Saturday, March 1, 2014

10:13 PM
1





Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kesempurnaan tersebut dikarenakan manusia dianggap sebagai makhluk unik yang diberi akal. Tentu mengenai akal manusia ini, setiap orang memiliki akal atau pola pikir yang berbeda-beda. Manusia cenderung mempunyai pemikiran masing-masing atau sendiri-sendiri atas apa yang ditemuinya atau yang telah dialaminya. Setiap orang memang mempunyai sudut pandang dalam menterjemahkan suatu hal atau peristiwa. Itu semua merupakan hak semua orang untuk menilai segala sesuatunya, entah itu dari sudut pandang yang positif ataupun dari sudut pandang yang negatif.
Seperti itulah keberagaman pola pikir manusia yang juga dianggap unik. Namun pemikiran manusia yang berbeda-beda tersebut tidak terbentuk begitu saja, karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pikir manusia tersebut diantaranya yaitu faktor lingkungan, keluarga, kerabat, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Dari faktor-faktor tersebut ternyata buku juga dapat mempengaruhi pola pikir manusia dan dikatakan bahwa buku dapat mengubah hidup seseorang. Buku mengoperasikan dalam banyak cara untuk mengubah kesadaran seseorang, mungkin hal tersebut yang menjadikan salah satu alasan kenapa buku dapat mengubah hidup seseorang atau mengubah dunia seseorang.
Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Seiring dengan perkembangan dalam bidang dunia informatika, kini dikenal pula istilah e-book (buku elektronik), yang mengandalkan perangkat seperti komputer, laptop, tablet pc, ponsel, dan lainnya, serta menggunakan software tertentu untuk membacanya.
Buku merupakan sumber ilmu yang tak pernah kering sepanjang masa. Dari waktu ke waktu manusia haus akan ilmu, karena itu mereka membacanya untuk memuaskan rasa keingintahuannya terhadap lingkungan disekitarnya. Bahkan orang-orang menyebutnya sebagai jendela dunia, karena seluruh informasi-informasi di dunia terangkum menjadi satu didalam sebuah buku yang dapat kita baca kapanpun dan dimanapun kita berada.
Disinilah peran buku sangat penting untuk memajukan bangsa, karena dengan membaca buku-buku yang bermanfaat dapat meningkatkan kecerdasan, kreativitas, dan tanggap akan keadaan yang terjadi disekitarnya. Dengan membaca, seseorang dapat mengetahui bahkan menemukan realita atau fenomena kehidupan. Seseorang tahu atau memperoleh suatu ilmu tidak hanya dari mendengar saja, melainkan harus tahu fakta yakni dengan cara membaca teks. Oleh karena itu, kita diharapkan agar senantiasa membaca buku-buku atau bacaan-bacaan apapun yang bermutu sedini mungkin, untuk membangun karakter kita terhadap lingkungan sekitar. Apalagi dalam era modern ini kita dituntut untuk pandai berliterasi. Namun agaknya kasus ini masih belum tersosialisasikan dengan baik di kalangan masyarakat Indonesia.
Abu Bakar AI-Qaffal berkata:
Bukuku adalah sahabatku yang akan selalu menyertaiku,
Walaupun hartaku sedikit dan ketampananku sirna,
Bukuku adalah ayah dan ibuku tercinta,
Keduanya terwakili olehnya,
Walaupun ayah dan ibuku tiada.
Bukuku adalah teman duduk terbaikku yang tiada pernah bosan,
Pemandu kebenaran yang tak pernah jemu,
Pemberi berita masa lalu yang telah berjalan berabad-abad lamanya,
Seakan-akan aku melihat masa-masa itu masih ada.
Bukuku bagaikan laut yang tiada pernah habis memberi,
Yang selalu memberi harta jika hartaku tiada.
Bukuku adalah bukti atas baiknya tujuan,
Darinya aku mendapatkan bukti dan petunjuk,
Jika aku tersesat dari tujuan dia meluruskanku,
Jika akalku tersesat dia mengembalikkanku dari kesesatan.

