Saturday, March 1, 2014


Judul : Perubahan Berawal dari Fakta Sejarah



Menulis adalah suatu kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian orang,  karena kita bisa menuliskan apapun yang sedang kita rasakan di sebuah lembaran kertas (buku pribadi/diari)  tanpa ada satu orang pun yang mengetahui tulisan kita. Dengan Menulis kita bisa mengekspresikan apa yang ingin kita ungkapkan, Mungkin banyak yang tidak sadar mereka sering menulis untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka sampaikan. Ada banyak orang yang menjadikan kegiatan menulis ini sebagai sebuah profesi, mereka bisa berimajinasi yang akhirnya membuahkan sebuah karya yang dapat disukai oleh banyak orang, dan tentunya bisa mendatangkan penghasilan untuk mereka. Tidak hanya itu, pengertian menulis berbeda ketika dalam konteks di sekolah, kita harus mencatat apa yang sudah dijelaskan oleh guru, dan masih banyak lagi pengertian menulis dalam konteks yang berbeda. ketika sedang belajar di kelas pun kita melakukan kegiatan menulis untuk mencatat pelajaran yang dijelaskan oleh guru. Tetapi terkadang sebagian orang tidak menyukai kegiatan menulis, dan saya termasuk di dalamnya, saya terlalu berat tangan untuk menuliskan apapun yang sedang saya rasakan, tetapi kalau ada tugas itu konteksnya berbeda.

Ketika saya duduk dibangku SMK, mulai dari kelas 1 sampai kelas 3, setiap hari kita selalu menulis yang berhubungan dengan materi tersebut dan jumlahnya sampai beberapa halaman. Karena kalau tidak menulis, kita tidak bisa menjawab soal ujian karena kita tidak mempunyai buku panduan. Oleh sebab itu, kita menulis semua yang tertera dalam buku panduan guru. Walaupun sangat melelahkan, kita tidak punya pilihan, tetapi kita merasakan manfaatnya pada saat belajar untuk mempersiapkan ujian.

Saya sangat mengapresiasi bagi mereka yang menjadikan kegiatan menulis sebagai suatu profesi. Mereka bisa menuliskan imajinasi mereka kedalam bentuk tulisan, bisa juga mereka ingin berbagi informasi dengan banyak orang, itu sebabnya mereka menyukai kegiatan menulis. Tidak sembarangan orang dapat menulis, yang hasil karyanya disukai banyak orang.

Menurut Solehan, dkk (2008: 9.4) kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diperoleh secara otomatis. Solehan menjelaskan bahwa kemampuan menulis seseorang bukan dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran. Berhubungan dengan cara pemerolehan kemampuan menulis, seseorang yang telah mendapatkan pembelajaran menulis belum tentu memiliki kompetensi menulis dengan handal tanpa banyak latihan menulis.

Seorang penulis yang baik tentu tak akan puas hanya bila karyanya dipublikasikan. Ia pasti menginginkan adanya bentuk apresiasi, komentar, diskusi, pujian, dan terutama kritik karena kritik sangat perlu guna meningkatkan mutu karyanya di masa mendatang. Ketika kita membuat sebuah kritik atas karya seorang penulis, berarti kita sedang menempatkan teks tulisan tersebut sebagai satu studi. Oleh karenanya, sebagaimana studi-studi ilmiah lain, kajian tersebut harus dilakukan dalam kerangka yang jelas, terarah, dan tersistem.

Kemampuan menulis ini kelihatannya sangat sepele, tetapi sejak dari SD (Sekolah Dasar) materi menulis ini disejajarkan dengan membaca dan menghitung, yang biasa dikenal dengan istilah calistung (membaca, menulis, dan menghitung). Menulis adalah suatu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua orang. Sampai tingkat Perguruan Tinggi pun mahasiswa  S1 diwajibkan untuk menulis skripsi, dan S2 untuk menulis tesis.

Ketika menjadi seorang penulis, kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan (penulis memiliki hak penuh atas tulisannya) apapun yang diinginkan penulis bisa dia lakukan dalam tulisannya. Mereka juga bisa berbicara fakta yang sesungguhnya telah terjadi, atau bahkan mereka menutupi fakta yang sebenarnya terjadi dengan tulisan mereka. Itulah dahsyatnya ketika kita menjadi seorang penulis. Penulis bertindak seperti tuhan, dia menuliskan apapun yang dia sukai/inginkan, dan seolah-olah tulisannya adalah sebuah takdir yang harus diterima oleh semua pembaca.

