Saturday, March 1, 2014






“Sejarah bukanlah sosok yang terpendam yang harus dipendam, akan tetapi sosok perjalanan terpendam yang memang harus dikeluarkan dari pendamannya”

Mencari suatu kebenaran tak semudah berkaca di hadapan cermin, apabila sudah nampak wajah kita maka itulah diri kita yang sebenarnya. Begitu pula dengan kenangan yang tak pernah luput dari pengalaman. Anak cucu adam adalah kita semua yang dinobatkan sebagai generasi berikutnya bagi bangsa. Kualitas bangsa ada ditangan generasinya kelak. 

Indonesia adalah salah satu Negara yang tak pernah luput dari berjuta kenangan sejarah yang ada di dalamnya. Sebagian besar orang mengetahui bahwa sejarah merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi di masa lalu. Kita dapat mempelajari sejarah dari siapapun karena per kembangan sejarah akan terus berubah dan memang bersifat unchangeable. Pengetahuan sangat penting begitu pula dengan pengalaman yang statusnya sangatlah diperlukan. Akan tetapi yang menjadi permasalahannya adalah apakah kita sebagai warga Negara Indonesia benar-benar menyadari akan pentingnya sebuah sejarah?



Tak dapat dipungkiri kalau masyarakat Indonesia sangatlah acuh tak acuh terhadap sejarah yang telah terjadi tempo dulu. Bahkan seolah-olah sejarah tinggallah kenangan belaka yang hanya bisa dikenang dan tak terlalu penting untuk dipelajari. Bukan hanya masyarakat biasa yang tak menghiraukan sejarah terutama sejarah di Indonesia, akan tetapi juga sudah berkecambah bahakan menjalar hingga menelusup ke dalam otak tiap siswa Indonesia. Para siswa selalu menganggap bahwa sejarah hanyalah mereka kenal lewat pelajaran sejarah saja di sekolah. Eits…!! Jangan salah loh, justru semuanya berawal dari sejarah, kita dapat menanam bibit-bibit pengetahuan baru yang nantinya bermanfaat bagi kita juga sebagai generasi yang baik.

Hari demi hari, bulan demi bulan hingga tahun demi tahun banyak perubahan yang selalu diupayakan Indonesia demi meningkatkan kualitasnya dikancah internasional terutama dalam bidang pendidikan. Akan tetapi sungguh disayangkan sekali, di sini hanya dipantau dari satu sisi saja tanpa memperhatikan sejauh mana anak bangsa Indonesia dalam mengarungi bahtera literasi mereka. Tak usah jauh lah berhayal, karena hayalan tanpa tujuan hanya akan membuang-buang waktu untuk memikirkan hal itu. Masih saja ironis untuk pendidikan di Indonesia. Tak ada orang tua ataupun guru yang menginginkan anak-anaknya lemah akan sejarah.

Berdasarkan kenyataan yang ada sekarang adalah kurang minatnya siswa untuk membaca. Membaca apapun itu bentuknya pasti akan membawakan manfaat bagi siapapun yang berminat untuk membacanya. Semuanya berawal dari diri-sendiri. Bukan dunia yang akan merubah diri kita akan tetapi diri kitalah yang akan mengubah dunia dari sejauh mana pengetahuan yang kita miliki dan sedalam mana ilmu yang kita peroleh. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengetahui bagaimana sejarah yang telah terjadi di negeri ini khususnya di Indonesia. Memori manusia sangatlah beragam, adanya kapasitasnya hanya sebatas mengingat tanpa teks dan ada pula yang tak kuat mengingat lalu ia hanya bergantung pada informasi yang disampaikan dari orang lain, ada pula yang berperan sebagai saksi bisu sebuah sejarah yang dituliskan kembali lewat tinta-tinta indahnya sehingga  akan selalu bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Peran siswa sangatlah penting dalam pembahasan kali ini. Mungkin akan terasa jenuh apabila harus terus-menerus dihadapkan dengan serangkaian sejarah sebagai saksi bisu adanya Negara Indonesia tercinta ini. Namun sangat disayangkan karena hal ini hanya dipandang sebelah mata.  Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh anak bangsa berdasarkan pernyataan dari Howard Zinn (penulis artikel Speaking Truth to Power with Books1) bahwa ada kalanya ketika membaca buku tingkat kesadaran pembacanya akan terpengaruhi, tanpa secara langsung dari teks yang dibaca akan tersalur ide dari penulis kepada pembaca tanpa terpikirkan sebelumnya. Perlu diketahui juga bahwa sosok Howard Zinn dapat dijadikan contoh pula bagi kita sebagai generasi penerus karena beliau seorang penulis yang awalnya tidak terlalu berambisi menjadi seorang pembaca dan juga penulis, akan tetapi karena berawal dari keinginannya untuk membaca walau hanya memiliki sebuah buku. Akan tetapi dari situlah ia berubah dari sosok sekumpulan kalimat yang dapat menusuk pikirannya  hingga menjadi seseorang yang kritis terhadap apa yang ia baca.

