/o-poder-dos-livros/ diunduh pada tanggal 1 maret 2014 pukul 22.15 WB

1 comments:

  1. generic structure ko tidak muncul sebagai pembatas tisp section? kalimat eprtama ga induk kalimatnya! posisi kamu sebagai non-american apa jadinya?

    ReplyDelete