Wednesday, March 5, 2014



The 4th Class Review
On the first critical review evaluated
A Call for Youth



 
100 menit 6000 detik, waktu yang sangat singkat tetapi terassa lebih lama di benakku. Detik demi detik silih berganti, namun masih tetap dalam kajian literasi. Tak pernah bosan kami mendengar karena demi kebutuhan di masa mendatang. Dan tak kenal lelah kami belajar membaca dan menulis, higga mengkritisi untuk latih mental dan cara berfikir kami ke depan. Menulis merupakan salah satu cara yang efektif dalam memproduksi ilmu, membaca pun serupa halnya dengan menyerap informasi yang ada di dalam teks. Dengan jalan mengkritisilah, otak kami terus dilatih dan dilatih kemudian dituangkan dalam tulisan.
Menulis merupakan aktivitas mengambil sikap dan menerima kritik evaluasi. Kenapa harus menulis? Dengan membaca pun kita memahami sebuah pengetahuan. Inilah hal penting bagi kita, pada masa beberapa tahun yang akan datang, kita akan dihadapkan dengan problema rawan yang kritik akan segala sikap kita yang akan membawa konsekuensi pada sejumlah orang, sehingga kita harus berhati-hati dalam bersikap. Hal ini pun bisa terasah dengan menulis, melatih berfikir dan berkomentar dengan adanya bukti. Lalu, kapan saja waktu untuk kita menulis? Hampir seluruh orang meluangkan waktunya untuk menulis. Hal ini dikarenakan suasana yang sepi dan sunyi yang sangat mendukung prose side terbentuk. Hal ini sejalan dengan puisi yang dikumandangkan oleh Budi Hermawan tentang menulis.

Berkariblah dengan sepi,
sebab dalam sepi ada [momen] penemuan dari apa yang dalam riuh gelisah dicari.
Dalam sepi ada berhenti dari menerima ramainya stimulus yang memborbardir indera kita.
Stimulus yang harus dipilah dan dipilih satu satu untuk ditafakuri, lalu dimaknai, dan dijadikan berguna bagi kita.
Bila tidak mereka hanya dengungan yang bising di kepala saja tak mengendap menjadi sesuatu yang mengizinkan kita memahami dunia di sekitar kita [sedikit] lebih baik.
Berkariblah dengan sepi,
sejak dalam sepi kita menemukan diri yang luput dari penglihatan dan kesadaran ketika beredar dalam ramai;
 dalam sepi kita dapat melihat pendaran diri yang diserakkan gaduh, mendekat, lalu merapat,
membentuk bayang jelas untuk dilihat tanpa harus memuaskan keinginan yang lain.

Berkariblah dengan sepi karena dalam sepi berlalu lalang inspirasi yang tak kita mengerti,
atau tak dapat kita tangkapi ketika kita sibuk berjalan dalam hingar yang pekak.

Berkariblah dalam sepi
sebab dalam sepi suara hati lebih nyaring terdengar jernih. (Budi Hermawan)