Ada pepatah yang mengatakan kalau seribu prajurit bisa membunuh seribu prajurit, tetapi satu penulis bisa memporak-porandakan satu negara dan bahkan dunia. Begitu dahsyatnya efek yang ditimbulkan dari sebuah tulisan yang dapat mempengaruhi banyak fikiran orang. Rasanya mustahil satu buku dapat merubah fikiran orang banyak, tetapi itulah faktanya. Di abad ke 21 ini dunia dihebohkan dengan terungkapnya sebuah fakta sejarah yang mulai terkuat kebenarannya. Saya masih ingat ketika duduk di bangku SMP, guru sejarah saya menerangkan dengan sangat menarik tentang ekspedisi yang dilakukan orang barat. Beliau menjelaskan kalau penemu benua Amerika adalah Cristopher Columbus. Kita sangat terpukau dengan ekspedisi yang dilakukan oleh Cristopher Columbus sehingga berhasil menemukan benua Amerika, dan sampai sekarang banyak penduduk dunia yang meyakini penemu benua Amerika adalah Cristopher Columbus.

Di tahun 2014 ini, ketika dosen saya menyuruh kita untuk mencari tahu tentang Cristopher Columbus, saya sangat kaget karena di internet banyak yang menuliskan kalau penemu benua Amerika bukanlah Cristopher Columbus yang selama ini sudah diketahui dunia. Saya sangat heran, kenapa baru sekarang terungkap fakta sejarah ini?, kenapa mereka menutup-nutupi fakta sejarang yang sangat penting ini?, jadi siapa sebenarnya yang menemukan benua Amerika? dan siapakah Cristopher Columbus itu?. Dunia juga masih percaya akan penemu benua Amerika itu sampai tahun 2002, ketika sebuah buku karangan Gavin Menzies berjudul "1421: the Year China Discovered America" diterbitkan. Dengan yakin, Menzies menyatakan bahwa penemu benua Amerika sesungguhnya bukanlah Cristopher Columbus.  Banyak sekali pertanyaan yang muncul dikepala saya. Ternyata banyak versi mengenai siapa penemu benua Amerika, diantaranya:

1)    Teori yang diyakini Gavin Menzies
sebuah salinan peta berusia 600 tahun yang ditemukan di sebuah toko buku loak mengancam status Columbus sebagai penemu Amerika. Juga menjadi kunci untuk membuktikan bahwa orang dari Negeri China yang pertama menemukan benua itu. Dokumen tersebut konon berasal dari suatu ketika di Abad ke-18, yang merupakan salinan peta 1418 yang dibuat Laksamana Cheng Ho, yang menunjukkan detil 'dunia baru' dalam beberapa sisi. Klaim bukti bahwa laksamana China memetakan Belahan Bumi Barat (Western Hemisphere) lebih dari 70 tahun sebelum Columbus.