Berbicara mengenai buku, tentu juga berhubungan dengan penulisnya. Karena dalam catatan saya kali ini membahas mengenai wacana Speaking Truth to Power with Books, yang ditulis oleh Howard Zinn. Howard Zinn dikenali sebagai antara orang terawal yang menentang perang Vietnam. Dia seorang sejarawan yang senantiasa mencabar status quo. Ia juga merupakan aktivis politik dan kritikus terkemuka terhadap Rektor Universitas Boston. Dikatakan bahwa seseorang yang Menguasai teks dapat memanipulasi atau memutar-balikkan sejarah (dunia). Hal tersebutlah yang telah dilakukan oleh Howard Zinn, sampai-sampai ia berani menuliskan sebuah buku yang berjudul A people history of United States of America melihat sejarah A.S dari sudut kiri. Zinn menganggap Christopher Columbus dan gerombolannya itu telah melakukan genocide (pembunuhan yang telah melenyapkan suatu bangsa atau kaum).
Speaking Truth to Power with Books, merupakan salah satu content dari sebuah buku Anthropology off the Shelf, yang dikarang oleh Allise Waterston and Maria D. Vesperi (2009). Speaking Truth to Power with Books ini menceritakan sebuah fakta atau kebenaran sejarah pada masa silam. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai kisah seorang penemu benua Amerika yaitu Christopher Columbus. Kisah dari seorang Christopher Colombus ini yang menuai banyak sekali versi. Menurut Howard zinn, menuliskan bahwa Christopher Colombus itu bukanlah seorang pahlawan. Dia adalah orang yang berfaham komunis. Dia juga bukan penemu benua Amerika. Dia adalah penjahat, orang yang serakah, pembunuh, dan penindas kelompok ras hitam yang ada di benua Amerika. Untuk itu Howard Zinn mengisyaratkan terhadap kita semua agar menjadi seorang pembaca yang tidak gampang dalam menerima sebuah informasi yang tidak jelas realitanya atau tidak valid keabsahannya. Howard Zinn menuturkan begitu pentingnya kebenaran yang secara realita tertulis melalui buku-buku.
Howard Zinn juga mengungkapkan mengenai kisah-kisah lainnya yang berhubungan dengan sejarah yang ditutup-tutupi kebenarannya. Howard Zinn menuliskan mengenai kisah Herman Melville, Billy Budd, dan Howad Zinn juga pernah membaca mengenai Kurt Vennegut Cat Cradle yang telah menciptakan istilah “gran – falloon“, untuk menggambarkan “a proud and meaningless association of human beings”, tapi kemudian Zinn mengatakan “but it is different book that, when I was young man, first led me to consider that we are not one great family in this country, that the idea of ourselves as a nation cleverly conceals the struggle of clashing interests for fear we might then enter that struggle knowing clearly who our friends are and who are our enemies”.
Setelah membaca tulisan mengenai Speaking Truth to Power with Books, secara garis besar menurut saya semua itu berhubungan dengan kesadaran kita ketika membaca atau ketika memperoleh sebuah informasi yang masih belum jelas keabsahannya. Dalam hal ini, kita dituntut agar tidak menelan mentah-mentah tentang informasi yang kita dapatkan. Tulisan-tulisannya mengajarkan kita akan suatu kebenaran, bahkan menurut Noam Chomsky, aktivis sayap-kiri dan dosen di MIT mengungkapkan “Tulisan-tulisannya telah merubah kesadaran satu generasi, dan membantu membuka jalan baru dalam memahami serta memberikan makna yang penting bagi hidup kita”.
Lantas bagaimana menjadi powerful reader? Dan bagaimana mengoprasikan kesadaran kita? Atau bagaimana menjadi reader consciousness? Serta bagaimana menjadi pendengar yang tidak menelan mentah-mentah sebuah informasi? Sudah jelas sekali dalam wacana tersebut dijelaskan bahwa buku dapat mengubah hidup seseorang, maka dalam hal ini buku sangatlah berperan penting atas sebuah informasi atau pengetahuan yang akan kita dapatkan, dan tentunya akan mengubah hidup kita atau pola pikir kita. Dengan buku, kita akan memperoleh suatu fakta atau kevalidan informasi, karena buku merupakan gudang ilmu pengetahuan, dan tentu semua orang mengetahui akan hal tersebut. Maka saya dapat menyimpulkan dari point-point tersebut yaitu kita jangan percaya terhadap segala sesuatunya hanya dengan berbicara, tapi harus dicari terlebih dahulu kebenarannya lewat sebuah buku-buku, karena jika kita membaca buku-buku yang lain, kita akan menemukan perspektif lain.
