Saturday, March 1, 2014


Nama : Resa Novianti
Class  :PBI-B
NIM  : 14121310343


Buku Mampu Mengubah Dunia

Berbicara kebenaran melalui buku sebagai bukti yang dapat di pertanggungjawabkan  kebenarannya atau valid (referensi yang jelas). Buku adalah salah satu karya sastra dan karya ilmu pengetahuan dalam peradaban dan kebudayaan manusia. Buku merupakan kumpulan kertas  atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan dan gambaran dari ide, imajinasi dan pikiran seseorang. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.
Ada berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku. Buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas papirus . Kertas papirus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Pedagang muslim membawa teknologi penciptaan kertas dari Cina ke Eropa pada awal abad 11 Masehi. Disinilah industri kertas bertambah maju. Apalagi dengan diciptakannya mesin cetak oleh Gutenberg perkambangan dan penyebaran buku mengalami revolusi. Kertas yang ringan dan dapat bertahan lama dikumpulkan menjadi satu dan terciptalah buku. Pecinta buku biasanya dijuluki sebagai seorang bibliofil atau kutu buku.Terrdapat karya hebat para penulis yang dapat dianggap sebagai buku terbaik sepanjang masa peradaban manusia
Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu, juga dikenal dengan buku kuno. Buku kuno itu ditulis di atas daun lontar. Daun lontar yang sudah ditulisi itu lalu dijilid hingga membentuk sebuah buku. Perkembangan perbukuan mengalami perubahan signifikan dengan diciptakannya kertas yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahan baku penerbitan buku.
            Buku mengoperasikan dalam banyak cara untuk mengubah kesadaran seseorang. Kita tahu bahwa  manusia merupakan mahluk unik yang diberi akal. Setiap manusia memiliki pemikiran sendiri-sendiri atas apa yang dialaminya, pemikiran atau pola pikir manusia tidak terbentuk begitu saja. Manusia banyak mengalami proses yang mempengaruhi pemikirannya, entah itu dari lingkungan keluarga, kehidupan sehari-harimaupun lainnya . Sehingga dari sekian banyak proses saya rasa buku merupakan sebuah proses paling cepat dalam membentuk sebuah pola pikir manusia.
            Dengan membaca, seseorang dapat mengetahui bahkan menemukan realita atau fenomena kehidupan. Fungsi dari sebuah buku adalah sebagai sumber informasi dan pengetahuan dalam melihat realitas kehidupan, sehingga dapat  merubah keyakinan  seseorang  yang mulanya  irasional menjadi rasional karena keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai irasional orang-orang berhubungan secara kausal dengan gangguan-gangguan emosional dan behavioralnya, maka cara yang paling efisien untuk membantu orang-orang itu dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri.Selanjutnya dapat  Menjelaskan kepada mereka bagaimana gagasan-gagasan mereka sampai menjadikan mereka terganggu, menyerang gagasan-gagasan irasional mereka diatas dasar-dasar logika” (Gerald Ceray:1999). Terkadang sebagian orang setelah membaca sebuah ide-ide baru dalam sebuah buku,merasa  seperti menemukan mata air yang memberikan kesejukan, mencerahkan, serta dapat melihat kehidupan atau masalah dari sudut pandang yang berbeda, hanya saja kadang orang tersebut tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat apabila mereka memiliki kesanggupan untuk membentuk sikap dan perilaku seperti bacaaannya  atau merasa canggung dan tidak kuasa melawan lingkungan atas tanggapan yang akan diterima dengan perubahan yang ditunjukan.
            seseorang tahu tidak hanya dari mendengar saja, melainkan harus tahu fakta, yakni dengan cara membaca teks. Menulis dan membaca merupakan suatu media yang dapat membuat perspektif atau pandangan seseorang terbuka. Kita tahu bahwa menulis dan membaca itu ibarat dua saudara yang tidak bias di pisahkan. Menulis merupakan hal yangsusah susah gampang  karena didalamnya kita dapat menuangkan apa yang menjadi pikiran kita. Kunci dari menulis itu sendiri memang gelisah dan masalah, kemudian merangkai keadaannya menjadi kalimat yang indah dan nyaman untuk dibaca. Setiap penulis memiliki pola pikir dan visi yang berbeda-beda. Menulis adalah kerja yang abadi, karena hasil karya tulisan dapat dibaca sepanjang masa. Menulis salah satu cara dalam melestarikan ilmu pengetahuan. Seorang penulis harus senantiasa bergairah hidupnya dan mampu mengubah masalah dan kemalasannya menjadi sebuah kesenangan, motivasi dan tulisan yang indah. Menulis, pada dasarnya adalah mengarang sesuatu tulisan yang mulanya tidak ada, kemudian diada-adakan.