Tidak hanya Howard Zinn saja, akan tetapi masih banyak tokoh lainnya yang dapat dijadikan pacuan untuk membangkitkan semangat anak Indonesia dalam mengembangkan imajinasinya dalam mempelajari secara dalam mengenai sejarah bahkan fenomena penting yang terjadi dan sama sekali belum diketahui bagi pembacanya. Teks dalam buku tidak hanya memiliki satu pandangan mengenai sejarah, akan tetapi puluhan, ratusan bahkan ribuan sudut pandang yang bertaburan di atas lembar putih sebagai saksi bisu sebuah sejarah. Tidaklah semuanya benar apa yang dituliskan ke dalam sebuah teks. Hanya dengan satu topik, otak kita (sebagai siswa bahkan mahasiswa) dapat diputar-balikkan oleh serangkaian opini bahkan fakta yang memang tidak kita ketahui sebelumnya.

Pengetahuan yang luas dan tinggi atau rendahnya minat baca sangatlah memiliki pengaruh yang besar dalam meningkatkan rasa literate kita sebagai pembaca. Tidak semuanya teks yang kita baca itu benar sesuai fakta, akan tetapi bisa jadi itu hanya beberapa opini atau argumen para penulis yang pada akhirnya akan membuat pembaca seolah-olah timbul beberapa pertanyaan mengenai apa yang ingin ia ketahui. Tidak lepas dari peran para siswa, kompetisi pun kerap dilakukan oleh para guru guna meningkatkan kualitas literasi para siswa. Tingkat pendidikan di Indonesia sangatlah rendah dibandingkan dengan Negara-negara lain, hal ini dibuktikan melalui penelitian dari data Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang meneliti siswa kelas IV SD menunjukkan bahwa prestasi membaca siswa Indonesia sangat rendah. Kemampuan membaca siswa Indonesia pada urutan ke-45 dari 49 negara yang diteliti. Skor Indonesia (405) berada di atas Katar (353), Maroko (323), dan Afrika Selatan (302). (www.dnaberita.com)

Tingkat tinggi-rendahnya kepandaian siswapun tak dapat disalahkan, karena hanya siswa yang mempunyai tingkat intelektual tertentu yang mudah menyerap suatu sejarah atau fakta dari sebuah teks yang akan atau telah dibaca. Terdapat kesulitan dan salah pemahaman oleh para siswa pula yang menjadi salah satu faktor kenapa generasi bangsa enggan mengetahui sejarah yang ada di Indonesia bahkan di dunia walaupun hanya sekilas. Ketika dihadapkan dengan teks, banyak sekali reaksi yang  beragam dari tiap individu mulai dari perut terasa mual karena terpaksa membaca, kepala pusing karena teks yang dibaca sulit untuk diserap, bahkan bisa menyebabkan siswa tersebut frustasi karena tidak adanya rasa ikhlas untuk membaca teks tersebut.

Banyak tokoh yang mengemukakan pendapatnya mengenai kegunaan sejarah, antara lain C.P. Hill (1956) yang menyatakan bahwa mempelajari sejarah banyak kegunaannya bagi peserta didik, antara lain:

1.    Secara unik dapat memuaskan rasa ingin tahu tentang orang lain, tentang kehidupan para tokoh/pahlawan, perbuatan, dan cita-citanya dan juga dapat membangkitkan kekaguman tentang kehidupan manusia masa lampau,
2.             melalui pengajaran sejarah dapat dibandingkan kehidupan zaman sekarang dengan masa lampau,
3.             melalui pengajaran sejarah dapat diwariskan kebudayaan umat manusia,
4.      lewat pengajaran sejarah di sekolah-sekolah dapat membantu mengembangkan cinta tanah air di kalangan para siswa.