2)          Teori Arab dan Muslim Spanyol
Seorang sejarawan dan ahli geografi muslim, Abu Hasan al-Mas’udi pada tahun 956 menulis perjalanan muslim Spanyol di tahun 889 M. Eskpedisi pelayaran muslim Spanyol di tahun itu bertolak dari pelabuhan Delba (pelabuhan yang sama dengan start ekspedisi Columbus), dan berlayar selama berbulan-bulan ke arah Barat. Lalu mereka menemukan sebuah daratan yang sangat luas dan mereka pun berniaga dengan penduduk asli di daerah tersebut, setelah itu kembali lagi ke Eropa. Al-Mas’udi menggambarkan tanah tersebut dalam petanya yang sangat fenomenal, ia menyebut daratan tersebut dengan “Daratan yang Tidak Diketahui” atau daratan tanpa nama.
3)          Teori Afrika Barat
Ada bagian dunia Islam lainnya yang telah mengadakan kontak dengan orang-orang di benua Amerika sebelum Columbus. Di Afrika Barat ada sebuah kerajaan yang sangat kaya dan memiliki kekuatan besar yaitu kerjaan Mali dengan raja yang paling terkenal Mansa (raja) Musa. Sebelum Raja Musa, Mali dipimpin oleh saudaranya yang bernama Abu Bakar. Abu Bakar pernah mengirim 400 kapal menjelajahi Samudera Atlantik, namun dari jumlah yang besar tersebut hanya satu kapal saja yang berhasil kembali. Kapal tersebut melaporkan bahwa di seberang lautan sana ada sebuah daratan yang luas. Mendengar kabar tersebut, Mansa Abu Bakar pun melakukan ekspedisi dengan 2000 awak kapalnya menuju daerah tersebut namun setelah itu kabar mereka tidak pernah terdengar lagi.
4)          Teori Dinasti Utsmaniyah
Pada tahun 1929, terdapat sebuah penemuan yang cukup fenomenal di Istanbul. Pada tahun itu ditemukan sebuah peta yang dibuat pada tahun 1513 oleh seorang kartografer Dinasti Utsmani, Piri Reis. Reis menyatakan bahwa peta yang dibuatnya itu berdasarkan sumber-sumber di masa lalu, yaitu peta Yunani dan Arab kuno, termasuk peta yang berdasarkan ekspedisi yang dilakukan oleh Columbus yang berlayar 21 tahun sebelumnya. Yang luar biasa dari peta ini adalah tingkat kedetailannya sehingga memaksa para sejarawan melakukan penelitian ulang tentang teori ekspedisi Columbus.
          Hal ini otomatis menggemparkan seluruh dunia, yang kita ketahui penemu benua Amerika adalah Cristopher Columbus, tetapi sudah sekian lama sejarah itu terpatri di fikiran banyak orang, dan sekarang fikiran itu tergoyahkan oleh banyak bermunculan teori yang mengunggkap fakta tentang sejarah yang sudah diyakini. Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi, apakah yang sebenarnya diinginkan oleh penulis, apakah penulis sengaja menyembunyikan fakta sejarah yang sangat rahasia itu ataukah ada faktor lain yang melatarbelakangi penulis untuk menyembunyikan fakta sejarah tersebut?. Entahlah, sepertinya kita harus mengingat kalau penulis adalah sebagai tuhan dia sanggup menuliskan apapun yang dia inginkan, walaupun harus menutup-nutupi fakta sejarah dunia. Sampai sekarang masih belum jelas siapa yang pertama kali menemukan benua Amerika.
Menurut M. Atar Semi (2007: 14) tujuan menulis antara lain: untuk menceritakan sesuatu, untuk memberikan petunjuk atau pengarahan, untuk menjelaskan sesuatu, untuk meyakinkan, dan untuk merangkum.
Menurut Elina, Zulkarnaini, dan Sumarno (2009: 6) tujuan menulis adalah: menginformasikan, membujuk, mendidik, menghibur.
          Dengan adanya kejadian yang sudah menggemparkan dunia ini, banyak pihak yang sangat dirugikan, siapa lagi yang dirugikan kalau bukan para anak-anak yang hanya tahu kalau Cristopher Columbus adalah penemu benua Amerika. Mereka berasumsi kalau Cristopher Columbus adalah seseorang yang hebat yang sudah berhasil menemukan benua Amerika. Disini kita juga tidak bolah menyalahkan guru sejarah, karena fakta sejarah ini baru muncul di abad ke 21 ini, sedangkan banyak guru sejarah kita yang  usianya sudah tua dan masih menggunakan teori jaman dahulu.
Jangankan anak kecil yang masih kurang dalam akses mencari tahu tantang informasi, kita yang sudah menjadi mahasiswa juga terkadang tidak benyak tahu tentang informasi padahal banyak perpustakaan, dan kecanggihan tehnologi yang sudah tidak diragukan lagi untuk mencari informasi yang kita butuhkan. Kita terlalu ringan tangan untuk mengambil sebuah buku lalu membacanya. Kita tidak akan mengetahui kalau dunia sedang digemparkan oleh fakta sejarah yang tiba-tiba muncul, kalau kita tidak ditugaskan untuk mencarinya. Saya pribadi sangat enggan untuk membaca, entah kenapa tetapi rasanya membaca itu sangat membosankan dan membuat mata kita ngantuk. Itulah sebabnya kita tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada dunia sekarang. Pepatah mengatakan kalau “perpustakaan adalah jendela dunia”. Hal ini diibaratkan dengan membaca kita bisa mengetahui apa yang ada didunia.
Penulis harus memiliki tanggung jawab terhadap tulisannya. Jika ia bermaksud menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, dan perasaan, tentunya karena ia yakin bahwa semuanya itu akan bermanfaat bagi orang lain.
Dalam menulis, seorang penulis setidaknya harus menyadari tiga hal yang merupakan kode etiknya, yaitu:
1.     unsur informasi,
2.     unsur edukasi/pendidikan, dan
3.     unsur hiburan.