Membaca buku bagaikan menyelami dunia lain, maksudnya adalah sebuah dunia yang ada di dalam pikiran orang lain. Sementara setiap orang memiliki dunia masing-masing. Dengan membaca buku kita akan menyelami berbagai dunia orang lain yang akan memberikan kita kebijaksanaan yang lebih mendalam dalam menghadapi hidup. Tidak ada, satu buku pun yang pernah ditulis di dunia yang tidak membawa manfaat. Setiap buku akan membawa manfaat kepada kita jika kita mampu menangkap makna dan hikmah. Jika kita masih kesulitan menangkap makna dan hikmah dari suatu buku, berarti kita harus meningkatkan keterbukaan pikiran kita. Hikmah dan makna sebuah buku tidak akan masuk ke dalam pikiran yang tertutup. Satu-satunya buku yang tidak membawa manfaat adalah buku yang tidak pernah kita baca. Sekali kita membaca buku, maka makna dan hikmah buku tersebut bisa masuk ke dalam pikiran kita jika pikiran kita terbuka.
Ketika suara diproduksi maka akan langsung hilang pada saat itu juga kecuali jika suara tersebut direkam, ia akan bisa diperdengarkan kembali. Hal tersebut bisa diimplikasikan pada Sejarah. Sejarah jika hanya direpresentasikan melalui mulut ke mulut tanpa ditulis, ia akan hilang. Pada zaman kuno, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, do’a-do’a, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Karenanya, hafalan merupakan ciri yang menandai tradisi ini. Semuanya dihafal. Kian hari, kian banyak saja hal-hal yang musti dihafal. Saking banyaknya, sehingga akhirnya mereka kuwalahan alias tidak mampu menghafalkannya lagi. Hingga, terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai buku kuno.
Ilmu pun jika tidak diikat dengan tulisan, ia akan hilang, jadi tulisan merupakan suatu media untuk mengikat pengetahuan yang diperoleh baik melalui komunikasi verbal ( Lisan ) maupun dokumental ( tulisan ). “Ilmu itu buruan, dan tulisan itu pengikatnya. Maka, ikatlah buruan itu dengan tali yang kuat.” Pribahasa Arab yang saya dengar ketika sekolah dulu menggambarkan betapa pentingnya menulis. Tulisan dapat dikatakan menjadi batasan sebuah zaman sejarah dan pra-sejarah. Saking pentingnya tulisan ini, Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk menulis Al-Quran dan perkataan beliau apapun media nya. Mulai dari kulit, batu, pohon, dan media-media yang merepotkan. Sejarah yang dimulai dari tulisan, mecatat tulisan itu sendiri. Betapa banyak orang yang terinspirasi oleh tulisan. Yang membuat seseorang dapat memiliki sebuah persepi. Ataupun melakukan sesuatu. Apakah itu hal baik atau hal buruk. Ini adalah bukti nyata dari pengaruh tulisan. Mencatat setiap detail sejarah manusia dari masa ke masa. Sehingga Suatu saat nanti, kepingan tulisan berisi sejarah ini akan dibaca generasi berikutnya. Untuk mengambil pelajaran agar tidak terjebak di lubang yang sama. Agar terjadi akselarasi inovasi dan perbaikan yang berkelanjutan. Tulisan mengikat kita dengan masa sebelumnya. Yang membuat kesinambungan informasi dapat terjaga.
