Wednesday, March 12, 2014

Merekam Sejarah Melalui Tulisan


Pada pertemuan kelima ini, ada tantangan baru yaitu membuat free writing langsung didalam kelas selama 30 menit yang diharapkan mampu menghasilkan minimal 500 kata. Namun, tantangan ini belum sepenuhya dapat ditaklukan karena hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Alasannya bisa jadi karena belum terbiasa sehingga membuat pikiran menjadi kaku dan sulit mengembangkan kalimat dalam situasi yang tidak dari biasanya. Hasil yang diperoleh pun masih sangat jauh dari yang diharapkan yaitu tidak lebih dari 100 kata. Melihat hal ini, perlu ditingkatkan lagi latihan menulisnya agar lebih baik terutama untuk mengembangkan literasi ataupun menyampaikan suatu critical.
Mengenai critical kemarin pun masih banyak terdapat kelemahan-kelemahan seperti terjebak dalam hal sepele yang sebenarnya bukan hal yang perlu dikembangkan. Bahkan pencantuman referensi juga masih kurang lengkap. Hyland (2002) mengungkapkan bahwa “ Writing reflects traces of its social uses because it is linked and aligned with other texts upon which it builds and which it anticipates.” Dianjurkan mendalami buku  Ken Hyland yang berjudul Writing Research and Teaching Didalam buku ini dibahas mengenai beberapa persoalan dalam memahami tulisan. Beberapa poin diantaranya yaitu mengenai Context, Literacy, Culture, Technology, Genre, Identity.
Context. Menurut Hyland (2009:59) “More linguistically oriented analysts understand context in a different way and begin with texts, seeing the properties of a social situation as systematically encoded in a discourse”. Sedangkan menurut lehtonen (2000:110) In traditional notions of texts and contexts, contexts are seen as separate ‘backgrounds’ of texts, which in the role of a certain kind of additional information can be an aid in understanding the texts themselves." Dapat dikatakan bahwa untuk memahami context harus diawali dengan memahami text terlebih dahulu dan keduanya tidak dapat dipisahkan.
Menurut Lehtonen (2000:72),"Texts are surely physical beings, but they exist in such forms in order to be semiotic beings. Conversely, texts can be
semiotic beings only when they have some physical form."  Konsep context dapat diduga mengandung penekanan kuat pada aktivitas pembaca. context mengacu pada fakta bahwa makna diciptakan tidak hanya dalam kegiatan tradisional yang dianggap sebagai produksi makna.
Guy Cook memberikan satu daftar kemungkinan dari perbedaan dimensi dari 'konteks'. Konteks mencakup semua hal berikut :
1.      Substansi: materi fisik yang membawa atau relay tek
2.      Musik dan gambar
3.      Paralanguage: perilaku yang berarti bahasa yang menyertainya, seperti kualitas suara, gerak tubuh, ekspresi wajah dan sentuhan (dalam kecepatan), dan pilihan dari jenis huruf dan ukuran huruf (secara tertulis).
4.      Situasi: sifat dan hubungan objek dan orang-orang di sekitarnya teks, seperti yang dirasakan oleh para peserta
5.      Co-Teks: teks yang mendahului atau mengikuti yang di bawah analisis, dan yang peserta menilai milik wacana yang sama
6.       Intertext: teks yang peserta anggap sebagai milik wacana lain, tapi yang mereka persekutukan dengan teks di bawah pertimbangan, dan yang mempengaruhi interpretasi mereka  
7.      Peserta: niat dan interpretasi mereka, pengetahuan dan keyakinan, sikap interpersonal, afiliasi dan perasaan.
8.      Fungsi: apa teks dimaksudkan untuk melakukan oleh pengirim dan addressers, atau dianggap dilakukan oleh penerima dan addressees.