Dengan membaca sejarah seolah-olah pembaca dituntut untuk terjun ke dalam teks tersebut bahkan terseret pula menjadi saksi bisu adanya peristiwa itu terjadi. Dengan membaca sejarah pula seolah-seolah dituntut untuk mengungkap tabir peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Melalui teks pula sejarah dapat diungkap dan selalu dikenang. Akan tetapi apakah kita sebagai masyarakat Indonesia dapat memahami betul kenapa kita dituntut untuk mengetahui suatu sejarah? Pasti jawabannya adalah tergantung individunya masing-masing, karena kita tak pernah dituntut untuk mengerti, memahami bahkan menghafal sebuah sejarah untuk bersemayam diotak kita yang secara realita sangatlah jauh dari harapan.

Masyarakat Indonesia masih terbawa dengan literate lama. Hal ini yang menyebabkan mereka sulit untuk menulis sebuah memory penting dalam hidup mereka sehingga turun-temurun ke anak cucu mereka sampai saat ini. Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa dengan cara menyampaikan suatu kejadian atau sejarah melalui mulut ke mulut akan lebih efektif karena dilakukan secara langsung berdasarkan apa yang mereka ketahui.

Perkembangan tekhnologi semakin canggih bahkan manusianya pun semakin pandai dalam menyesuaikan semua persoalan yang ada. Apalah jadinya jika Negara ini tanpa perubahan melalui sejarah? Masyarakat bisa saja berkata A atau B akan tetapi dari argument mereka pantaskah dijadikan contoh bagi para siswa untuk dipelajari? Kini semuanya ada ditangan kita. Apakah kita hanya akan dijadikan pengikut unutuk memahami suatu serjarah tanpa dilandasi pengetahuan kita yang cukup untuk semua itu.

Seorang pembaca butuh sumber bacaan yang akurat, begitu pula seorang penulis yang sangat teramat membutuhkan sumber sebagai bahan rujukan untuk menguatkan apa yang hendak dituliskan olehnya sebelum diedarkan danj dibaca kembali oleh khalayak umum. Rendahnya minat baca anak Indonesia menjadikan mereka sekumpulan anak yang vakum terhadap perkembangan sejarah. Nampaknya perlu diupayakan lagi leh para guru agar menjadikan anak didik mereka sebagai anak yang gemar membaca terutama agar tidak cepat terbodohi oleh isu sejarah yang berkembang yang belum jelas akan kebenarannya.

Howard Zinn seorang penulis “Speaking Truth to Power with Books” memaparkan bahwa dari tiap kata yang terurai dalam setiap teks, di situlah suatu sejarah akan merasuki otak pembacanya yang menjadikan seolah-olah roh pembaca ikut terbang melayang bersama sejarah yang tengah dibaca. Kembali lagi terhadap anak bangsa yang pada dasarnya tidak memiliki keabsahan diri untuk membaca. Apalah jadi negeri ini apabila generasi penerusnya pula tidak mengetahui bagaimana sejarah atas sesuatu fenomena yang telah terjadi dan patut untuk diungkap? Berbicara hanya berbicara, dan menulis hanyalah menulis, fenomena inilah yang harus dijadikan perhatian khusus bagi para orangtua ataupun guru agar anak-anaknyatidak tertinggal sebagai warga yang berliterate? Banyak yang mengatakan bahwa dengan banyak membaca seakan dunia berada dalam genggaman kita, begitupunsebaliknya apabila kita tidak suka membaca maka seolah-olah kita berada pada sekumpulan orang-orang akan tetapi kita tidak tau harus melakukan apa.

Inilah kekuatan teks, inilah kekuatan daya ingat, dan inilah kekuatan antara writer-reader yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Untuk memberikan contoh yang cukup sederhana kepada anak bangsa ialah tidak usaha terlalu jauh memperkenalkan sejarah yang ada diluar terlebih dahulu, akan tetapai perkenalkanlah beberapa sejarah yang ada disekitar kita. Dapat dilakukan melalui penjelasan, kemudian melalui teks agar apa yang diucapkan sesuai dengan fakta yang ada. Dengan membaca dan menulis bahwasanya dapat membuat perspektif dan pandangan seseorang akan terbuka yang awalnya tidak tahu menjadi pengetahuan baru baginya.