Menurut Pandu Aji Wirawan, penulis blog dalam kompasiana mengatakan bahwa buku merupakan sebuah proses paling cepat dalam membentuk sebuah pola pikir manusia. Pandu Aji juga memberikan sebuah contoh dalam sebuah buku yang berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, otobiografi Bung Karno yang dituliskan oleh Cindy Adams. Setelah membaca buku tersebut dikatakan bahwa banyak terjadi pro dan kontra.  Munculnya pro dan kontra yang terjadi di masyarakat dikarenakan oleh pola pikir manusia yang tidak selamanya akan dapat berjalan beriringan, pola pikir manusia terkadang saling bertentangan. Dari situlah timbul keunikan sebuah perbedaan. Dari pernyataan di atas dapat tergambarkan bahwa pola pikir atau mindset seseorang dapat langsung berubah meniru beberapa mindset Bung Karno yang cocok untuk diterapkan pada dirinya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan juga dapat merubah sebagian mindset seseorang untuk berusaha meniru semua pola pikir yang tertera dalam buku tersebut.
            Ada sebuah ujaran yang menyatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Howard Zinn mencoba untuk patahkan. Ia menuliskan bahwa Christopher Columbus itu bukanlah seorang pahlawan. Dia adalah orang yang berfaham komunis. Dia juga bukan penemu benua Amerika. Dia adalah penjahat, orang yang serakah, pembunuh, dan penindas kelompok ras hitam yang ada di benua Amerika. Dari pernyataan Howard Zinn tersebut cukup membuat saya tercengang dan ingin lebih meneliti lagi mengenai fakta-faktanya, dan dari sejumlah referensi yang saya temukan hasilnya yaitu bahwa Christopher Columbus bukanlah seorang penemu benua Amerika pertama kali. Maka dalam hal ini saya setuju dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Howard Zinn.
Selama ini kita dipersepsikan bahwa penemu benua Amerika ialah Chistopher Columbus pada 12 Oktober 1492 dan hampir setiap pelajaran sekolah pun mengajarkan demikian. Ketika pelajaran sejarah, para guru kita di SMP atau SMA lebih sering menjelaskan bahwa Christopher Columbus merupakan seorang yang berjasa menemukan benua Amerika. Bahkan dalam buku-buku modul sejarah sewaktu di sekolah pun menuliskan hal tersebut. Kita seakan-akan telah dicuci otaknya akan hal tersebut. Coba bayangkan ketika kita disuguhkan sebuah soal pilihan ganda yang tertuliskan sebuah pertanyaan “siapakah penemu benua Amerika?” Dalam pilihan ganda tersebut tercantumkan nama Christoper Columbus, maka tentu kita akan memilihnya sebagai jawaban yang dianggap benar. Begitulah kisah tragis pendidkan ini yang salah mempersepsikan tentang sejarah yang dianggap benar. Lantas kenapa isu tersebut muncul? Dan kenapa sejarah seakan-akan ditutup-tutupi? Dalam hal ini saya perlu berbagai referensi buku atau informasi untuk mengungkapkan fakta-fakta mengenai sejarah Christopher Columbus. Berikut ini adalah fakta-fakta yang saya temukan melalui jejaring sosial, internet.
            Sejarah resmi selama ini mengatakan bahwa Christopher Columbus merupakan penemu daratan luas yang kemudian disebut Amerika. hal tersebut ternyata tidaklah benar, kerena dalam sebuah informasi yang saya dapat, 70 tahun sebelum Colombus menancapkan benderanya di daratan Amerika, Laksamana muslim dari China bernama Ceng Ho (Zheng He) sudah lebih dahulu datang kesana. Bahkan seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan penuh percaya diri memaparkan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut masyhur asal China yaitu Zheng He, bersama bukti-bukti yang ditemukan dari catatan sejarah, ia menyimpulkan bahwa pelaut serta navigator ulung dari dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus. Pengakuan tersebut ia jelaskan ketika penyelenggaraan seminar oleh Royal Geographical Society di London.