Makna tekstual  berpotensi mengaktualisasikan sesuatu hal dengan jenis kontekstual yang pembaca miliki dan bagaimana mereka menghasilkan rasa dalam teks yang mereka baca dengan mengandalkan sumber daya tersebut. Jadi, context mempunyai peran yang sangat penting dalam memdeskripsikan untuk memahami text. pengertian konteks sedemikian rupa yang pada akhirnya teks dan konteks tidak dapat dipelajari secara terpisah.
Literacy. Menulis atupun membaca sudah menjadi kegiatan manusia sehari – hari sebagai wujud literasi. Konsep modern literasi tidak hanya melihat dalam menulis saja tetapi sebagai praktik sosial. Hal ini sesuai dengan Barton and Hamilton (1998: 6) define literacy practices as ‘the general cultural ways of utilizing written language which people draw on in their lives’. Literasi memuat beberapa hal yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan lainnya.
Culture. Menulis  juga berpengaruh pada nilai budaya yang dapat mencerminkan dan mempengaruhi bahasa. seperti yang dikatakan oleh Kramsch, 1993 bahwa  language and learning are inextricably bound up with culture. Pengaruh budaya dalam belajar menulis tentu membawa pengetahuan dan persepsi yang sesuai dengan apa yang telah dialaminya mengenai budaya.
Technology. Dalam perkembangan teknologi membawa pengaruh yang besar terhadap berbagai aspek termasuk dalam literasi. Adanya teknologi membuat proses literasi semakin mudah seperti dalam hal mengedit, mengkombinasikan tulisan dengan audio, memperoleh sumber informasi, dan sebagainya. Clearly these new genres and technologies not only demand new kinds of writing but also a response from writing teachers. We have moved beyond looking for the best ways to support student wordprocessing (Hyland, 1993).
Genre sekarang menjadi salah satu konsep yang paling penting dalam bahasa pendidikan saat ini . Ini adalah adat , namun, untuk mengidentifikasi tiga pendekatan genre (Hyon, 1996; Johns, 2002) yaitu Systemic Functional Linguistics, Specific Purposes, and the New Rhetoric studies. Genre bisa dikataka sebagai suatu jalan untuk melibatkan dan membuat pengertian mengenai dunia sosial ataupun konteks penggunaan bahasa yang akan digunakan  dalam menulis.
Identitas mengacu pada cara-cara orang menampilkan siapa mereka satu sama lain. Oleh karena itu identitas dipandang sebagai hal yang dibangun oleh
teks. Kita terlibat dalam dan pilihan bahasa yang kita buat, sehingga identitas dari pribadi bergerak ke ranah publik dan dari proses tersembunyi ke arah sosial dalam wacana. Cara kita melakukan identitas melibatkan interaksi antara praktik konvensional, nilai-nilai, kepercayaan dan budaya sebelum pengalaman para peserta .
Mengenai sejarah juga terkait dengan praktek literasi. Perwujudannya dapat dikatakan bahwa teks sebagi hasil dari praktek literasi juga disebut sebagai bukti artefak. Sebagai artefak, teks telah dihasilkan melalui  bantuan dari berbagai teknologi. Bentuk-bentuk materi teks mencerminkan  sifat tersebut. Teknologi awal yang bertujuan untuk memproduksi tulisan  teks yang terhubung dengan tanda-tanda yang terukir  di kayu atau batu.
Dalam kaitannya dengan materi critical, membahas mengenai Christopher Columbus yang dikenal sebagai penemu benua Amerika dan dipandang sebagai pahlawan eksplorasi abad pertengahan oleh banyak sejarawan masa kini. Namun, dibalik itu semua, banyak fakta-fakta lain yang sangat bertentangan dengan apa yang sudah dituliskan dibuku-buku sejarah. Berikut beberapa fakta tersebut :
a.    Cristopher Columbus ternyata Bukan manusia pertama yang melakukan pelayaran ke Benua Amerika
b.    Sepulang dari Amerika, Columbus dan anak buahnya menyebarkan penyakit sipilis ke Eropa, sebaliknya orang Eropa menyebarkan penyakit smallpox (Cacar) ke orang-orang indian.
c.    Columbus meninggal dalam keadaan miskin disebuah kota kecil bernama Velladodid
d.   Columbus mungkin merupakan salah satu penyebab genosida terbesar di dunia. (Genosida atau genosid adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan / membuat punah bangsa tersebut).