Menguasai teks dapat memanipulasi atau memutar-balikkan sejarah ( dunia ), maksudnya adalah Secarik kertas memang bukan apa-apa, kalau isinya hanya tulisan tak berarti, tapi bila secarik kertas adalah sebuah hasil coretan darisebuah sejarah l, apa lagi bila yang menulisnya tokoh internasional, misalnya berupa teks proklamasi, maka kertas tadi  bukan lagi sembarang kertas, benda itu sudah menjadi bukti sejarah yang akurat. Selembar kertas memang biasa, tapi isinya yang luar biasa.
Menurut Howard zinn bahwa christopher Colombus itu bukanlah pahlawan. dia adalah orang yang berfaham komunis. Dia juga bukan penemu benua amerika.. dia adalah penjahat, orang yang serakah, pembunuh, penindas kelompok ras hitam yang ada di benua amerika.
Mengenai pendapat howard zinn ini, kita tidak harus mempercayai begitu saja karena mayoritas orang lebih cenderung membenarkan apa yang hanya mereka dengar dari kiai, pendeta atau petinggi ( pemerintah), padahal realitanya untuk membuktikan fakta tersebut kita juga harus membaca. Tidak hanya langsung melahap mentah-mentah konsep pembicaraan yang sudah terbangun tersebut, kita harus mengkonsep ulang dengan cara mengkritisi serta harus mencari referensi lain ( fakta dan bukti ) mengenai hal yang sedang dibicarakan tersebut.
Sebuah frasa yang diciptakan oleh Quaker selama di pertengahan 1950-an. Ini adalah panggilan bagi Amerika Serikat untuk berdiri teguh melawan fasisme dan bentuk lain dari totalitarianisme, yang merupakan frase yang tampaknya membuat bingung hak politik, dengan alasan para pendiri Amerika Serikat mempertaruhkan nyawa mereka untuk berbicara kebenaran berkuasa, bahwa Raja George. Itu dan dianggap berani, meskipun lebih sering dicemooh hari ini.
Sejak Perang Dunia Kedua, label fasis telah dilekatkan pada figur-figur dan gerakan-gerakan seperti Gerald L. K. Smith, Senator Joseph McCarthy, Senator Eastland, Barry Goldwater, Minutemen, John Birch Society, Richard Nixon, Ronald Reagan, dan George Wallace.
Fasisme sendiri memiliki arti gerakan radikal suatu ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter yang berusaha mobilisasi massa suatu bangsa dan terciptanya "manusia baru" yang ideal untuk membentuk suatu elit pemerintahan melalui indoktrinasi, pendidikan fisik, dan eugenika kebijakan keluarga termasuk. Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan dan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara. Fasisme didirikan oleh sindikalis nasional Italia dalam Perang Dunia I yang menggabungkan sayap kiri dan sayap kanan pandangan politik, tapi condong ke kanan di awal 1920-an. Para sarjana umumnya menganggap fasisme berada di paling kanan. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam memberikan renovasi spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk mendominasi dalam karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui dinas militer . Fasis kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang menciptakan regenerasi semangat, nasional dan vitalitas. Fasisme adalah anti-komunisme, anti-demokratis, anti-individualis, anti-liberal, anti-parlemen, anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus anti-kapitalis Fasisme. menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme, dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan keinginan. Dalam ilmu ekonomi, fasis menentang liberalisme (sebagai gerakan borjuis) dan Marxisme (sebagai sebuah gerakan proletar) untuk menjadi eksklusif ekonomi berbasis kelas gerakan Fasis ini. ideologi mereka seperti yang dilakukan oleh gerakan ekonomi trans-kelas yang mempromosikan menyelesaikan konflik kelas ekonomi untuk mengamankan solidaritas nasional Mereka mendukung, diatur multi-kelas, sistem ekonomi nasional yang terintegrasi.