Salah satu contoh lagi yang dicantumkan oleh Howard Zinn yaitu mengenai suatu kasus akan kepercayaan masyarakat Amerika terhadap penemuan Benua Amerika oleh Christopher Columbus. Tidak semua tulisan mengandung kebenaran dan tidak semua tulisan hanya isu belaka dan begitu pula dengan salah satu contoh Columbus di sini. Banyak terjadi salah pemahaman mengenai sosok seorang Columbus di mata dunia. Ihwalnya Ia diketahui oleh khalayak umum sebagai sosok pahlawan yang telah menemukan Benua Amerika pada tahun 1492 silam. Akan tetapi banyaknya pandangan dari sudut pandang penulis yang merealisasikan suatu kebenaranyang harus terungkap. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa Columbus ialah sosok navigator Spanyol Italia yang serakah, selalu berkomba-lomba demi memenuhi kepuasannya untuk mendapatkan emas, dijelaskan pula bahwa Ia adalah sosok yangbengis, mutilator, suka membunuh dan pandangan buruk yang lainnya mengenai dia. Penulis merupakan titik kunci suatu sejarah yang harus diungkap kebenarannya, akan tetapi bagaimana pula nasib masyarakat yang yang masih awan akan sejarah yang disulitkan untuk mempercayai kebenaran yang mana yang tepat untuk dijadikan sumber informasi.

Banyak yang tersembunyi dari sejarah yang tersembunyi (Ahmad Mansyur, Api Sejarah). Sebenarnya banyak sekali sejarah yang benar-benar harus diketahui. Tanggapan masing-masing individu memanglah berbeda. Nah, yang jadi perbedaan disinilah yang menyebabkan kesalah fahaman terhadap keabsahan suatu sejarah yang harus dibagikan kepada yang lainnya.

Memang ironis, di tahun 2014 ini Indonesia masih dalam urutan terendah akan perkembangan para siswanya terkait dengan kepedulian terhadap sejarah. Sebagian besar dari mereka hanya mengandalkan pendengaran dari info satu ke info yang lain yang kemudian akan diserap kembali berdasarkan pemahaman mereka sendiri. Dalam fenomena ini perlu dipahami bahwasanya memperoleh informasi hanya melalui lisan, hal itu tidak akan berlangsung lama, bahkan tidak usah menunggu lama, informasi yang telah diperoleh sedikit demi sedikit akan memudar dari ingatan pendengarnya. Lain halnya jika mendapatkan pengetahuan melalui tulisan yang dipercaya dapat meningkatkan ingatan kita dan membantu untuk meningkatkan minat baca kita untuki mengetahui sejarah. Hal ini terbukti melalui firman Allah dalam Surat Huud (11( :120)) :

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Huud (11) :120)

Teks merupakan sekumpulan kata, kalimat yang diciptakan oleh penulis baik melalui imajinasi ataupun berdasarkan fakta disekelilingnya. Dengan belajar sejarah, berarti setidaknya kita telah membantu mencerdaskan anak bangsa perihal cinta terhadap budaya dan sejarah. Tanpa kita sadari bahwasanya teks dapat memanipulasi segala peristiwa bahkan isu terkini yang tengah terjadi di sekitar kita. Dari teks tersebut dapat mendoktrin pikiran kita untuk ikut kedalam permasalahan yang sedang dibahas tersebut. Tugas generasi bangsa ialah belajar untuk menjadi anak bangsa yang berliterate tinggi sehingga tidak terkesan tertinggal oleh siswa-siswa Negara lain yang memang terbukti memiliki kesadaran yang cukup tinggi akan pentingnya membaca dan menulis bagi pendidikan dan masa depan mereka.

Perlu diingat kembali bahwa bapak proklamator kita yaitu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta pernah mengatakan “membangun Negara awali dengan memulai dari membaca….” Tidak hanya membaca mengenai info-info terkini saja akan tetapi pentingnya membaca untuk memperdalam suatu kebenaran sejarah yang telah terjadi sebelumnya. Ironisnya, tidak sedikit yang mengabaikan hal ini. Kenyataan mengenani literasi anak bangsa Indonesia terbukti berdasarkan Survey Unisco yang dikutip kembali dari laman, Republika, 26 Januari 2011 yang menunjukkan bahwa “Indonesia sebagai Negara dengan minat baca terendah dibandingkan dengan Negara lain di tingkat ASEAN.” Fakta tersebut terlihat dari skor yang dicapai usia 15 tahun dalam kemampuan menyerap informasi dari teks yang dibaca. Mengenai hal ini yang mendapati argument dari Ade Irawan salah satu Anggota Koalisi Pendidikan , melalui Relis Pers, 06 Desember yang berpendapat “Dari stude tersebut, sejak tahun 2000, Indonesia selalu berada pada salah satu peringkat terendah.”