            Literatur yang menerangkan bahwa penjelajah Muslim sudah datang ke Amerika sebelum Columbus, antara lain pakar sejarah dan geografer Abul Hassan Ali Ibnu al-Hussain al-Masudi (871-957M). Dalam bukunya Adh-Dhahabwa Maad al-Jauhar (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels / Hamparan Emas dan Tambang Permata), al-Masudi telah menuliskan bahwa Khaskhas Ibnu Sa’ied Ibn Aswad, seorang penjelajah Muslim dari Cordova, Spanyol, berhasil mencapai benua Amerika pada 889M.
            AL-Masudi menjelaskan, semasa pemerintahan Khalifah Abdullah Ibn Muhammad (888-912M) di Andalusia, Khaskhas berlayar dari Pelabuhan Delta (Palos) pada 889, menyebrangi lautan Atlantik hingga mencapai sebuah negeri yang asing (al-ardh majhul). Sekembalinya dari benua asing tersebut, dia membawa pulang barang-barang yang menakjubkan, yang diduga berasal dari benua baru yang kemudian bernama Amerika. Sejak itulah pelayaran menembus Samudera Atlantik yang saat itu dikenal sebagai “lautan yang gelap dan berkabut”, semakin sering dilakukan oleh pedagang dan penjelajah Muslim.
            Literatur yang paling populer adalah essay Dr.Yossef Mroueh dalam Prepatory Committe for International Festivals to Cellebrate the Milleniumof the Muslims Arrival to the America tahun 1996. Dalam essay berjudul Precolumbian Muslims in America (Muslim di Amerika Pra Colombus), Dr. Mroueh menunjukkan sejumlah fakta bahwa Muslimin dari Andalusia dan Afrika barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya 5 abad sebelum Colombus. Pelaut-pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah membuat kampung-kampung di Amerika dan berasimilasi secara damai dengan peduduk lokal disana. Mereka menikah dengan penduduk lokal, orang-orang Indian, sehingga menjadi bagian dari local-genius Amerika.
            Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu, dan mereka itulah disebut kaum imigran Muslim gelombang pertama di Amerika. pada pertengahan abad ke 16 terjadilah pemaksaan besar-besaran secara kejam terhadap orang-orang Yahudi dan Muslimin untuk menganut agama Katholik, yang terkenal dalam sejarah sebagai Spanish Inquisition. Pada masa itu keadaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katholik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut. Ada tiga macam sikap orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam dalam menghadapi Inquisisi itu, diantaranya:
1.      Yang tidak mau beralih agama. Akibatnya mereka disiksa, kemudian dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu salib.
2.      Beralih agama menjadi Katholik Roma. Mereka itu diawasi pula apakah memng berganti agama secara serius atau tidak. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu disebut kelompok Morisko, sedangkan kelompok yang berasal dari agama Yahudi disebut kelompok Marrano.
3.      Melarikan diri atau hijrah menyebrang Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudera Gelap dan Berkabut. Inilah kelompok imigran kedua di negeri baru itu.
            Maka dari beberapa fakta-fakta tersebut di atas, saya meyakini bahwa pernyataan tersebut adalah benar, karena dari sejumlah informasi yang saya dapatkan semuanya mengarah bukan pada Colombus yang merupakan penemu benua Amerika. dan tidak kita sangkal lagi bahwa penulis sejarah adalah kelompok pemenang. Sejarah-sejarah peradaban Islam banyak ditulis di masa Dinasti Abbasiyah sebagai pemenang periode pertengahan sejarah peradaban Islam. Namun di era modern ini sejarah ditulis oleh Barat sebagai pihak pemenang dan menguasai berbagai media Informasi. Namun sejarawan di masa Abbasiyah sangat jauh berbeda dengan sejarawan Barat di era modern ini. Di masa Abbasiyah sisi objektivitas dan keotentikan sejarah lebih di kedepankan dari pada sejarawan Barat. Barat yang menguasai hegemoni abad modern nyaris menutupi kelemahan mereka di abad pertengahan dan tingginya peradaban Islam di masa tersebut.