Totalitarianisme merupakan sebuah  fahaman bahwa sistem pemerintah yang paling ekstrem adalah dengan membenarkan kewujudan satu partai politik sahaja untuk memerintah negara secara total atau mutlak. Sistem ini adalah lebih ketara berbanding sistem diktator atau negara polis (police state) dan ia melibatkan propaganda yang berpanjangan untuk memastikan rakyatnya secara rela hati akan patuh dengan kerajaan. Kadangkala, kerajaan akan mengambil langkah drastik seperti membunuh para intelek supaya tiada rakyat yang menentang kerajaan yang mutlak ini. Totalitarianisme dalam semua bentuk hubungan mencirikan fasisme sebagai pandangan hidup, bukan hanya sekedar sistem pemerintahan. Berbeda dengan beberapa bentuk kediktatoran di Amerika Latin yang menerapkan prinsip otoriter hanya di bidang pemerintahan saja. Dalam artian jika secara politik rakyat tidak menimbulkan masalah atau kesulitan dan tidak mengganggu kekuasaan diktator dan pengikutnya, maka mereka bebas menjalani hidupnya. Sebaliknya, dalam konsep fasisme yang bersifat totaliter. semua bentuk hubungan masyarakat diatur oleh pemerintah dengan menggunakan kekuasaan dan kekerasan. Fasisme juga menggunakan semua bentuk kekerasan mulai dari verbal hingga ancaman pembunuhan massal.
Kaum fasis Dunia Ketiga tidak pernah ragu melakukan kekejian yang mengingatkan pada pembantaian oleh Nazi. Misalnya, diktator Chili Jendral Pinochet, yang naik ke kekuasaan melalui sebuah kudeta militer terhadap Presiden Allende pada tahun 1973, mengubah negerinya menjadi sungai darah. Pinochet membunuh Allende dengan serangan tank dan pesawat jet terhadap Istana Presiden. Namun, rakyat Chili diberitahu bahwa Allende telah melakukan bunuh diri karena menolak untuk menyerah. Setelah itu, Pinochet dengan kejam melenyapkan para pendukung Allende dan kaum oposisi. Junta pimpinannya membunuh ribuan orang pada tahun pertama kekuasaannya, dan sekitar 90.000 dari 9 juta rakyat Chili ditangkap. Teror terhadap penduduk, jasad-jasad yang ditumpuk di rumah mati, atau ditembak dan dibuang ke Sungai Mapocho, penahanan para tersangka di Stadion Santiago, penyanderaan, operasi-operasi pencarian dan penjarahan yang seringkali terjadi, hanyalah sebagian dari kejahatan rezim Pinochet. Lembaga-lembaga pendidikan “dibersihkan”, dan mata kuliah sejarah serta geografi di universitas disensor oleh penguasa fasis.

Kediktatoran fasis yang serupa dengan rezim Pinochet juga berhasil meraih kekuasaan di negara-negara Amerika Latin seperti Argentina, Guatemala, El Salvador, Nikaragua, Honduras dan Paraguay, dan juga membawa kekejaman yang mengerikan. Ribuan penentang junta di Argentina “menghilang”. Berdasarkan bukti - bukti yang ada, lebih dari 2.000 tahanan politik dibawa dengan pesawat-pesawat terbang kemudian dilempar ke lautan dari jarak ribuan kaki di udara. Kebrutalan di Guatemala juga tak kalah menakutkan. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, rezim fasis yang menggulingkan presiden pertama dan satu-satunya yang terpilih, Jacobo Arbenz pada tahun 1954, mengubah negeri itu menjadi lading ladang pembunuhan.
Ebenstein (2006:154) mengatakan fasis mungkin tidak lagi merupakan sebagai ancaman bagi negara-negara yang menganut sistem demokrasi yang terkemuka. Tetapi tidak menutup kemungkinan gejala-gejala untuk megambil oper pemerintah jika dilihat-gejala-gejala masih ada.
Gejala-gejala ini bisa dilihat adanya gerakan-gerakan yang terjadi misalnya di Amerika serikat yang anti-intelektual yang melemahkan proses-proses rasionalitas. Gejala lain adalah munculnya gejala rasialisme dibebarapa negara, gejala lain adalah bermunculan keresahan-keresahan sosial di tengah masyarakat yang muncul akibat ketidak berhasilan sistem demokrasi, yang juga anti komunis. Alternatif praktis bukanlah diantara 100 persen baik dan 100 persen jahat, tetapi selalu diantara campuran-campuran kedua keadan itu dengan porsi yang berbeda
Ebenstein (2006:154) mengatakan fasis mungkin tidak lagi merupakan sebagai ancaman bagi negara-negara yang menganut sistem demokrasi yang terkemuka. Tetapi tidak menutup kemungkinan gejala-gejala untuk megambil oper pemerintah jika dilihat-gejala-gejala masih ada.