Kesadaran akan tanggung jawabnya itulah yang harus ada dalam jiwa setiap penulis. Keberaniannya untuk menyampaikan pendapat dan kebebasannya untuk berekspresi di arena tulis-menulis akan dihargai oleh masyarakat pembaca apabila ia memang memiliki kemampuan untuk mempertanggungjawabkan manfaat maupun kebenarannya. Apalagi jika buku itu mampu menggerakkan hati nurani pembacanya dan kemudian menciptakan opini di kalangan masyarakat. Inilah keberhasilan seorang penulis atau pengarang. Bahkan, buku-buku seperti ini dapat mengubah pandangan dunia.

Intisari menulis adalah mengungkap fakta. Menulis itu tugas suci bila dilandasi niat untuk mengubah keadaan yang lebih baik. Penulis melawan ketidakadilan lewat seni merangkai kata. Demikian pendapat Andreas Harsono, Ketua Yayasan Pantau Jakarta dalam Pelatihan Menulis yang diselenggarakan Yayasan TIFA di Jogjakarta (9/10/2009). Bagi Harsono, modal penulis adalah tahu dan berani. Deskripsi adalah senjata ampuh dalam penulisan. Penulis harus mampu menggambarkan suatu kejadian secara rinci. Sementara itu, keberanian mendorong penulis untuk mengungkap motif di balik kejadian.
Di mana-mana, di sepanjang zaman muncul dan akan terus muncul orang-orang yang setia kepada hati nuraninya dan menyampaikan pengalaman, gagasan, dan apa saja yang mereka rasakan melalui tulisan. Demi kebenaran dan keadilan, para pengarang bersedia menghadapi risiko apa pun. Mereka adalah para pahlawan yang tidak berharap hadiah apa-apa kecuali berekspresi kepada pembacanya untuk tujuan yang mulia. Tentu berbeda sekali dengan mereka yang hanya ingin memanfaatkan profesi menulis untuk tujuan yang menyangkut kepentingan diri sendiri.
Ada banyak sekali keuntungan ketika kita membaca, bahkan menemukan realita atau fenomena kehidupan. Dahsyatnya sebuah buku yang bisa mempengaruhi fikiran banyak orang.  Hal ini sangat cocok dengan pepatah “dengan satu otak bisa merubah dunia”. Karena memang sangat benar buku adalah alat yang bisa membuat banyak otak terpengaruh. Selama ini kita hanya duduk dan mendengarkan dosen bercerita panjang lebar tentang dunia, kita hanya bisa terpukau karena dosen tersebut terlihat seperti seseorang yang sangat jenius, yag mengetahui segalanya, dan anehnya kita percaya tanpa sedikitpun rasa ragu. Kita beranggapan kalau semua ucapa dosen itu benar, padahal kita masih belum tahu apakah yang dosen katakan adalah sebuah fakta. Selama ini kita lebih senang mendengarkan daripada membaca, padahal dengan membaca kita akan lebih tahu fakta yang sesungguhnya. Tetapi ketika kita sudah beranggapan kalau buku adalah sebuah fakta, sebagian orang membuat buku dengan fakta yang sengaja disembunyikan seperti contoh Christoper Columbus.
Mengingatkan kaum muslimin dengan peringatan al-Qur`an dalam surat al-‘Alaq, yang artinya; “Bacalah dengan nama Tuhan-mu!”Zaman skarang adalah zaman yang penuh dengan keberagaman ilmu. Bacalah apa saja yang dapat meningkatkan wawasan kita sebagai seorang muslim agar kita dapat menguasai informasi tersebut, bukan sebaliknya, informasi itu yang menguasai kita, menuduh kita dengan sesuatu yang tidak benar. Anda bisa lihat dalam beberapa surat kabar kita. Porsi bagi wawasan dan penelitian sangat minim sekali, sementara porsi untuk informasi olah raga, berita kriminalitas dan pelecehan seksual begitu dibesar-besarkan. Padahal apa yang akan didapat dari informasi-informasi semacam ini. Itulah mengapa, Rasulullah saw. sering berdo`a, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat.” Wa`lLâhu A’lamu Bishshawâb.
Kita dibuat serba salah, ketika mendengarkan belum tentu itu fakta, tetapi kalau membaca belum tentu tulisan itu memuat fakta, jika kita tidak pandai-pandai dalam menyaring informasi yang kita dapat, alih-alih menambah pengetahuan malah kita terpengaruh oleh dokrin penulis. Pa Lala juga pernah mengatakan kalau “orang yang bisa menulis, mereka bisa membolak-balikkan fakta, dan kita memang dipersiapkan untuk itu”. Aku sangat merinding ketika mendengarkan beliau berkata seperti itu. Apakah kita benar dipersiapkan untuk itu???...