            Ada yang salah ketika para sejarawan menganggap profesi mereka sama dengan para kartografer, ujar Zinn. Pembuat peta dengan sengaja menyederhanakan realitas, menunjukkan bagian yang perlu, dan membuang bagian yang tidak penting terlihat. Itu yang membuat peta Indonesia, kepulauan kita jadi datar dan tak perlu ada gambar benua Amerika disana. Namun menulis sejarah adalah hal yang sungguh-sungguh berbeda.
            Ketika distorsi atau bias para kartografer bersifat teknis, maka para sejarahwan biasnya tiada lain adalah bias ideologis. Dalam kata-kata Zinn, setiap penekanan tertentu dalam penulisan sejarah akan mendukung sebuah kepentingan. Bisa kepentingan politik, ekonomi, rasial, ataupun nasional. Namun sayangnya dalam penuturan historis, bias ini tidak seterang sebagaimana dalam penulisan peta. Sejarahwan menulis seakan setiap pembaca mempunyai sebuah kepentingan bersama yang tunggal. Para penulis tertentu seakan lupa bahwa produksi pengetahuan adalah alat tempur dalam antagonisme antar kelas sosial, ras, ataupun bangsa-bangsa.
            Inilah kritik pedas Zinn pada Samuel Elliot Morrison sang sejarahwan Harvard yang menulis buku seminal Christoper Columbus, Mariner. Memang, Morrison tak sedikit pun berbohong soal kekejaman Columbus. Ia bahkan menyebutkan sang pelaut telah melakukan genosida pada Indian Arawaks. Namun, tulis Zinn, fakta yang tertera di satu halaman ini kemudian ia kubur dalam ratusan halaman lain yang mengagungkan kebesaran sang pelaut. Keputusan untuk lebih menceritakan sebuah heroisme fakta pembantaian masal yang terjadi pada suku Indian Arawaks bukanlah sebuah kebutuhan teknis ala pembuat peta, namun murni pilihan ideologis. Sebuah pilihan ideologis untuk menjustifikasi apa yang telah terjadi, pungkas Zinn.
            Dari semua pernyataan di atas, maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa meneliti sejarah awal masuknya Islam ke Amerika tersebut sudah pasti membuat kita semua tecengang. Ternyata Amerika yang selama ini diidentikkan sebagai pusat kekafiran, justru lebih mengenal Islam sebelum para penyebar agama lain dari Eropa menguasai negeri itu. Melalui sebuah wacana yang dituliskan oleh Howard Zinn ini seakan membuat kita sadar akan pentingnya sebuah fakta sejarah. Dalam hal ini disinggung bahwa menulis dan membaca merupakan suatu media yang dapat membuat pserspektif atau pandagan seseorang terbuka. Maka ketika kita ingin mencari sebuah fakta, haruslah dikuatkan dengan buku-buku atau bacaan-bacaan yang bermutu. Dikatakan pula bahwa ketika suara diproduksi maka akan langsung hilang pada saat itu juga kecuali jika suara tersebut direkam, ia akan bisa diperdengarkan kembali. Hal tersebut bisa diimplikasikan pada Sejarah. Sejarah jika hanya direpresentasikan melalui mulut ke mulut tanpa ditulis, ia akan hilang. Ilmu pun jika tidak diikat dengan tulisan, ia akan hilang, jadi tulisan merupakan suatu media untuk mengikat pengetahuan yang diperoleh baik melalui komunikasi verbal ( lisan ) maupun dokumental ( tulisan ).

Referensi:

1 comments:

  1. saya kan lebih tertarik kalau kamu menguraikan keterhubungan antara sejarah dan literasi sebagai praktik sosial politik yang ideologis dan selalu bias dalam konteks tertentu. Fokus mengenai topik besar, Columbus, harus dipasang sejak dari awal

    ReplyDelete