Telah banyak upaya yang dilakukan Indonesia demi meningkatkan mutu kecerdasan anak bangsa. Akan tetapi kenyataan yang ada problematika ini seringkali diabaikan begitu saja bagi sebagian masyarakat Indonesia khususnya siswa sampai mahasiswa. Padahal dengan sering membaca buku akan merubah hidup kita lebih baik. Berdasarkan artikel “Speaking Truth to Power with Books” yang memaparkan pandangannya bahwasanya buku dapat merubah hidup kita (the book changed my life). Memang benar adanya apabila seseorang gemar membaca berbagai jendela ilmu akan mudah kita serap dan pahami.

Tidak semua informasi lewat lisan itu benar. Hal ini akan menjadi kasus yang cukup fatal apabila terjadi pula pada siswa yang baru dipelajari akan pentingnya belajar sejarah sebagai sosok saksi bisu yang harus diungkap. Apabila hal ini terjadi, nampaknya para guru harus segera bergegas untuk menyiapkan beberapa buku sebagai bekal referensi tambahan beliau untuk menguatkan kasus atau sejarah apa yang hendak disampaikan kepada mereka.

Indonesia adalah Negara kaya akan sejarahnya. Mulai dari kehidupan Indonesia pada saat masih dalam penjajahan, sejarah mengenai pahlawan-pahlawan yang memiliki peran penting demi tercapainya Indonesia merdeka, hingga sejarah perubahan peradaban masyarakatnya yang beragam bahkan kasus-kasus hukum yang ada di Indonesia sampai saat ini. Namun, yang menjadi sorotan adalah dengan banyaknya sejarawan-sejarawan yang telah terbukti bahwa merekalah saksi kehidupan sebenaranya di Indonesia benar-benar dihormati oleh masyarakat Indonesia? Mengkin saja dibenak sebagian orang mengatakan yang berlalu biarlah berlalu, kini zamannya sudah modern banyak sumber yang bias diambil selain dari mereka. Tidak sepatutnya kita mengabaikan mereka karena bagaimanapun juga tanpa sejarawan kita tidak akan tahu bagaimana keadaan dunia pada waktu dulu terutama Indonesia.


Kritis dan semakin kritis. Mungkin itulah kata yang tepat bagi anak zaman sekarang. Sesekali mereka diberikan teks, maka beribu pertanyaan bahkan argument akan cepat terlontarkan dari benak mereka perhal teks yang mereka dan baca dan berdasarkan informasiyang mereka dengar. Marilah sekarang kita beranjak pada perubahan. We are united in our differences. Kita tidak dapat menyalahkan Indonesia sepenuhnya kenapa minat cinta kita sebagai generasi penerus terhadap sejarah harus dihadapkan pada posisi terendah dimata dunia.

Bagai anak itik yang selalu mengikuti induknya kemanapun induknya berjalan. Itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan anak bangsa sekarang. Nenek moyang kita yang dulunya hanya mengenal system lisan sebagai pusat untuk menyampaikan informasi atau kejadian yang telah mereka alami sebelumnya. Hal ini yang menyebabkan system lisan masih melekat kental dalam peradaban budaya anak bangsa.


Dari sekian penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa saling mengingatkan dan saling berbagi pengetahuan itu sangatlah bermanfaat. Apalagi sekarang sudah banyak orang-orang yang memang pantas dijadikan sumber untuk menggali ilmu terutama mengenai sejarah (guru, sejarawan, sastrawan, dan sebagainya). Membiasakan siswa membaca dan menggali informasi lebih lanjut nampaknya harus dilakukan sejak usia dini. Pentingnya perpustakaan di sekolah yang tersusun rapih dan menarik sehingga nyaman untuk dikunjungi dan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan minat baca anak. Sebagai seorang guru dan pengelola pendidikan alangkah baiknya meninggalkan paradigma lama dan bangun pendidikan yang modern dengan tidak melupakan pentingnya mempelajari sejarah dan pengetahuan luas mengenai peristiwa apa saja yang telah terjadi. Sejarah bukanlah sosok yang terpendam yang harus dipendam, akan tetapi sosok perjalanan terpendam yang memang harus dikeluarkan dari pendamannya. Mari kita berbicara dengan kebenaran yang ada melalui karya tulisan kita yang memang layak untuk dibaca dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya bagi para pembaca.




Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah
http://www.dnaberita.com
http://kpkbanjar.org.com
http://belajarserbaneka.blogspot.com

1 comments:

  1. fokus artikel kamu harusnya terbentuk sejak kalimat pertama digulirkan. Posisi kamu sebagai kritikus ko belum nampak ya?

    ReplyDelete