Harsono memberikan kiat-kiat dalam menulis. Untuk mengubah tradisi lisan ke tulisan biasakan merekam pembicaraan. Dengarkan hasil rekaman itu, lalu tuliskan. Lama-kelamaan ia akan terbiasa dengan tradisi tulis.
Ada salah satu teman saya, kebetulan dia juga seorang penulis, saya menanyakan “apakah benar penulis bisa membolak-balikkan sejarah?” (aku bertanya karena sangat penasaran), dia pun menjawab “ya”. Semakin banyak asumsi yang ada di kepala saya tentang menjadi penulis. Teman saya pun menanyakan “apakah kamu ingin menjadi penulis?”. Saya langsung menjawab “kita sebagai mahasiswa harus menjadi penulis”. Itulah yang membuat keyakinan saya untuk menjadi seorang penulis.
Tugas kita sangat berat, bukan hanya sekarang yang masih menyandang status mahasiswa, tetapi juga setelah lulus dari Perguruan Tinggi dan menjadi seorang guru. Beban guru itu sangat berat, bukan hanya mengajar, tetapi kita juga harus mengantarkan siswa kita kepada kesuksesan baik jasmani maupun rohani.
Guru dikatakan sempurna apabila mempunyai tanggung jawab yang dijalankan dengan baik. Guru adalah seorang pendidik yang juga merupakan pembimbing. Dalam bidang kemanusiaan di sekolah, guru harus bisa menjadi dirinya sebagai orangtua kedua bagi siswa. Seorang guru harus bisa menarik simpati agar menjadi idola para siswa dan disukai sehingga siswa senang belajar dengan guru, guru harus dapat mengecek materi yang telah disampaikan kepada siswanya. Apakah materi tersebut sesuai dengan kurikulum, apakah tidak ada kesalahan konsep ketika materi itu disampaikan, dan apakah mutu materi yang disampaikan selevel dengan mutu materi yang disampaikan di sekolah lain. Hal seperti ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh seorang guru yang hanya asal mengajar saja. Butuh kelegawaan untuk menyadari bahwa tugas guru bukan hanya menyampaikan saja, namun juga harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah disampaikannya.
Salah satu cara menciptakan suasana KBM yang menyenangkan diantaranya yaitu guru dituntut untuk responsif menjawab kebutuhan siswa, selalu siap untuk berdiskusi, dan menjadi pendengar yang baik atas persoalan belajar siswa. Selain tentunya guru harus memberikan aturan main yang jelas dan memberikan kesempatan bagi siswa  untuk bertanya sehingga akan terjadi umpan balik antara siswa dengan guru.

Banyak guru berusaha untuk menyampaikan banyak informasi pada satu pertemuan, guru beralasan mengejar target semester sesuai dengan kurikulum.  Menurut saya itu tidak akan efektif, itu hanya akan membuat siswa kelebihan beban informasi, kewalahan, dan sulit mencerna, dan ini tidak baik untuk perkembangan siswa. Maka dari  itu, seorang guru selayaknya melakukan komunikasi yang singkat, jelas dan terfokus ketika KBM. Jangan memberikan informasi yang terlalu banyak kepada siswa dalam satu pertemuan tetapi guru harus pandai-pandai dalam perencanaan pengajaran sehingga target pelajaran dapat tercapai tanpa harus memberikan informasi berlebihan dalam satu pertemuan.

Ketika penulis menyembunyikan sejarah, banyak efek yang akan ditimbulkan, dan efek yang besar akan dialami oleh dunia pendidikan, karena dalam dunia pendidikan semua sejarah akan dibicarakan.

Referensi:







1 comments:

  1. tulisan ini nampak tidak seprti bangunan yang utuh. Sesuatu yang kamu bangun di 5-7 paragraf pertama nampak tidak punya koherensi dengan isu besar yang diungkap Zinn

    ReplyDelete