Melalui artikel yang  berjudul “Speaking Truth to Power with Book” Howard Zinn dengan berani menentang Columbus sebagai seorang pahlawan. Sebaliknya columbus dikatakan sebagai pembunuh, penyiksa, mutilator dan rasism. Hal tersebut tentu menjadi sebuah kontroversi yang berkepanjangan karena perihal sejarah mengenai waktu yang sudah berlalu sulit untuk ditemukan kepastiannya.
Columbus menghukum suku setempat, yang dikenal sebagai Taino, dengan kejam. Dia memperbudak banyak penduduk lokal dan membantai lebih banyak lagi, menurut Ward Churchill, mantan profesor studi etnis di University of Colorado, sampai tahun 1496, populasi telah berkurang dari sebanyak delapan juta menjadi sekitar tiga juta. Hanya dalam waktu sekitar lima puluh tahun Colombus dan para pengikutnya mendapatkan segalanya tetapi mengeliminasi populasi sekitar lima belas juta orang. Proses ini hanya merupakan awal dari pembantaian massal sekitar 100 juta orang oleh bangsa Eropa yang disebut sebagai 'peradaban' di Belahan Barat membuat awal penemuan Dunia Baru(benua Amerika) menjadi kasus genosida massal terburuk dalam sejarah manusia.
Helen Ellerbe, dalam "The Dark Side of Christian History" (hal. 86-88) menggambarkan keberingasan Columbus. Selain menyiksa, ia juga sering memperkosa perempuan-perempuan pribumi lalu mencambuk mereka demi kesenangan belaka. Dalam catatan hariannya, Columbus mengakui bahwa saat ia tiba di Hindia (ia saat itu masih percaya telah menemukan India, bukan Amerika), ia menyiksa penduduk pribumi, menggantung, mencambuknya, hanya demi satu informasi penting :  di mana ada emas?
Semua fakta diatas menjadi suatu hal yang sulit untuk dibuktikan. Keterbatasan sumber yang valid menjadi salah satu alasannya. Berbicara mengenai fakta tentu harus disertai dengan bukti, apalagi menyangkut sejarah suatu bangsa. Alih-alih untuk disetujui banyak orang malah pertentangan yang muncul. Begitu halnya dengan Howard zinn yang pastinya mendapat pertentangan dari orang-orang yang pro columbus.
Dalam buku pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah Sartono menuliskan “Politik adalah sejarah masa kini dan sejarah adalah politik masa lampau. Sejarah identik dengan politik, sejauh keduanya menunjukkan proses yang mencakup keterlibatan para aktor dalam interaksi dan peranannya dalam usaha memperoleh apa, kapan dan bagaimana.
Sebagian besar tulisan sejarah yang dimuat dalam tulisan menunjukkan hal lain seperti penggambaran rekayasa sejarah politik selama ini. Oleh  sebab itu, dikatakan bahwa ilmu sejarah paling besar muatan politiknya bahkan digunakan sebagai wadah untuk memperkuat kekuasaan dari penguasa. Subjektivitas dalam sejarah merupakan sesuatu yang tidak dapat di pisahkan juga, karena penulis sejarah tidak mungkin bisa lepas dari nilai yang  di yakini oleh seorang penulis sejarah tersebut. Mereka tidak bisa lepas dari nilai politik dan etnis dimana penulis sejarah tersebut berada.
Dengan demikian, dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa literasi selalu berkaitan dengan text dan context. Sehingga fungsi literasi sebagai sosial praktik dapat terealisasikan melalui tulisan yang juga sebagai teks artefak. Tulisan yang dimaksud tidak hanya sekedar tulisan tetapi juga validitas keakuratannya bisa dipercaya atau dari sumber yang jelas.

0 comments:

Post a Comment