Saturday, March 1, 2014

10:58 PM


            Janganlah bangun rumahmu di tanah orang lain. Bekerjalah demi cita-cita dirimu yang hakiki di dunia ini. Janganlah engkau terbujuk oleh orang asing pada dirimu. Siapakah orang asing itu? Tidak lain adalah nafsumu sendiri. Dialah sumber bencana dan kepiluan hidupmu. Jiwamu tidak akan subur, juga tidak akan teguh.
            Sebuah awalan kata yang sangat menarik untuk kita cabut akarnya. Dalam dunia keliteratan, menulis membutuhkan suatu khayalan meditasi berbasis kesufian. Dalam menulis kita di wajibkan untuk sabar dan tidak sembrono. Bahkan dikatakan sufi dalam menulis adalah bukti seseorang itu mendalami dunianya tersebut.
            Mr. lala pada kali ini mengawali kelas kami dengan wejangan masih berupa literasi itu dapat berupa apa saja. Dikatakan dalam sabda beliau, literasi itu dapat berupa literasi sosial, literasi politik, literasi ekonomi, dan ada pula literasi psikologi. Dimana kesemuanya itu digabungkan menjadi kebudayaan itu sendiri dan akan berakhir di pelabuhan terakhir yaitu peradaban yang akan maju. Adapun bukti bahwa peradaban yang maju antara lain prosperous, security, dan comfort. Rekayasa literasi itu selalu terjadi berbarengan antara writer dan reader.
            Dikelas Mr. Lala mengatakan bahwasanya kita itu seharusnya bagaikan obor-obor yang siap dibakar. Bukannya menjadi sebuah ember yang hanya mau di isi jika kita ingin mengisinya. Kita menjadi obor yang siap dibakar, menandakan kita itu sudah matang untuk di pakai. Sama halnya dengan tulisan kita yang siap untuk di nikmati.
            Multilingual writer adalah hal yang vitalitas dimana kita menggunakan Bahasa tersebut dalam menulis. Hal ini dikatakan vital dikarenakan semakin di pakai semakin kuat pula yang dipakainya itu. Semakin kita sering menulis dengan Bahasa Indonesia, maka semakin kuat pula Bahasa Indonesia kita. Sama halnya dengan Bahasa inggris pula.
            Mr. Lala membuat sebuah an appetizer on academic writing element. Isinya ada Sembilan biji yang harus kita pahami.
1.      Cohesion : gerakan halus atau "aliran" antara kalimat dan paragraf.
2.      Clarity : makna dari apa yang Anda berniat untuk berkomunikasi sangat jelas;
3.      Logical order   : mengacu pada urutan logis dari informasi. Dalam penulisan akademik, penulis cenderung bergerak dari umum ke khusus.
4.      Consistency     : Konsistensi mengacu pada keseragaman gaya penulisan.
5.      Unity   : Pada sederhana, kesatuan mengacu pada pengecualian informasi yang tidak secara langsung berhubungan dengan topik yang dibahas dalam paragraf tertentu.
6.      Conciseness     : keringkasan adalah ekonomi dalam penggunaan kata-kata. Tulisan yang bagus dengan cepat sampai ke titik dan menghilangkan kata yang tidak perlu dan tidak perlu pengulangan (redundancy, atau "kayu mati.") Pengecualian dari informasi yang tidak perlu mempromosikan persatuan dan kesatuan.
7.      Completeness  : Sementara informasi berulang-ulang atau tidak perlu harus dihilangkan, penulis memiliki untuk memberikan informasi penting mengenai suatu topik tertentu. Misalnya, dalam definisi cacar air, pembaca akan mengharapkan untuk mengetahui bahwa itu adalah terutama penyakit anak-anak yang ditandai dengan ruam.
8.      Variety            : Variety membantu pembaca dengan menambahkan beberapa "bumbu" untuk teks.
9.      Formality         : Akademik menulis adalah formal dalam nada. Ini berarti bahwa kosakata canggih dan struktur tata bahasa yang digunakan. Selain itu, penggunaan kata ganti seperti "I" dan kontraksi dihindari.
Kesembilan ini sangat membantu dalam menghidupkan teks kita. Melalui pola ini tulisan kita dinilai bermutu dan dinilai akan bagus dibanding yang lain. Mr. Lala memberikan tugas kepada kita waktu itu untuk menganalisis teks kita. Pertama adalah apakah tulisan kita mempunyai target. Lalu argument pentingnya itu seperti apa, bukti dari argumentnya apa, kemudian apakah tulisan kita berargument tapi tanpa ada bukti. Selanjutnya apakah tulisan kita cukup bukti. Lalu emotional kita dalam menulis itu ada atau tidak.
Ken Hayland mengatakan bahwa literasi adalah sesuatu yang kita lakukan. Hyland furhter berpendapat: "melek akademik menekankan bahwa cara kita menggunakan bahasa, disebut sebagai praktik keaksaraan, berpola oleh lembaga sosial dan hubungan kekuasaan.  Mr. Lala menulis dalam power pointnya bahwasanya kata-kata yang crucial itu antara lain:
1.      Prof. Alwasilah meringkas lima ayat di atas menjadi: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, mentransformasi.
2.      Pendidikan yang berkualitas tinggi PASTI menghasilkan literasi berkualitas tinggi pula, dna juga sebaliknya.
3.      Reading, writing, arithmetic, and reasoning = modal hidup
4.      Orang literat tidak sekedar berbaca-tulis tapi juga terdidik dan MENGENAL SASTRA.
Kesimpulannya adalah rekayasa literasi itu bukan hanya sasra, namun ada psikologi, ekonomi, social, dam politik. Rekayasa literasi adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimal.  Penguasaan bahasa adalah pintu masuk menuju ke pendidikan dan pembudayaan. Ingat ! kita itu bagai obor yang siap untuk di bakar kapan saja!




0 comments:

Post a Comment