Gejala-gejala ini bisa dilihat adanya gerakan-gerakan yang terjadi misalnya di Amerika serikat yang anti-intelektual yang melemahkan proses-proses rasionalitas. Gejala lain adalah munculnya gejala rasialisme dibebarapa negara, gejala lain adalah bermunculan keresahan-keresahan sosial di tengah masyarakat yang muncul akibat ketidak berhasilan sistem demokrasi, yang juga anti komunis. Alternatif praktis bukanlah diantara 100 persen baik dan 100 persen jahat, tetapi selalu diantara campuran-campuran kedua keadan itu dengan porsi yang berbeda.
 Jadi kesimpulannya adalah banyak pelajar yang saat ini menganggap bahwa buku hanya sebatas alat untuk melengkapi keperluan sekolah saja. Mungkin saat ini saya juga merasa hal seperti itu. Tapi mungkin anggapan kita selama ini saya katakan salah. Karna buku sangat berguna bagi kita khususnya sebagai seorang pelajar. Ada pepatah berkata buku adalah gudang ilmu .Dan saya merasa bahwa jika menemukan  hal seperti ini mungkin hanya sekedar kita baca tapi kita tak mengerti ap maksud yang tersirat dalam kalimat ini.  Tapi jika kita mengetahui apa maksudnya saya yakin bahwa kita semua bersyukur karna telah ada buku di bumi ini. Mungkin selama ini kita tidak menyadarinya .tapi saya harap kita bisa sama-sama mengubah pemikiran yang demikian. Jadi dengan begitu kita sama-sama juga untuk memanfaatkan buku mulai dari sekarang. Dengan begitu anak bangsa menjadi pintar.Selain itu dengan membaca buku maka kita juga dapat memperoleh pengetahuan yang luas. Buku juga dapat memanipulasi atau memutar-balikkan sejarah (dunia).
Mungkin ini yang bisa dijadikan tema besar tentang pentingnya buku untuk dibaca. Artinya bahwa betapa pentingnya buku untuk menata kehidupan, sehingga kalau kita mengabaikan membaca buku, berarti kita juga mengabaikan pengetahuan emas dari buku dalam menata kehidupan itu sendiri. Lewat bukulah kita bisa menembus ruang angkasa yang amat luas. Intinya, bahwa hanya dengan membaca buku, kita akan tahu banyak hal, kita juga bisa tahu banyak tentang relasi esensi alam ini dengan manusia. Semakin banyak buku yang kita baca, maka akan semakin mudah bagi kita untuk “menguasai dunia”.
Buku telah menginspirasi banyak orang besar untuk merubah dunia. Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa depan generasi anak bangsa . Banyak  orang orang hebat karena mereka adalah orang yang kutu buku. Terbukti di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno adalah orang-orang yang sangat kutu buku. Buku-buku telah mengilhaminya untuk merubah bangsanya menjadi lebih baik. Kelahiran kemerdekaan negeri ini adalah karena pemikiran yang hebat yang telah mengilhami Bung Karno karena wawasan yang luas dari hasil bacaannya.
Bagaimana anda melihat negeri Jepang yang pada perang dunia hancur lebur namun dalam sekejab menjadi raksasa ekonomi dunia. Ternyata rakyat Jepang adalah orang-orang yang gila ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan hampir di semua daerah bermunculan. Buku telah menginspirasi masyarakat Jepang menjadi negara maju. Yang menarik untuk dicermati dalam hal ini adalah Jepang yang sebelumnya hanya sebuah bangsa yang terisolir dari dunia luar, kini mampu tampil menjadi salah satu peradaban cemerlang.
Lepas dari itu semua, bahwa yang terpenting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai dan keterbukaan jiwa untuk menerima bahwa membaca sebagai hal yang menyenangkan. Sebelum melaksanakan aktifitas yang akan sesuai dengan tujuan, memang harus menanamkan nilai-nilai yang ada sebagaimana yang dicita-citakan oleh bangsa.


1 comments:

  1. Jangan terjebak pada euforia mengenai buku Artikel ini akan hidup apabila kamu mampu mengaitkan antara sejarah dan literasi

    ReplyDelete