                Terkait dengan critical review yang telah kami buat, bahwasannya banyak sekali kekurangan yang harus kami benahi, terutama dalam classroom analysis discourse. Hampir dari member kelas kami bahkan semua cenderung berfokus pada religious harmony. Hal ini disebabkan karena kami bingung bagaimana cara untuk memulai sebuah tulisan dari classroom discourse. Mungkin karena hal tersebut baru saja kami dengar, dan sedikit membaca, inilah hasilnya, tak memuaskan.
Dalam buku karya Besty Rymes (2008) yang bejudul “Classroom discourse analysis: a tool for critical reflection”, mengucapkan bahwa “Those of us who presume to “teach” must not imagine that we know how each student begins to learn.” Hal ini berarti bahwa kebanyakan dari kita sebagai pengajar tidak membayangkan bagaimana setiap siswanya memulai untuk belajar.
Kemudian dilanjutkan pada chapter pertamanya, bahwasannya sebelum kami membaca bab ibi, fikirkan tentang dirimu, sebagai seorang guru, bisa memperoleh dari pengujian seperti percakapan di dalam kelas. Fikirkan kembali pada interaksi di dalam kelasmu sendiri, baik sebagai seorang guru ataupun murid, dan panggilan moment yang membuatmu tidak nyaman dan menunjukkan beberapa hal yang membuatmu marah. Apa yang kamu fikirkan dari alasan tidak nyaman dan marah tersebut?
Setelah pernyataan tersebut, Besty Rymes uga menjelaskan bahwa tujuan dari penulisan bukunya adalah melengkapi guru-guru dengan peralatannya untuk menganalisis percakapan di dalam kelas. Mengapa hal ini sungguh terbebabni, dibayar kurang, dan sebagainya. Dalam hal ini, ada 4 alasan yang melatarbelakanginya.
Pertama, perolehan wawasan dari classroom discourse analysis pada 20 tahun yang lalu memiliki mutual understanding yang tinggi antara guru dan muridnya. Hal ini disebabkan karena kedekatan komunikasi mampu menampakkan pola komunikasi antara kelompok dalam sisi perbedaannya. Pola dimana guru dan muridnya harus bericara dalam satu ranah, pengenalan topic, menggunakan variasi bahasa atau menceritakan cerita dengan cara yang berbeda namun mampu dalam mengilustrasikan kesalahpahaman antara perbedaan kelompok social dalam perkembangan classroom dan bagaimana murid dan guru dapat mengatasinya. Dari sinilah, betapa pentingnya mutual understanding dalam classroom.
Dalam ihwal point kedua, tentang analisis pembelajaran di kelas, seorang guru harus mampu untuk memahami perbedaan local dalam suatu pembicaraan di dalam kelas. Dalam kasus ini, berbelit-belit permasalahan yang muncul dan pertanyaan yang timbul dari benak kita. Menghadapi permasalahan terrsebut, terdapat suatu alas an kenapa harus mampu untuk memahami baik guru ataupun muridnya. Karena dengan adanya analisis pembelajaran kelas, kita dapat mengurangi hal atau moment-moment yang tak terduga yang timbul dari kelas itu sendiri. Mungkin, dengan jembatan merekam, melihat, menulis catatan dan menganalisis, maka penelitian ini telah menunjukkan bagaimana perbedaan cara berkomunikasi yang menyeleweng yang diinterpretasikan oleh guru itu sendiri, serta mekanisme dalam pengaturan => lambang kurangnya pengetahuan, penggerak atau kemampuan. Contoh :
§  Seorang anak amerika afrika tradisional bercerita sebuah cerita yang polanya diinterpretasikan oleh remaja amerika afrika. Meskipun sedikit agak menjelimet dan ditempa baik, tetapi gurunya tidak terfokus oleh cerita tersebut. (Michaels,1981; Michaels and Chazden)
Dengan perbedaan pola seperti ini, maka hal ini termasuk dalam cross-cultural communication dalam konteks kelas untuk meningkatkan mutual understanding antara guru dan murid. Sebagai seorang guru, ia harus mampu menggunakan pengetahuannya mereka dalam praktik membangun mtutual (kebersamaan), serta berkolaborasi untuk memahami jalan cerita yang diucapkan, pertanyaan yang harus direspon, dan masalah yang harus diselesaikan.
Point ketiga, “when techers analiyze discourse in their own classroom, academic achievements improves. Terkait dengan point kedua, dimana manfaat classroom discourse adalah untuk memahami, maka dalam ihwal ini adalah bagaimana pembelajaran di kelas tersebut dapat melengkapi dengan analisis metodenya. Dalam bahasan ini, guru adalah situasi yang baik untuk belajar membatasi atau menyetempatkan dan merubah pola percakapan di kelas mereka. Inilah alasannya pembelajaran di kelas menghabiskan waktu tetapi memberikan hasil. Ketika seorang guru memahami bentuk percakapan atau komunikasi di dalam kelas, maka prestasi di sekolahnya akan meningkat. Contoh :
§  Ketika seorang guru menemukan bahwa siswanya adalah Native Amerika yang belajar pertama kali dengan saudara kandungnya beserta kawan sebaya did lam rumah, disanalah mereka mampu menemukan rancangan grup yang bekerja lebih dari pada instruksi tatap muka gurunya yang memfasilitasi kesuksesan sekolah. (Philips, 1993)
§  Dalam mereview siswanya, Cazden menemukan bahwa kami mempertimbangkan aspek interaksi pembelajaran sperti topic, tugas, siapa yang menanyakan pertanyaan, dan bagaimana mereka menyusunnya. Dalam hal ini, siswa lebih baik untuk menambah atau memperbesar realisasi makna. (Cazden, 1972)
Dalam hal ini, pembelajaran interksi di dalam kelas dan mngatur atau menyusun pembicaraan dapat menuju ke ranah yang lebih produktif dan termasuk interaksi untuk membangun kesuksesan siswa. National Board Teacher, level tertinggi guru yang profesioanal, juga menghubungkan baik pemahaman pola di dalam kelas dan prestasi siswa yang tinggi. Untuk menjadi National Board yang berijazah atau menjamin, guru harus mampu “berfikir sistematis tentang praktek dan pembelajaran mereka dari pengalaman.” (Core Proposition #4, National Board for Teaching Standards, www.nbpts.org) untuk mengilustrasikan bagaimana cara berfikir yang sistematis, National Board menggunakan penilaian individual guru, termasuk penjelasan, analisis, dan refleksi pada “Interaksi Rekaman Video anatara Guru dan Muridnya” dalam kata lain ialah Classroom Discourse Analysis.
Berbicara mengenai point ketiga, lalu bagaimana siswa menjadi siswa yang berperikemanusiaan?  Meskipun kebijakan menyatakan tujuan yang tinggi adalah baik untuk siswa, lalu bagaimana dengan siswa yang terbelakang. Dalam hal ini, guru harus melakukan pendekatan pada siswa, memahami apa yang perlu dimotivasi untuk mereka dan bagaimana mengubungkan bahasa untuk pembelajaran yang merupakan setiap harinya berada di dalam kelas, menghabiskan waktu sehari-harinya berkomunikasi dengan sebayanya yang mereka sayang, canda tawa, berfikir dan bertumbuh dalam jalan yang unik dan fantastic.
Dengan demikian, classroom discourse memiliki efek positif dalam lingkunag kelas, pembelajaran siswa, rasa kemanusiaan dan rasa cinta guru untuk bekerja. Dimana kita akan mengahadapi hal demikian pada aspek sfesifik ini semoga bermanfaat untuk kita, calon guru dan generasi muda. =)
Di dalam 4 alasan tersebut, classroom discourse dapat dijadikan mind mapping sebagai berikut:



Dikarenakan critical review 1 banyak sekali kekurangan, dan saya sendiri cenderung menuliskannya pada Religious Harmony, maka penjelasan tadi telah melengkapi sebagian dari critical review. Dan sekarang, memulai masuk ke dunia pertanyaan pak Lala yang akan sedikit dikuak oleh saya. Dimana salah satu pertanyaan menariknya adalah “sebenarnya Cut Nyak Dien itu berkerudung atau tidak?” Sebelum membahas lebih dalam tentang Cut Nyak Dien, sebaiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan beliau.

#Selayang Pandang Cut Nyak Dien#
Siapa yang tak kenal gambar foto disamping, Cut Nyak Dien, seorang Ratu Aceh. Beliau dilahirkan di dalam keluarga yang taat dan patuh beribadah. Beliau adalah seorang penghafal Al-Qur’an (hafidzah).
       Sekarang ini, Ratu Aceh sedang menjadi buah bibir di masyarakatnya tersendiri. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena beliau tidak berjilbab, dan pada dasarnya kita mengetahui bahwa beliau adalah Ratu yang bekonde. Hal tersebut tersebar bukan hanya di kalangan masyarakat, tetapi juga social media pun menjadi buah bibir antara akun yang satu dengan yang lainnya. Memulai naik daunnya berita ini, ketika ada seorang finalis yang dilahirkan dari kota Aceh namun ia tidak memakai kerudung bahkan tampil dengan pakaian terbuka. “kenapa masalah banget ama jilbab? Cut Nyak Dien juga tidak berjilbab.” Sahutnya. Kalimat tersebut seakan-akan menjadi pembenaran jika Ratu Aceh tidak berjilbab, sehingga sah-sah saja pada era modern seperti sekarang ini.
       Kenapa harus jilbab yang dijadikan sebuah pertanyaan kepada Cut Nyak Dien? Setahu saya, itu bukanlah sebuah permasalahan yang harus kita ungkit dan dibesar-besarkan karena itu adalah urusan pribadi beliau.
       Terkait dengan masalah jilbab atau menutup aurat, ketika saya belajar Metode Studi Islam dengan pak Ilman pada semester 2 silam, sedikitnya pernah menyinggung hal tersebut.
Memakai kerudung merupakan sebuah budaya yang kini ngetrend di Indonesia. Dahulu kala, Negara kita merupakan umat islam yang sebagian besar penduduknya belum berjilbab dan menutup aurat. Awal mulanya, budaya berjilbab dan menutup aurat adalah budaya orang Turki, yang berkerudung hitam. Namun, karena penduduk Indonesia mayoritas berkulit hitam, jadi mereka membuat kerudung dengan warna yang berbeda. Jadi, masalah jilbab, tek perlu diungkit, yang perlu diungkit adalah bagaimana kita membentuk cermin yang baik untuk diri kita sendiri, juga masyrakat.

# kesimpulan #
Jadi dapat disimpulkan bahwa definisi Classroom discourse analisis, definisi discourse berarti language in use. Dan discourse analisis adalah mempelajari bagaimana bahasa yang digunakan yang dipengaruhi oleh konteks itu sendiri. Di dalam kelas, konteks bisa tersusun dari berbicara menuju sejarah pendidikan yang diterima di sekolahnya. Discourse analisis berarti di dalam kelas menjadi critical classroom discourse analisis ketika penelitian kelasnya mengambil efek dari beberapa konteks yang dipertimbangkan dalam analisis mereka, dimana hal tersebut akan membentuk Religious Harmony di antara mereka.


0 comments:

Post a Comment